Senin, 21 Mei 2012

Long Weekend... Baca!!

Akhir pekan kali ini adalah libur panjang, dari hari kamis sampai minggu. Padahal kamis itu libur dalam rangka "kenaikan Yesus Kristus", lalu Jumatnya dibuat (dipaksa) cuti bersama buat kantor-kantor pengikut jadwal pemerintah. Saya mah seneng saja. Berhubung tidak ada rencana spesifik, jadinya saya isi dengan serabutan. Tidur dan Baca!!! Orangtua pernah bilang: kalau mau kasih kabar ke dunia yang bisa menularkan semangat saja, jadi judulnya saya cantumkan hanya kata "Baca", kata "tidur" saya urai dalam paragraf ini saja. hehe..

Ada dua buku yang rampung dibaca, saya pilih yang ringan saja, bukunya Soleh Solehun dan Biografi Che Guevara. Buku yang kedua, saya nemu di buku diskonan, cuma 15 ribu saja. Biar adil, kalau bukunya Kang Soleh, 40 ribu dan belum ada diskon. 

Biografi "Che Guevara" dan Buku "Celoteh Soleh"
Dari buku "Celoteh Solihun" saya jadi semangat lagi untuk isi blog. Biasanya, kalau ingin catat apa kata otak, saya taruh di memopad hp, kayak buku harian. Setelah baca bukunya Kang Soleh, jadi ingin pindahin catatan itu ke blog. Cuma .. saya tidak ingin terlalu banyak cerita pribadi disini. Buat saya ada beberapa hal yang tetap harus menjadi ranah private, biar tetap misteri, jadi tetap menarik. Being mysterious girl is cool. hehe.. 

Kalau bukunya Che, buat saya sih tidak ringan, sebab bicara sejarah. Saya penasaran sosok yang banyak di idolakan penganut sayap kiri ini. Secara detail saya tidak ingat, paling tidak yang saya dapati bahwa Che itu berpenyakit asma, seorang dokter yang menjadi pemimpin revolusi dengan gaya yang flamboyan dan memperjuangkan kesejahteraan bagi rakyat miskin, kelaparan, pendidikan dan kesehatan. Dan perjuangannya yang membawa Kuba sebagai negara swasembada pangan ketiga. Dengan biografi grafis, kemudian saya membaca biografinya versi wikipedia Indonesia saja (hehe.. ringan dan ga perlu terjemahan). Isinya ternyata lebih lengkap versi komik. Ditambah ingatan dari pengalaman visualisisasi, saya jadi sedikit banyak bisa mengenal perjuangannya. 

-Y-

Rabu, 16 Mei 2012

Filsafat dan Askesis

Sekitar lima tahun yang lalu, saya sering berada ditengah dua orang yang berdiskusi, saya menjadi orang ketiga yang hanya mendengarkan dan menyerapnya, jarang (bahkan tidak pernah) bertanya apalagi menanggapi. Keadaan ini berlangsung cukup rutin, hampir setiap malam kecuali akhir pekan, selama kurang lebih empat tahun. Hal yang didiskusikan sangat beragam, dari mulai pekerjaan, kegiatan harian, sains, politik, sosial, ekonomi dan agama. Kami menyebutnya, kuliah malam.

Bagi saya, membangkitkan keingintahuan itu tidak mudah, awalnya saya bisa ketiduran karena tak sanggup mengikuti diskusi bahkan kadang menganggapnya tidak menarik, kemudian lama-lama saya bisa menahan kantuk demi mendengarkan diskusi selanjutnya. Namuuuun, ternyata menjadi pengamat saja tidak cukup, maka saya berusaha membaca buku untuk dapat mengikuti alur diskusi. Dengan membaca dulu, membuat saya lebih kaya dan semangat sekali, namun rasanya kok saya makin bodoh ya. Hingga satu saat, saya punya pertanyaan yang benar-benar membuat saya merasa sangat terguncang sekaligus tercerahkan. Dan itu saya ajukan ke guru-guru saya itu, dimana mereka tidak menjawabnya, karena jawabannya mereka serahkan kembali kepada saya. 

Baiklah, itu tadi adalah latar belakang yang membawa saya menyukai filsafat, dimana jaman adanya tokoh filsuf itu sudah muncul jauh sebelum era kejayaan Islam lahir. 
--
Saya sulit menghafal mengenai sejarah filsafat, untuk mudahnya saya coba mengenal tokoh-tokoh filsafat dari buku komik “Filsuf Jagoan”, jumlahnya ada 4 seri. Sajian visual, membuat saya ringan mengenal pemikiran-pemikiran para filsuf. Kemudian, saya coba mengenal pemikiran Sokrates melalui buku terjemahan pak Iones Rakhmat yang berjudul “Sokrates dalam Tetralogi Plato”. Lalu kemudian saya membaca novel Jostein Gaarder, “Dunia Sophie”. Padahal novel ini, sudah saya kenal sejak saya di Solo lewat kawan dekat saya yang sudah lebih dulu melahapnya, sedangkan saya baru membacanya setelah 10 tahun kemudian. Bukan main berarti kawan saya itu, saat ini ketika membacanya rasanya sulit untuk mencernanya, apalagi kalau bacanya 10 tahun yang lalu :) 
--
Beberapa minggu lalu, Salihara mengadakan kelas filsafat tentang Keutamaan, tentu saja saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Dan, pengalaman mengikuti kelas filsafatlah yang membawa saya gatal untuk menumpahkan pikiran saya melalui tulisan ini.
--
Kejenuhan akan diskusi monotheistik membangkitkan kembali diskusi-diskusi filsafat sebagai ilmu dan cara hidup. Beberapa orang yang terjebak di dalam agama warisan dan memilih bersikap moderat bahkan agnostik, mungkin akan mencoba mereguk pencerahan melalui kajian filsafat untuk sekedar menghilangkan dahaga. Sebagian mungkin sungguh-sungguh mempelajarinya sebagai ilmu pengetahuan, sebagian lagi mungkin mencoba mencuplik ajaran yang masih relevan untuk diterapkan pada konteks sekarang atau sebagai pencarian kebijaksanaan. Kajian seperti ini, cukup merangsang intelektual untuk memahami hermeneutik tanpa perlu takut disalahkan jika pembahasan tidak sesuai dengan kitab suci agama tertentu. Karena filsafat bukanlah peninggalan nabi seperti Alquran yang oleh arus utama Islam diyakini tidak dapat diragukan kebenarannya.

