Apa yang akan dilakukan kalau kita berlibur, lalu tidak membawa handphone, kamera atau alat elektronik lainnya, bahkan belum menyusun rencana jalan-jalan? Nah, itulah yang terjadi pada saya beberapa minggu lalu.
Liburan kali ini memang mendadak, cuti dihari kerja, lalu sepulang jam kerja langsung menuju bandara. Bayangkan keadaan jalanan di jam kerja, sementara diriku mengejar waktu keberangkatan pesawat agar tidak ketinggalan. Ngebut itu sudah pasti! Ada enaknya ke bandara bawa mobil sendiri dan parkir inap saja di bandara, itu memudahkan kita kalau perginya tidak lama. Dan sampai di bandara tepat 10 menit sebelum waktu check in habis. Fiiuh.. sampai Bali, waktu telah masuk tengah malam. Ya sudah.. langsung aja menuju hotel. Bobo..
Nekat mencari sensasi liburan yang berbeda, tapi tidak membawa gadget, benar-benar diluar skenario. Kali kedua, di Bali berlibur sendiri, sedangkan pasangan saya, saat itu sedang sibuk-sibuknya, jadi tidak bisa menemani.
---
Bangun tidur sengaja siang, karena sadar tidak bawa gadget sudah sejak di bandara. Jadinya yang bisa dilakukan adalah cari sarapan dulu.. lalu ya.. yang terpikir hanya jalan kaki.. benar-benar jalan kaki.
Titik mula jalan kaki di hotel, lalu sarapan di Discovery mall (masih di jalan Kartika Plaza). Saya amati , jalur pedestrian bersahabat dan nyaman, hanya sedikit di ditemui beberapa orang yang coba menawarkan jasa pijat, tato atau sewa kendaraan, sedangkan selebihnya kondisinya baik. Kemudian, Jalan kaki dilanjutkan ke Legian, sambil mencari warnet untuk nge-print tiket pulang. Disepanjang jalan Kartika memang ada beberapa warnet, tapi tidak dilengkapi printer atau kalaupun ada printernya, komputernya tidak bisa buka format Pdf. Baru ketemu warnet yang lengkap dan cantik ya di Legian itu, plus cafe nan teduh karena interiornya banyak yang dari kayu. Sayangnya saya lupa nama tempatnya.
View Larger Map
Nah, itu dipeta rute jalan saya. Dari hotel ke Legian lalu belok ke jalan Melasti menuju Kuta. Kira-kira jaraknya 4 km. Saya menikmati pemandangan saja: toko-toko, turis-turis, lalu lalang kendaraan, ada juga motor yang dimodifikasi untuk tempat membawa papan selancar, kemudian saya melewati lokasi bom bali oktober 2002. Saya lihat banyak rangkaian bunga dan foto-foto korban ledakan yang diletakkan ditempat itu, rupanya keesokkan harinya adalah hari mengenang peristiwa tersebut.
Setelah kira-kira 2,5 jam jalan kaki, saya makan siang di Kuta. Dan saya lanjutkan berjalan di sepanjang tepi pantai, dimana cuaca sungguh terik, saya biarkan diri bermandikan cahaya matahari. Kulit ini dengan gembira menyambut angin pantai yang mulai menyapu peluh di sekujur tubuh. Lalu saya terus berjalan menembus pepohonan dan beberapa warung penjual kelapa. Kaki mengajak berhenti tuk sejenak menikmati udara pantai, tapi rasa penasaran menghentikan niat itu. Saya terus berjalan.
Pemandangan pantai dan desir ombak serta udara yang sedikit bercampur pasir yang harum menyegarkan pikiran. Lalu, setibanya di belakang Discovery mall, saya sedikit berkeliling di mall itu untuk mencari oleh-oleh. Bagi pemburu oleh-oleh murah, saya tidak menyarankan tempat ini. Sebagai perbandingan, kacang joget saya beli di mall ini Rp. 36.000,- sedangkan di sebuah toko dekat jalan Kemayoran (dekat bandara), hanya Rp. 15.000,-. Lumayan ya.