Sedikit banyak diskusi ini memang menjabarkan hal yang normatif, namun karena dari setiap pemikiran ada penjelasan yang melatar belakangi, maka menjadi menarik. Memang tidak harus dengan filsafat untuk mendapatkan pelajaran mengenai nilai-nilai universal. Di kajian-kajian agama manapun pasti kita bisa mengambil pelajaran hidup yang disepakati seluruh umat manusia secara umum, misal: jujur, saling mengasihi dan sabar. Namun, kembali lagi ke kelas filsafat, beberapa peserta diskusi mencoba mengambil pelajarannya dengan menarik kesimpulan diskusi secara elektik atau memilih nilai yang ditawarkan yang sesuai dengan jaman ini sebagai salah satu cara hidup.
--
Menurut Epiktetos : “Yang meresahkan manusia bukan hal-halnya itu sendiri, melainkan penilaian mereka atasnya”. Pemahaman ini mungkin sudah tersebar luas, dimana kita tidak mungkin mengontrol segala apapun yang terjadi atau yang ada disekitar kita. Kita tidak bisa mengatasi apa yang ada terjadi diluar, kita tidak mungkin mem-block pikiran orang lain untuk berhenti menghakimi kita. Namun yang bisa kita lakukan adalah menilai orang lain atas apa yang mereka lakukan kepada kita, bahkan terkadang kita mengevaluasi orang lain atas apa yang tidak dilakukannya, inilah hal yang paling tidak bijaksana, dimana kita hanya menebak, berasumsi sendiri. Alhasil reaksi kita akan beragam, dari mulai raut wajah, nada bicara hingga gesture yang mewakilkan hasil kerja otak kita. Gembira merupakan reaksi yang positif, sedangkan emosi, sedih dan cemberut adalah reaksi negasi atas kenyataan yang diharapkan. Dan, sesuatu yang berlebihan, bukanlah hal yang baik.

Kita perlu menyadari bahwa kita tidak dapat mengendalikan apa yang ada diluar kita, namun kita masih dapat mengendalikan apa-apa yang tergantung pada kita, artinya apa-apa yang menyangkut pikiran kita (hasrat, dorongan, dan cara penilaian). Obyek pengendalian diri itu dapat ditempuh dengan latihan. Tujuannya yaitu untuk melatih otak mengabaikan pikiran-pikiran buruk atas apa-apa yang tidak bisa dikendalikan oleh kita, sehingga bisa menghasilkan tutur kata dan perbuatan yang sesuai dengan rasio yang bijaksana.

Mahatma Gandhi merupakan tokoh yang senantiasa bersikap tenang menghadapi tekanan yang terjadi atas diri dan negaranya. Ketenangan membawanya menelurkan gagasan yang solutif dengan cara yang bijaksana. Sekilas nampaknya seperti utopis, tapi bisa jadi ini sebuah tantangan. Coba kita lihat konteksnya di era masa kini yang menawarkan konsep demokratis, dimana semua orang bisa mengungkapkan pendapatnya.

Berbagai macam jejaring sosial dan kolom website seperti facebook, twitter dan blogspot menawarkan wadah aspiratif, tak jarang menjadikannya sebagai buku harian atau tempat hujatan atas orang lain, organisasi, lembaga atau apapunlah bisa, karena kita bisa dengan mudah mengungkapkan opini melalui tarian jemari yang gemulai diatas tombol gadget. Kita juga dengan mudah disuguhkan beragam informasi yang membuat kita tidak hanya sekedar menelannya tetapi juga menimpali dengan penilaian yang kita pahami. Contoh ekstrimnya adalah melihat/membaca fakta adanya penyerangan FPI terhadap diskusi buku Irshad Mandji yang diselenggarakan baru-baru ini dibeberapa tempat. Hal-hal ini adalah diluar kehendak kita, yang jika kita coba ikuti beritanya tak sedikit yang akan terbawa emosi. Meskipun diam, bukan sebuah solusi, akan tetapi reaksioner pun hanya menawarkan kepuasan diri, kemudian lelah, pun juga belum tentu sebagai solusi. Disini perlu latihan untuk meluruskan cara berbahasa karena ini berkaitan dengan cara kita merepresentasikan atau mengevaluasi sesuatu. Dengan Askesis (latihan), maka kita akan memiliki kebiasaan baik.

Ini pelajaran hidup buat saya, karena dalam menanggapi sebuah fakta seringkali banyak dibumbui oleh opini. Dimana opini merupakan hasil kerja otak kita dalam mengevaluasi suatu fakta. Namun tak jarang, opini-opini yang muncul akhirya mengaburkan fakta yang sebenarnya, sehingga fakta menjadi terkubur dan hanya menyuburkan opini-opini saja. Seringnya orang malah malas menggali fakta yang sebenarnya, tetapi asik mengikuti opini orang lain. Bisa jadi, ini yang sebenarnya terjadi hingga muncul segmentasi kalangan yang kita sebut dengan bigot. Ahh... saya mulai beropini lagi.

Oiya, berhubung saya bukan filsuf, berikut tulisan Epiktetos yang menarik dan seakan mengajarkan untuk tetap rendah hati, dimana temanya bisa saja ditempatkan tidak hanya tentang filsuf saja tetapi agamawan atau ulama juga bisa barangkali. “Jangan pernah mengatakan di mana pun bahwa kamu seorang filsuf, dan jangan mendiskusikan terus menerus di depan orang profan (vulgar) tesis-tesis filosofis, melainkan lakukan apa yang dikatakan tesis-tesis tersebut. Lebih baik banyak-banyaklah diam. Jadi, jangan menunjukkan kepada kaum vulgar tesis-tesis filosofis, melainkan tunjukkanlah karya-karyamu hasil dari pencerahanmu atas tesis-tesis tersebut".

Demikian tadi, kira-kira yang saya dapat dari kelas filsafat yang dibawakan oleh Bapak Agustinus Setyo Wibowo tentang Stoikisme: Keutamaan melalui Askesis. Semoga berguna.

-Y-

Minggu, 13 Mei 2012

Pengenalan Standarisasi

Filosofi Standarisasi

Tanggal 12 Mei 2012, saya mengikuti pelatihan tentang standarisasi atau kita kenal dengan ISO (the international organization for standardization) yang disampaikan Bp. Koeswidijono, dosen dan Internasional Auditor. Motivasi mengikuti pelatihan adalah untuk mengenal dan memahami ilmunya sekaligus tadinya meluaskan jaringan, hehe.. ternyata kelas hanya diikuti oleh sembilan peserta. Lumayanlah.

Maksud hati menulis saat ini adalah untuk merapikan catatan di kertas yang ga karuan dan memindahkan ke blog supaya saya bisa baca-baca lagi sewaktu-waktu. Tapi tentu saja tidak akan sama persis seperti yang disampaikan Bapak pengajar, karena hal yang saya tuangkan hanyalah sepenangkapan saya saja dan yang tentunya bagi saya menarik.

Standarisasi dibentuk dari gagasan sebuah badan internasional yang menangani peraturan perjanjian untuk jual beli barang/jasa yang melibatkan lintas negara dalam sebuah wadah yaitu World Trade Organization (WTO) pada tahun 1994. Hingga kini, anggota WTO terdiri atas 155 negara. Tujuan negara menjadi anggota WTO adalah ikut dalam peraturan internasional sehingga terjadi pertukaran barang dan jasa dari dalam dan keluar negara yang dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa. Kira-kira begitu. Sebagai badan institusi internasional, WTO bertugas membuat perjanjian multilateral yang meliputi perdagangan barang, sektor jasa/pelayanan, dan hak properti intelektual. Untuk perangkat peraturan perjanjian yang akan disepakati negara anggota mengenai pertukaran barang disebut dengan GATT (General Agreement on Trade & Tariff), sedangkan tentang jasa di atur dalam GATS (General Agreement on Trade in Services). Dalam konteks pelatihan ini sedikit lebih jauh membahas GATT karena terkait dengan standar mutu untuk produk.

Sebelum berlaku GATT, negara importir memiliki kewajiban untuk membayar bea masuk ke negara tujuan sebesar 0-5-14%. Hal ini memberatkan importir, namun memberi keuntungan bagi negara tujuan dari pendapatan tambahan bea masuk tersebut. Namun, setelah menyepakati GATT, maka berlaku Free Trade Area dimana terjadi eliminasi tarif masuk serta kuota impor. Dengan aturan ini, maka negara mana pun bebas mengirimkan barangnya di Indonesia. Hal ini menjadi ancaman negara, artinya jika modal lebih banyak dari luar negeri sementara pengusaha domestik sulit mendapatkan modal usaha, maka yang terjadi adalah penjajahan barang secara gencar ke dalam negeri. Dengan demikian maka pengusaha dan negara kita akan semakin terpuruk. Namun untuk mengantisipisi hal ini (yang bisa saja terjadi dengan negara berkembang lainnya), maka ada sebuah technical barrier to trade, artinya ada syarat yang secara teknis menentukan spesifikasi suatu produk yang bisa diperdagangkan di suatu negara. Dalam hal ini, Indonesia menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang harus dilaporkan ke WTO, kemudian WTO akan mengumumkan kepada seluruh anggota WTO mengenai standar itu, sehingga kesempatan perdagangan diberikan sama kepada semua negara yang dapat memenuhi SNI.

Bisa bayangkan betapa pentingnya SNI di sini. Untuk mecegah penjajahan baru maka persaingan menuntut negara untuk mengerti cara internasional dan harus bisa bermain sama canggihnya atau ilmu harus berimbang dengan mereka, kira-kira ini inti yang disampaikan Pak Fadel Muhammad kata Pak Koeswidijono.

Buat saya, uraian diatas menarik sebagai filosofi gencarnya orang menaikkan mutu produk, dan ini hal baru buat saya. Padahal dengan baca situs WTO, mungkin orang sudah bisa menangkap ya, tapi saya ya gini.. kudu ikut pelatihan dulu baru 'dong' (sleng Jawa artinya ngerti). hehe..

Definisi "Standar"

Standar adalah diawali dari sebuah pedoman yang dirumuskan oleh badan "Legislatif" yang diterapkan oleh "Eksekutif", kemudian diawasi oleh badan "Yudikatif", hasil dari evaluasi diperbaiki atau diterapkan kembali oleh "Eksekutif".

Siapakah aktor dari definisi "standar" diatas:
  • Legislatif = Tingkat Internasional adalah ISO; Tingkat Nasional adalah BSN. Standar yang dikeluarkan BSN adalah mengadopsi/terjemahan dari ISO. 
  • Eksekutif = Tingkat Internasional adalah WTO; Tingkat Nasional adalah menteri teknis dan pengguna/industri. 
  • Yudikatif = Tingkat internasional adalah International Acreditation Forum, ILAC; Tingkat Nasional adalah KAN, dibawah KAN ada sejumlah lembaga-lembaga sertifikasi (mutu, lingkungan, SNI, Lab), dimana lembaga sertifikasi dapat melakukan sertifikasi terhadap organisasi/perusahaan. Lembaga sertifikasi mendapat akreditasi dari KAN. Antara tingkat internasional dan nasional dijembatani oleh Mutual Recognition Agreement (MRA). 
Ketika diajarkan ditampilkan dalam bentuk bagan, namun saya hanya bisa menampilkan dalam bentuk deskripsi seadanya. Jadi mohon maaf.