Setelah cukup oleh-oleh, saya keluar pintu utama Discovery mall yaitu kembali ke jalan Katika Plaza. Lalu saya lanjutkan lagi berjalan kaki menuju bandara kira-kira 3,2 km. Yang agak rumit adalah di bandara. Dari pintu utama ke bandaranya tidak ada jalur pedestrian, mungkin kebanyakan orang berkendara atau berharap memang belum disediakan. Padahal kalau dari jalan Dewi Sartika saja, tidak sampai sekilo ke bandara. Di Bali kali ini, saya berjalan kaki hampir 5 jam dengan jarak tempuh sekitar 9 km. Lalu saya berisitirahat di bandara sambil menunggu waktu keberangkatan pesawat. Sesampainya di Jakarta, kaki tidak terasa begitu capek, tapi wajah dan kulit tubuh yang agak gelap tidak bisa disembunyikan.
Senangnya menjelajahi secuil Pulau Dewata dengan berjalan kaki, tidak menghasilkan polusi dan jiwa raga sepenuhnya menikmatinya. Ada yang mau/sudah mencoba? (^ _^)..
-Y-
Senin, 29 Oktober 2012
Minggu, 23 September 2012
Liburan ke Singapura
Kalau kata saya mah, turis berhak dan wajib norak, kalau tidak norak jadinya kurang seru. Hehe.. kira-kira begitulah saya
kalau mengunjungi tempat baru. Kali ini, seminggu yang lalu, saya dapat kesempatan ke negeri yang
simbolnya setengah singa (kepalanya) dan setengah badan ikan,
Singapooooore…
Beberapa kali ada ajakan ke
Singapura saya tuh merasa kurang sreg, kurang tertarik. Bagi saya yang
seru itu kalau berkunjung ke tempat wisata yang alami, seperti pemandangan
gunung, pantai, atau candi. Kalau ke Singapura, yang ke bayang oleh saya itu
adalah mal, pusat belanja, dan hiburan artifisial, yang di Jakarta juga tidak
akan kalahlah, sebab bejibun mal keren di sini.
Tetapi, saat menginjak Bandara Changi, pikiran saya itu langsung berubah. Kesan positif
langsung menancap dipikiran, bersih, teratur, sistematik, wuiih keren banget. Sayangnya
di bandara, saya lupa berfoto ria.
Memang sudah banyak yang bilang
kalau kota Singapura itu toplah, cuma kan yaa.. yang namanya diceritain dan
dari bacaan, kesan yang didapat itu selewat saja. Ternyata imajinasi ini terbatas
oleh pengalaman visual, fisik dan segala atribut panca indra. Jadi, tulisan saya selanjutnya ini akan berisi pengalaman selama di sana, hanya sedikit kok, lah wong dua
malam aja nginepnya.
1. Jalur Pedestrian
| Jalur Pedestrian |
Selepas dari urusan periksa
keimigrasian, kami menuju subway train to city, waktu menunjukkan 11.30 malam
waktu Singapura. Pembayaran tiket mass rapid transit (MRT) dilakukan secara otomatis (mesin), akses ke MRT mudah dan dekat, tidak pakai
macet dan antri puanjang kayak di bus transj (eh.. stop.. saya tidak mau
bandingin ah, hehe). Setelah sampai di pemberhentian MRT yang
terdekat dengan pemberhentian bis menuju penginapan, kami (saya dan pasangan)
hanya butuh menyeberang, dan ketika di zebra cross tanpa traffic lamp, mobil
dari kejauhan mulai mengurangi lajunya untuk mendahulukan kami menyebrang,
bahkan mobilnya sampai berhenti agar kami menyebrang. Nah, ini yang paling
terkesan buat saya. Norak ya.. soalnya saya sempat diam supaya mobil itu lewat
dulu, (hehe.. kebiasaan disini, sebab daripada bonyok), ehh.. ga taunya. Wah..
cocok nih sama gambaran negeri utopis saya, ternyata beneran ada.
Gambar 1, adalah jalur pedestrian
di sisi Singapore River. Saya ngebayangin, kalau malam daerah ini pasti cantik deh, dihiasi lampu-lampu di pinggir sungai yang temaram menemani pengunjung restoran yang banyak berjejer di sepanjang pinggir sungai tersebut. Sayangnya, saya datangnya siang hari.