Tingkatan Standar ada lima:
  1. Internasional = antara lain: ISO, IEC (International Engineering Consortium). 
  2. Regional = antara lain: European Union, ASEAN. 
  3. Nasional = antara lain: SNI, JIS (Japan Industrial Standard). 
  4. Asosiasi 
  5. Organisasi = sepertinya NGO tempat saya bekerja bergerak di tingkat ini. Hemm.. menarik bukan.. saya jadi tahu sedikit tentang posisi organisasi tempat saya bekerja. 
Jenis Standar ada lima:
  1. Standar sistem = misal ISO 9001: 2008, ISO 14001:2004. 
  2. Standar produk 
  3. Standar uji 
  4. Standar kalibrasi 
  5. Standar inspeksi 
Nahh.. segitu aja yang saya tangkap.. selebihnya pembahasan dalam tentang ISO 9001: 2008 (manajemen mutu), ISO 14001:2004 (sistem manajemen lingkungan), dan OHSAS (keselamatan kerja). Oiya.. saat ini setiap industri akan mengikuti ISO mutu karena tentu biar produknya bisa beredar di pasaran. Sedangkan isu lingkungan nampaknya menjadi perhatian bagi industri minyak, gas dan pertambangan.

Untuk isu keselamatan kerja, dibangun dari riset yang menunjukkan fakta bahwa pekerja yang tewas dalam setahun baik secara langsung atau akibat dari terpajan zat beracun yang pelan-pelan merenggut kesehatannya, ternyata lebih banyak dari korban perang. (Fakta ini berdasarkan uraian dari pengajar, saya belum sempat mencari sumber tertulis). Badan yang concern terhadap isu ini adalah International Labour Organization (ILO). Di Amerika nampaknya sudah mengatur dengan detail mengenai isu keselamatan kerja, misal: aturan kompensasi jari yang terpotong, cacat permanen, dll, yang nampaknya negara kita belum menaruh perhatian sedalam itu.

Saat ini, tren perdagangan internasional akan mengintegrasi ketiga isu menjadi satu komponen. Pemerintah masih berusaha memenuhi manajemen mutu di setiap lini industri di dalam negeri, hal ini terkait dengan kesiapan pengusaha dalam memenuhi standar sekaligus terkendala modal dan hitung-hitungan keuntungan yang adil, adil bagi pemilik modal dan kewajiban pemenuhan kesejahteraan karyawan. Sedangkan isu lingkungan, mulai ramai disosialisasikan dan diimplementasikan karena masyarkat dunia mulai melirik manfaat dari mendukung usaha yang ramah lingkungan. Selanjutnya Pe-Er berat adalah memanusiakan pekerja. Bagaimana para eksekutif dapat mengintegrasikan ketiganya dan menjadi win-win solution, nampaknya akan menjadi tugas yang sangat berat bagi negeri ini. Salam..

NB: Btw, pelatihan ini juga ada materi pengenalan menjadi auditor (mutu, lingkungan), dimana menjadi auditor harus sesuai dengan kompetensi, misal saya latar belakang pendidikan adalah kajian lingkungan, maka saya bisa jadi auditor internal atau eksternal dalam bidang lingkungan. Hal detail yang sebaiknya selalu diingat auditor adalah ingat jam, ingat tanggal, ingat peristiwa. Dan yang kebayang dipikiran saya adalah menjadi detektif, entah mengapa.

Selasa, 06 Maret 2012

Liburan ke Bali

Dulu ketika kuliah, punya sepatu bermerek dan (bagi saya) mahal, rasanya seperti mau terbang, percaya diri tumbuh seakan-akan posisi sosial saya ikut terangkat. Berasa senang banget, tapi terus menurun dan pudar. Lalu punya satu sepatu berasa kurang, inginnya punya lagi dengan merek yang lebih mahal dan lagi. Lama kelamaan, semua sepatu cuma jadi onggokan barang yang tidak lagi memberi kebahagiaan. Itu baru sepatu, sama halnya terjadi dengan membeli baju, tas, jam dan handphone. Perasaan bahagia hanya ketika kesatu atau kedua kali memakai barang-barang itu, kemudian perasaan bahagia itu menurun dan kembali stabil seperti semula. Lalu mulailah mencari-cari lagi barang-barang itu dalam model baru untuk membuat saya kembali bahagia. Ini yang disebut dengan hedonic treadmill.


Rupanya barang yang saya miliki tidak memberikan kebahagiaan yang permanen, tidak seperti ketika saya punya pengalaman ke Baduy Dalam yang ditambah lagi saya pergi dengan rombongan peserta yang baru saja saya kenal di Rangkas. Jadilah pengalaman itu membuat saya selalu bahagia ketika mencoba mengingatnya atau ketika coba untuk berbagi cerita dengan orang lain. Barang dan pengalaman yang digunakan untuk mendapatkan rasa bahagia tidak datang dengan sendirinya, keduanya butuh modal, antara lain: Uang. Untuk menggunakan uang demi meraih kebahagiaan, maka saya lebih memilih membeli pengalaman. 



Kenapa barang tidak memberi kebahagiaan? karena kerja otak kita yang fundamental yaitu habituasi. Habituasi adalah menurunnya respon refleks tingkah laku terhadap stimulus jika stimulus diulang-ulang dan tidak memberi efek yang berbahaya. Nah, kira-kira ini yang membuat saya mengerem-ngerem membeli barang-barang up to date dan memilih untuk berencana pergi ke suatu tempat saja. 


Tahun ini memang saya berencana berlibur, daaan... kebetulan sebuah door price di suatu acara pergantian awal tahun ini yang membuat saya tidak usah memilih tujuan tempat, karena tiket Garuda sudah tertulis untuk jatah dua orang menuju pulau Bali. Mulailah saya dan suami menyepakati waktu yang pas disela-sela kesibukan kuliah dan kerja suami, sambil browsing tentang informasi tips Bali trip, tempat wisata, hotel murah, dan sewa mobil. Kami memilih sewa mobil karena sulitnya angkutan umum di Bali, mahalnya tarif taksi jika banyak tempat wisata yang ingin kami kunjungi, dan menghindari risiko kecelakaan jika menggunakan sepeda motor. 


Berikut ini saya akan berbagi pengalaman perjalanan kami termasuk biayanya, karena banyak yang berpikir sewa mobil dan liburan di Bali mahal dan sulit. Sekaligus, mungkin bermanfaat bagi teman-teman yang juga ingin berlibur ke Bali tanpa menggunakan pemandu wisata atau sopir sewa. 

1. Sewa Mobil


Sewa mobil di Bali sangat mudah, saya cukup memesannya lewat email sehari sebelumnya dan besok siang mobil sudah ada di hadapan (pemilik mobil sewa memberikan mobilnya di bandara-tinggal telpon-telponan saja untuk ketemu). 

Saya sewa estilo untuk 2 hari (2-4 maret 2012), biaya perhari 185.000 dan 25.000/jam untuk overtime, ini termurah dari yang pernah saya browsing. 

Untungnya lagi, pada hari H-nya, yang datang adalah avanza karena estilo sudah habis dipesan, namun bayaran tetap dengan harga estilo. Cukup SIM C saya sebagai jaminan, saya dan suami bisa keliling Bali bermodal GPS di hp, perjalanan pun terasa nyaman.


2. Ayam Betutu Khas Gilimuk

Pesawat mendarat tepat jam makan siang, tujuan di Bali pada hari pertama adalah mencoba makanan khas Bali yang enak dan terkenal, Ayam Betutu Khas Gilimanuk.


Lokasi: Jl. Raya Tuban. 


Rasanya yang pedas dan gurih memberi sensansi kenikmatan yang luar biasa bagi perut yang lapar. Ini adalah awal kebahagiaan di Bali. hehe..


3. Dreamland



Setelah makan siang, kami menuju Jimbaran karena pantai Kuta sudah pernah saya kunjungi tahun lalu sendiri. Di Jimbaran kami menjajal beberapa pantai, disebut dreamland. Sayangnya untuk masuk ke pantai tidak gratis seperti di Kuta.

Tarif Dreamland 15.000/mobil.

Meskipun cuaca terik dan pasir terasa hangat di kaki, namun aroma pantai dan angi n laut begitu mendamaikan kalbu, dan pasir putih yang halus, sesekali menenggelamkan beberapa jemari kaki.









4. Rockbar


Kami hanya menghabiskan waktu setengah jam di dreamland, lalu melanjutkan ke pantai Jimbaran untuk menikmati sunset, (atas rekomendasi teman) kami menuju Rock Bar, kurang lebih setengah jam dari deamland.

Wow... pemandangan pantainya indah banget dari bar ini, meski terkesan hedonis tapi kayanya layak dicoba bagi para pemburu sunset, sayangnya pas bagian saya, nimbus tebal menutupi sunset.

Sebaiknya datang sebelum jam 4 karena antrian orang yang mau ke bar bakal panjang menjelang sore, dan untuk harga minuman terbilang mahal (mulai 80.000an), tapi cocoklah dengan tempatnya. Kalau untuk photo-photo aja sih sebenernya cukup di capelnya atau disekitar Ayana Resort, cumaa.. demi pengalaman, sekali-kali bolehlah mencobanya.

4. Dinner di Pantai Jimbaran

Selesai dari Bar, kami memilih makan malam di pantai Jimbaran sambil menghabiskan malam pertama di Bali sebelum kami mencari hotel. Di sepanjang pantai, berjejer meja dan kursi mengahadap pantai yang dilengkapi dengan lilin karena bulan mulai menggelayut di langit. Gelap tidak mengurangi rasa ini untuk menikmati sepoi angin pantai yang syahdu, ditengah riuhnya canda tawa para pelancong, sembari beberapa anak bule memainkan senter dan laser-laserannya, serta hidangan yang enak, adalah nuansa yang melengkapi malam kami untuk menutup hari.

5. Penginapan di Kuta



Setelah makan malam selesai, kami mulai mencari hotel. Bagi saya, cukuplah hotel yang dilengkapi AC dan air hangat. Sengaja saya tidak memesan terlebih dahulu, karena untuk kawasan wisata kemungkinan besar mendapat hotel murah dengan fasilitas yang nyaman akan tidak sulit dengan kompensasi lokasi yang agak jauh, karena ada mobil sewaan, maka jauhnya lokasi tidak menjadi kendala.

Harga hotel walk-in dan pesan biasanya berbeda, jadilah kami dapat hotel di daerah Kuta seharga 425ribu, mungkin kalo pesan dulu bisa 300-350ribu. Hotelnya nyaman, sebenarnya ada beberapa bungalow disekitarnya dengan harga yang lebih murah, namun pilihan kami lebih suka memilih hotel untuk saat itu.

6. Sarapan Ayam Plengkung

Sengaja kami tidak sarapan di hotel karena ingin menikmati Plengkung di Jl. Raya Kuta. Ini makanan khas Jawa Timur, rasanya maknyuuuuus banget. Lalu perjalanan dilanjutkan.

7. Goa Gajah


Goa Gajah
Tujuan hari kedua adalah Ubud. Bermodal GPS di handphone, dengan waktu kurang dari 2 jam kami sudah melewati pasar Ubud dan menuju Goa Gajah

Harga tiket masuk 15.000/orang bonus peminjaman kain, karena saya memakai rok pendek, maka demi menghormati budaya setempat, sang petugas memakaikan saya kain tersebut. 

Ada yang manarik disini, mungkin tidak semuanya engeh (tau) ada beberapa tempat meditasi di dekat goa gajah, karena papan hanya bertuliskan tanda panah "go to temple", tanpa informasi nama temple dan jaraknya, itupun papannya dituliskan dengan spidol bukan informasi resmi.



The Temple
Untuk menuju tempat tersebut, menggunakan jalan setapak, sebaiknya berhati-hati karena jalanan licin, berbatu dan curam. Kurang lebih 1 km jaraknya. Untuk sampai ke sebrang sungai, saya dibantu oleh mbak Eny (seorang pedagang minuman ditengah hutan). Jika tidak ada beliau, saya yakin saya tidak tau caranya sampai ke seberang sungai dan akan langsung kembali ke Goa Gajah.