Gambar 2, saya mau tunjukan
betapa jalur pedestrian di Singapura itu ramah terhadap seluruh pengguna, yang
saya beri lingkaran merah itu adalah tanda yang diberikan bagi tuna netra untuk berhati-hati karena jalan menurun atau persimpangan, selain itu
juga dilengkapi handle (pegangan). permukaan jalannya dibuat nyaman sehingga tidak mudah tergelincir dan sebagian besar dilengkapi peneduh dari pohon
yang ditanam di pinggir jalan atau kanopi.
Gambar 3, tanda pedestrian
dilarang menyebrang ditempat tersebut, sedangkan Gambar 4 tulisannya
“Pedestrians use crossing”, maksudnya: bagi pejalan kaki itu ada aturannya,
kalau menyebrang harus ditempat yang disediakan. Tanpa ada polisi pun semuanya
patuh, karena dimana-mana ada kamera yang mengamati secara sembunyi (saya belum
pernah melihat kameranya kecuali di stasiun MRT dan dalam gedung). Di negri
ini, sistem keamanan oke banget, jalan tengah malam ndak pakai khawatir.
2. Bersepeda
| Bersepeda di Singapura |
Jalur pedestrian juga disediakan untuk para pesepeda, sehingga bersepeda aman atau risiko tertabrak kendaraan yang lebih besar pun
minim, serta tanpa mengganggu pejalan kaki. Dari yang saya cermati, pesepeda dan ada juga pemain skate board (yang juga menggunakan jalur pedestrian) disana memiliki
etika (baca-sopan), mereka akan membunyikan bel ataupun jika kita kaget, mereka
akan bilang: “sorry…”.
Jalur bersepeda yang nyaman juga
dilengkapi dengan tempat parkir yang aman. Saya tidak tahu, apakah memarkir
sepeda disembarang tempat itu illegal, namun yang saya kagumi adalah keamanan
yang excellent di negri tersebut, karena banyak pemandangan sepeda yang hanya
dirantai di pagar-pagar jalanan tanpa hilang bannya atau stangnya, berarti aman kan ya.
Kalau jalur pedestrian aman dan
nyaman bagi pejalan kaki dan pesepeda, berarti bisa dibilang mudah
untuk mengajak warga untuk mengurangi jejak karbon karena memadainya fasilitas
tersebut.
3. Kawasan Publik
| Ruang Publik |
Dua gambar bagian atas (Gambar Ruang Publik) terletak di
kawasan Orchad. Tempatnya luas dan nyaman. Ketika saya berkunjung kebetulan hari minggu,
jadi banyak bertemu dengan tenaga kerja Indonesia yang sedang belanja disitu.
Seru deh, terdengar bahasa Jawa dan bahasa dengan dialek sunda.
Saya salut
terhadap toleransi yang tinggi terhadap multi ras di negeri tersebut. Saya
jumpai Melayu, Cina, India dan bule-bule banyak bertebaran tanpa ada yang
terlihat merasa menjadi minoritas.
Gambar kiri bawah (Gambar Ruang Publik) terletak di salah tempat
di jalan Bugis, dimana menjadi pusat penjualan oleh-oleh murah. Melihat anak-anak main
pancuran dengan bebasnya, tanpa ditegur petugas, saya berpikir adanya kebebasan
yang bertanggung jawab.
Gambar kanan bawah (Gambar Ruang Publik) itu contoh papan yang
berisi informasi nama tanaman dan nama ilmiahnya serta ada juga yang
menambahkan info tentang sejarah dan manfaat tanamannya. Papan tersebut tidak
hanya di beberapa tempat umum, yang saya foto itu adalah papan yang ada di
salah satu halaman rumah sakit. Nuansa edukasi terasa sekali. Tadinya saya pikir, papan
seperti itu hanya dapat ditemui di kebun raya atau taman margasatwa. Jadi ingin
buat hal yang sama untuk tanaman cabe saya nih. Hehe.. inspirasi.
4. Kreasi Habitat
| Taman menjadi Daya Tarik Burung |
Sayang fotonya kurang jelas ya.
Kalau bisa lihat langsung, beberapa kelompok burung dapat dengan mudah kita
jumpai, karena hampir setiap gedung menyediakan pepohonan yang sangat berguna
sebagai habitat satwa burung tersebut. Meskipun, pembangunan fisik sangat
gencar, rupanya keseimbangan ekologi juga tak luput untuk diperhatikan oleh
kota tersebut. Waktu di Orchad saya sempat heran, lihat burung pigeon anteng benar diberi
makanan oleh para pengunjung. Soalnya yang saya tahu, burung bakal kabur kalau
ada orang banyak. Ih.. mani hebat ya.
5. Sampah
| Tempat Sampah |
Tempat sampah di tempat umum
bentuknya seperti gambar di sebelah kiri. Di tempat umum yang saya temui itu
sampah dari dedauan kering, bukan sampah sisa makanan karena petugas langsung
nyapuin. Kalau gambar di sebelah kanan adalah tempat sampah domestik. Bentuknya
sama semua, baik yang di gedung atau di tempat makan, standar kelihatannya (saya belum tahu banyak soal ini). Warna hijau dan sebesar itu.
Saya lihat
seorang ibu (gambar insert disebelah kanan) membawa kereta tas plastik untuk
berbelanja, jadi tidak perlu menambah sampah kantong plastik pada saat belanja. Dan kelihaannya mereka tidak perlu mengumpulkan kantong plastik untuk membungkus sampah
domestiknya.
Tempat sampah yang di Changi
(bandara) lebih canggih lagi, menarik bentuk dan motifnya. Tapi sayang saya
lupa mendokumentasikannya.
6. informasi Umum
| Informasi Publik |
Gambar sebelah kiri itu, merupakan informasi jarak tempuh ke tujuan terdekat. Misalnya dari tempat
itu ke AVE adalah tujuh menit dengan mobil. Kalau di dekat halte, tersedia
informasi rute bis dan jarak tempuh serta biayanya. Nah dari info di dekat
halte, saya jalan kaki terus selama di Singapura (kecuali MRT), ndak naik bis,
sebab dekat dan jalannya nyaman.
Untuk kaum muslim, tidak kawatir mencari arah kiblat. Karena Singapura berisi multi ras dan agama, maka di
hotel tersedia petunjuk arah kiblat bagi kaum muslim, info bisa didapat di laci
meja kamar atau di langit-langit kamar.
7. Makanan
| Nyaaam.... |
Berhubung saya lidah kampung,
beberapa kali makanan yang kami cicipi ya dari fast food ke fast food. Hehe..
ndeso ya.. hanya sekali nyobain makan non fast food, yaitu makanan yang jual
orang arab kayaknya, sebab ada tulisan arab di kacanya. Minuman teh tarik,
hehe.. ini mah disini banyak ya. Yang kanan atas itu namanya Prata Egg, atau
roti cane pake telor dan kuah kari. Kalau yang bawah, perasaan kayak nasi
padang. Hehe..
--
Jadi.. ke Singapura itu ternyata sangat berkesan dan penuh hikmah. Saya jadi bisa merasakan negeri yang teratur, aman,
bersih dan nyaman yang jauh dari stres karena fasilitas publik dan keamanan
yang terjamin. Eh.. tapi nanti dulu, saya pikir, setiap Negara pasti akan memiliki bentuk stres
tersendiri. Kalau di negeriku tercinta, terkuras energi dan terpaksa beradaptasi dengan
kemacetan, di Singapura mungkin stres karena monoton dan serba pasti. Eh.. itu
mungkin lho ya.. Tapi setidaknya saya bisa merasakan, negeri yang teratur, damai dan sebagian besar warganya yang dewasa itu ternyata ada..
| Pemandangan Singapura dan Kenarsisan -- -Y- |
Jumat, 07 September 2012
Yuukk.. Berkebun #1
Kadang atau mungkin sering, sesuatu yang dipelajari di sekolah lalu tidak dipraktikan oleh kita. Seperti yang terjadi dengan saya. Meskipun saya lulusan Biologi, dimana sekitar kurang dari 14 tahun yang lalu saya mempelajari tentang tumbuhan dan hewan. Lalu tiga tahun kemudian, saya mendapat pelajaran hortikultura dan sempat mempraktikannya di rumah ibu kos dengan berhasil menanam cocor bebek hidroponik, namun selebihnya saya tidak pernah terpikir untuk serius menanam apapun. Jadilah saya cuma sekelebat saja memperhatikan tentang tanaman. Padahal sejak kecil, ibu saya rajin asyik masyuk dengan tanamannya yang bermacam-macam.