Cave for Meditation
Mbak Eny memakai kaos lusuh dan robek dibagian pundaknya, memakai kain sebagai rok, dan sendal jepit. Bukan setelan pemandu wisata, tetapi dari ceritanya, saya pikir beliau sudah banyak membantu memandu wisatawan yang hendak menyebrang sungai. Karena dibalik sungai, ada beberapa keindahan yang sudah terekam di otak ini. Air terjun dan goa-goa meditasi dilengkapi track perjalanan yang menantang. Well, ini dia tentang Goa Gajah.


8. Museum Blanco

Selanjutnya, kami menuju Blanco Museum di Tjampuhan. Museum yang berisi koleksi lukisan Antonio Blanco, menghanyutkan pikiran dan imajinasi saya tentang berbagai hal. Kekagetan dan kagum akan keindahan lukisan erotika beliau. Dan saya baru ngerti, bahwa beberapa dekade lalu, perempuan Bali hanya menggunakan penutup bawah tubuh saja, a.k.a bertelanjang dada dalam beraktivitas sehari-hari. Inilah budaya. Lalu baru setelah turis banyak berdatangan ke Bali, mereka mulai menutupi keindahan tubuhnya.

9. Penginapan Bungalow Puri Ulun Carik

Kami lanjutkan mencari penginapan di jl. Monkey Forest, Puri Ulun Carik bungalow .

Tarif: 350.000 rupiah/malam.

Jika budget terbatas untuk penginapan, anda bisa menanyakan kepada petugas hotel harganya, maka mereka akan menjawab dengan sopan meski anda hanya sekedar bertanya. Lokasi hotel dekat dengan pasar Ubud, dan karena jalur pejalan kakinya dibuat nyaman, maka kami menghabiskan malam menikmati Ubud dengan berjalan kaki.

10. Dinner at Casa Luna

Lalu, makan malam di Casa Luna. Tentu saja hidangan makanan dan minumannya sangat lezat, karena dari menunya kami dapati informasi menu kelas memasak yang menjadi agenda pemiliknya. Harga makan+minum mulai dari 60.000/orang.

11. Gelato di Jl. Monkey Forest

Setelah selesai menikmati makan malam, kami kembali berjalan kaki menuju penginapan. Namun sebelumnya, kami mencuci mulut dengan gelato yang terletak di jl. Monkey Forest per scoop 20ribu. Saking banyaknya turis, petugas gelatonya nanyanya pakai bahasa Inggris loh. hehe.. keren juga.

12. Monkey Forest

Tiba hari terakhir kami di Bali. Sebelum meninggalkan Ubud, kami mengunjungi Monkey Forest.

Harga tiket: 20ribu/orang.

Bagusnya kami datang masih pagi, jadi keliatannya monyet-monyet masih pada ngumpet di dalam hutan atau mungkin masih tidur. Melihat indikasi monyetnya rada liar dan berani, kami urung melanjutkan ke hutan yang lebih dalam. hehe.. ini menghindari risiko saja. Cukup bagi saya menikmati pemadangan beberapa monyet berkejar-kejaran, menghampiri saya sambil mencoba mencari sesuatu dikantong saya (yang membuat saya pucat), dan melihat kehijauan hutan yang rimbun dan sejuk. Setelah tidak begitu lama, barulah kami melanjutkan untuk mencari oleh-oleh.

13. Legian dan Pantai Kuta

Karena kami mengambil penerbangan sore, maka kami habiskan untuk makan siang di legian dan jalan-jalan ke pantai Kuta. Karena ga niat berjemur, jadi ya kostum seadanya, kurang mini.. alhasil kulitnya setengah mateng. hehe.. meski demikian, sapuan angin pantai dan hangatnya sinar mentari di wajah dan tubuh ini memenuhi kebahagiaan saya untuk menikmati alam, sensasi keindahan panorama.


--

Setelah membeli oleh-oleh sekedar berbagi kebahagiaan kepada orang-orang terkasih, kami pulang dan kembali kepada peran semula dan tugas masing-masing, namun tentunya pengalaman menyenangkan itu tetap menetap di benak ini, dan kami siap untuk pengalaman selanjutnya... 

-Y-

Senin, 16 Januari 2012

.... (..bingung nulis judul)..

Kalau saya tulis judul tulisan ini "Filsafat", kesannya saya jago banget ya. Padahal saya cuma suka topik filsafat yang ringan saja atau suka kalau paham soal hakikat dan ingin membahas ketertarikan saya soal filosofi. Jadilah saya bingung menulis judul, karena saya memang tidak tahu judul apa agar tidak terkesan sok tahu.
--
Saya mulai tertarik tentang ilmu filsafat sejak kuliah beberapa tahun lalu. Karena pelajarannya baru untuk saya dan dosennya pun unik. Seingat saya yang getol memperhatikan dan menanggapi ya.. saya.. dari 11 mahasiswa yang mengikuti. Kebetulan saya koordinator mata kuliah ‘Filsafat Lingkungan’, sepengamatan saya, ya.. mata kuliah ini yang kurang diminati dan didiskusikan, jadilah saya semangat sendiri mengajukan pertanyaan ke dosen yang selalu salah menyebut nama saya, ‘Yuna’.

Meskipun saya tertarik, namun derajat mendalaminya tidak seperti teman-teman yang memang mengikuti disiplin ilmu ini secara serius. Saya hanya sekedar ingin tahu, dan membaca apa yang menarik untuk saya. Pertanyaan yang kerap muncul ketika mengenal filosofi adalah kenapa/mengapa. Misalnya antara lain: kenapa saya harus mempelajari ilmu lingkungan? Kenapa saya harus bekerja? Kenapa saya harus patuh pada orangtua? Kenapa saya harus solat? Kenapa saya harus hidup?

Beberapa pertanyaan lain ikut muncul, padahal sebelumnya saya tidak berani untuk menanyakan kepada diri sendiri. Menjalankan hidup yang pragmatis saja dengan segala ritual dan tradisi yang ada, tanpa berani bertanya apalagi mempertentangkannya (setidaknya terhadap diri sendiri). Ini terkait dengan keyakinan, untuk membentuk keyakinan maka butuh pengetahuan umum agar persepsi saya cukup kuat akan suatu pandangan, kemudian ketika saya cukup memahami alasan dibalik tindak tanduk kegiatan yang saya lakukan, barulah saya nyatakan yakin. Namun keyakinan ini berfasa cair artinya tidak tetap dan dapat berubah seiring dengan pengetahuan yang mendasarinya. Yah, bukan berarti tidak berpendirian, namun saya sadari ini adalah proses konsepsi. Dengan demikian, saya merasa cukup puas dengan jawaban sementara, meskipun besar kemungkinan keyakinan tersebut berubah entah untuk kapan.
--
Bagi saya menjemukan jika terlalu serius membahas filsafat yang terlalu berat, cukuplah bagi saya mengetahui filosofi secara universial. Jadi hidup bisa penuh makna, tidak sekedar saja. Mungkin bisa dikatakan bahwa ini adalah alasan pembenaran diri sendiri, atau salah satu cara saya untuk membahagiakan diri. Mungkin benar, karena masing-masing orang punya cara sendiri untuk membuat dirinya bahagia. Atau mungkin juga salah, karena terkadang saya tidak selalu happy dengan jawaban yang saya dapati apalagi bertentangan dengan apa yang saya harapkan.
--
Kalau terlalu serius kok kedengarannya membosankan ya. Kemarin saya nguping seorang bapak berseloroh: “udah tua begini, ya ndak usah mikir yang berat-berat seperti mikir politik, korupsi. Bikin mumet saja. Mending mikir porno, enak toh, iso ngguyu dewe, ndak mumet, ndak nyusahin orang”.
Hehe.. saya jadi senyam-senyum sendiri. Ringan sekali kedengarannya, karena terkadang kalau membaca dan membahas dengan teman-teman misalnya tentang korupsi atau soal pembatasan BBM bersubsidi, kok kayaknya hanya berakhir di meja diskusi saja tanpa ada perubahan apapun. Tapi, bukan berarti saya jadi mau kayak bapak itu loh ya, berpikir porno biar bisa senyam-senyum. Saya tetap milih ingin tahu tentang korupsi sajalah, daripada jadi ndak tau apa-apa.
--
Beberapa waktu lalu, teman saya meminjamkan buku yang isinya pertanyaan filosofi berjudul "Do You Think What You Think You Think’. Selain karena sulitnya mencerna pernyataan filsafat dalam bahasa Inggris, saya pun kesulitan berlogika dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada dibuku tersebut. Alhasil, pada bab pertanyaan ke-4 saya sudah keblenger. Ternyata untuk berfilosofi butuh logika yang kuat dan saya kurang canggih dalam hal ini sehingga saya butuh lebih mendalaminya. Sampai saat ini, saya masih dalam proses menyelesaikan pertanyaan dibuku tersebut. Jika merasa ingin tahu, maka ini merupakan salah satu gairah hidup buat saya.
--
Biasanya setelah saya puas mendapat jawaban atas pertanyaan dipikiran saya ini, kemudian saya ingin membaginya dengan yang lain. Misalnya, dulu ketika saya selesai membaca 7 buah buku nonfiksi karya Agus Sunyoto berjudul “Suluk Abdul Jalil”, lalu saya ingin mengajak orang lain untuk menikmati perjalanan batin yang sama dengan saya. Tentunya cenderung mustahil, karena belum tentu orang lain yang membacanya akan merasakan kenikmatan yang serupa dengan saya. Kecuali, ketika saya menemukan teman-teman yang memiliki kesamaan pertanyaan dan beberapa bacaan yang membahas topik serupa. Maka dengan asyik, saya dapat membahas pertanyaan-pertanyaan yang bagi sebagian orang masih dianggap tabu atau tidak wajib dipertanyakan (a.k.a dogma).

Tidak jarang dari sebuah pertanyaan akan muncul pertanyaan lain. Kok jadi seperti kalimat abstrak ya. Beda dengan ilmiah yang memiliki jabawan pasti. Tulisan saya kali ini sangat tidak terstruktur, hanya menumpahkan apa yang ingin saya tuangkan. Hal ini pertanda pikiran saya kacau, dan harus sering menulis. Well… memang pikiran saya ini tidak dapat menampung seluruh pertanyaan dan pernyataan, jadilah sebagian tersalurkan melalui jemari dan menjadi apa yang sedang anda baca saat ini. Terima kasih :)

-Y-

Rabu, 09 November 2011

Faith (keimanan, keyakinan dalam beragama)

Saya bukan ingin berbahasa Inggris, cuma ingin mengurai beberapa artinya. Kalau dari kamus oxford, faith kira-kira artinya keyakinan yang kuat pada sebuah doktrin agama, didasarkan pada keyakinan rohani atau pengalaman spiritual, bukan didasarkan pada bukti-bukti. Sedangkan di KBBI daring, keyakinan atau keimanan adalah kepercayaan yang sungguh-sungguh atau keteguhan hati yang berkaitan dengan agama.

Bisa lihat bedanya ndak? Mengapa kalau di kamus luar negeri, ada tambahan bahwa iman itu dasarnya hanya yakin, bukan karena ada bukti-bukti seperti ilmu. Mungkin karena keimanan atau keyakinan di negeri kita masih merupakan hal yang tabu untuk jadi bahan pembicaraan umum. Atau mungkin karena masyarakat kita yang terlalu sensitif, jadi kalau ngomongin isu yang berbau agama seperti kebakaran jenggot. Pasalnya karena biasanya orang merasa keyakinan agama yang dianutnya adalah yang paling benar, sehingga kalau ada orang lain yang berbeda keyakinan maka membuatnya jadi tidak nyaman dan ingin meluruskan sesuai persepsi keyakinannya.


Urusan lurus meluruskan keyakinan ini tidak hanya terjadi lintas agama loh, tapi juga dalam agama yang sama. Kalau dalam beda agama sangat wajar terjadi karena adanya perbedaan yang jauh. Tapi seringnya dalam satu agama yang sama, adanya beda persepsi terkait ritual atau ibadah menjadi hal yang mengusik realitas. Misalnya: Si A merasa imannya paling benar, sehingga kalau si B yang satu agama itu tidak menjalankan solat atau puasa seperti yang umumnya katanya umatnya banyak melakukan, maka si A merasa perlu membenarkan si B.

Rasa percaya itu sulit dipaksakan. Kalau hanya modal yakin saja, maka masing-masing orang tidak bisa membuktikan bahwa keimanannya benar atau salah. Karena latar belakang, daya tangkap, kognitif yang berbeda, maka pasti persepsi masing-masing orang pun berbeda. Lain halnya dengan ilmu, dari berbagai kalangan dapat percaya karena dasarnya adalah fakta bukti yang menguatkan sebuah teori atau hukum.

Karena agama masih tabu dan sensitif untuk dibicarakan, maka kecenderungan kita akan lebih nyaman membahas isu agama kepada orang yang satu pemahaman. Jadilah pikiran semakin sempit dan sulit menerima perbedaan. Namun jika dilakukan sebaliknya, maka semakin membuka pandangan bagi kita bahwa perbedaan adalah hakiki dan keniscayaan.

Ajaran agama yang kita yakini saat ini adalah proses dari pemahaman dan perjalanan panjang dari pengalaman spiritual yang telah dialami dari masing-masing individu. Dimana masing-masing dari kita akan memiliki ekstase dari spiritualisme yang sifatnya personal, khas dan berbeda dengan yang lain. Karena umumnya, religiusitas dan spiritualisme itu bertujuan agar manusia merasa nyaman dan damai. Namun keyakinan akan suatu kebenaran agama itu tidak selamanya sama. Hal ini dapat berubah, meskipun dalam perjalanannya membentur gairah keimanan atau saya sebut 'mengguncangkan iman' hingga akhirnya merasa sangat tercerahkan atau mungkin malah sangat skeptis (ragu). Tapi itulah hidup, bagi mereka yang merasa tertantang untuk selalu mencari kebenaran akan keyakinan yang dianut, maka kebenaran bukanlah akhir tujuan hidup melainkan sebuah perjalanan yang sedapat mungkin selalu dinikmati.

Mengajak atau Ekshibisionisme?

Hal lain yang saya amati adalah adanya internet dan media telekomunikasi membuat ibadah dan keyakinan yang bersifat personal menjadi tidak demikian. Sebab orang dengan mudah dapat menunjukkan atau (berniat) mengajak orang lain untuk mengalami pengalaman spiritual yang dialaminya. Jadi privasi itu batasannya dimana ya? Broadcast yang masuk ke pesan pribadi, belum lagi di grup jejaring sosial yang juga dijejelin pesan ga bertanggung jawab.

Keyakinan dan perilaku ekshibisionisme akan pengalaman agama tidak mengapa selama tidak merugikan dan mengganggu orang lain, karena mengganggu itu sifatnya subyektif dan tidak jelas definisinya. Jadi sah-sah saja. Cuma saja, karena menurut saya keyakinan dan beribadah itu private dan personal maka saya kok lebih suka ayat yang kira-kira isinya begini ya: Allah lebih menyukai orang yang menyembuyikan ibadahnya (Al-Baqarah 271).

Selamat berkeyakinan dan selamat beribadah!!

-Y-

Minggu, 14 Agustus 2011

Renungan Minggu


Mencerap yang disampaikan Ibu Musdah Mulia pada acara pembukaan TEDxJakarta kemarin, saya jadi ingin menyuarakan pikiran saya.
--
Apakah masih penting beragama sekarang?
Jika atas nama agama, manusia hujat menghujat. Jika atas nama agama, manusia membom dan membunuh. Jika atas nama agama, manusia tega melakukan kekerasan sesama manusia. jika atas nama agama, manusia melarang hak umat lain untuk beribadah. Apakah ini yang ingin menjadi produk dari manusia-manusia beragama.
--
Tentunya tidak sesinis itu. Karena tidak semua umat beragama melakukan hal buruk tersebut. Banyak klaim bahwa beragama meluruskan moral, kesantunan, kedisiplinan dan kasih. Namun, tidak berarti perilaku baik itu hanya dimiliki umat beagama, karena orang atheis dan agnostic, katakanlah tidak sedikit kaum sekuler yang lebih menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
--
Disini saya tidak untuk membandingkan mana yang lebih baik antara beragama dan sekuler. Tentunya hal ini terbentuk tidak sendirinya, ada sejarah dan evolusi panjang yang membentuk manusia hingga memutuskan untuk memilih salah satu jalan dalam kehidupannya.
--
Kebetulan saja, saya disini, di negara yang mayoritasnya beragama dan seluruh warga terpaksa harus memilih salah satu dari 6 agama yang harus dianut. Lalu bagaimana dengan temen2 yang memang menganggap agama itu tidak penting? Apakah mereka jadi tidak memiliki tempat di negri ini? Memang dunia tidak selalu adil.
--
Negara ini sangat majemuk, antara lain keyakinan, suku, ras dan latar belakang. Keyakinan yang dianut sesama muslim saja berbeda. Lebaran yang berbeda hari sudah umum di sini. Tapi ini fenomena biasa, banyak yang memaklumi karena mazhabnya beda. Lalu mengapa untuk perbedaan keyakinan dengan agama lain jadi berubah reaksinya?
--
Eksklusif dalam beragama atau menganggap bahwa agama yang kita anut adalah yang terbaik, itu sah-sah saja. Sepanjang tidak menyakiti orang lain. Melakukan ritual dan tradisi keagamaan adalah hak, sepanjang tidak mengusik kepentingan dan hajat hidup orang lain. Jika dengan beragama, manusia menemukan kedamaian, maka beri ruang bagi mereka. Begitupun, bagi mereka yang tidak meyakini suatu agama, namun mereka merasa damai, maka hargai mereka. Hal ini karena pada hakikatnya manusia memang sudah berbeda satu sama lain. Ini kodrati.

Menerima perbedaan memang tidak mudah, namun ini keniscayaan. Membuka pikiran perlu proses belajar yang mungkin tidak sebentar. Namun satu hal yang pasti, bahwa seluruh umat manusia, pasti inginkan peradaban yang lebih baik, harmoni dan damai.

Carpe Diem

Last year, I labeled it the most headache year, but also amusing cause I achieved the highest level of my education so far.  Surprisingly, t...