--
![]() |
| A great experiment illustrating soil erosion! |
Tiga tahun terakhir saya cukup banyak mempelajari tentang bangunan termasuk tanaman dalam ruang yang bermanfaat untuk kesehatan udara ruang dan sebagai dekorasi ruangan. Namun, titiba saya ingin berkebun ketika melihat foto dari halaman facebooknya The Rationalist. Keren ya fotonya di atas.. hehe.. insting meneliti saya muncul lagi. Pada foto itu, menggambarkan penyaringan tanaman pada media tanah yang berbeda. Tanah yang ditanami tanaman akan menyaring air dengan baik, sedangkan kalau tidak ditanami tanaman, selain air menjadi keruh, juga terjadi erosi. Ini berarti, air tidak ditahan atau diserap oleh tanaman, tetapi akan langsung mengalir ke daerah yang lebih rendah, yaitu sungai dengan membawa sedimen (tanah). Sedimen yang terbawa oleh air ke sungai membuat sungai jadi cepat dangkal. Selain itu, risiko banjir dan erosi serta tanah longsor menjadi besar. Nah.. ini sekilas tentang tanaman dan lingkungan, tentunya kalau ingin googling lebih niat, teman-teman akan mendapat informasi yang lebih mudah dipahami dan lebih jelas.
Berhubung contoh diatas adalah manfaat penyaringan air oleh tanaman pada lahan tanah, sedangkan rumah yang saya tinggali tidak ada tersisa lahan tanah secuil pun. Kalaupun ada tanah, ya tempatnya di pot. Jadi kalau menanam di pot, saya tidak akan mendapat manfaat penyaringan air tanah. Tapi, hal ini tidak menyurutkan saya untuk bertanam. Karena saya pikir, kalaupun fungsi tanaman tidak bisa menyerap air, namun setidaknya fungsi fotosintesis dari daun yang menghasilkan oksigen dan menyerap polusi udara dapat bermanfaat bagi kehidupan. Selain itu juga, tentunya saya ingin mencoba tanaman yang bermanfaat, lalu saya mulai mencoba CABAI.. Asiiikk.. Bertanam dimulaii!!!
Saya beli benih cabai di toko Trubus, lokasinya di parkiran Carrefour jl. MT Haryono, harganya Rp.12.500,-. Satu bungkus berisi 350 biji. Komposisi tanah dengan pupuk kandang adalah 1:1. Kalau susah mencari tanah, bisa langsung beli campuran tanah dan pupuk sekarung harganya Rp. 25.500,-, juga bisa dibeli di Trubus dan tukang tanaman. Saran petugas Trubus, sebaiknya media tanam cabai tidak usah dicampur dengan sekam, karena suhu tanah akan meningkat, sedangkan cabai cocok untuk suhu yang sedang. Jadi saya turuti nasehatnya, kan saya pemulaaa..
Awalnya biji-biji disemai di pot besar. setelah mulai tumbuh daun pada umur seminggu, tanaman mulai dipisahkan, sebab akarnya mulai bergerilya. Kalau terlanjur besar, nanti akarnya bisa bergumul ditanah dan rajut merajut. Nah.. untuk menghindari ini, jadi saya pisahkan dan pindahkan ke wadah baru yaitu potongan botol air 1,5 liter dan bekas wadah eskrim (sekalian memanfaatkan botol bekas pakai). Jangan lupa disiram setiap hari, pada pagi hari atau malam hari.
Niatnya saya ingin cerita tentang pertumbuhan cabai saya sampai berbuah. hehe.. jadi cerita ini bisa beberapa bagian nih. Karena menurut beberapa bacaan, panen pertama cabai sekitar umur lebih dari 3 bulan dan panen puncak pada umur 7 bulan. Wah.. lama bener ya.. Sabar, mudah-mudahan bisa konsisten untuk bumi tercinta...
Setiap pagi bangun tidur, saya punya semangat baru.. senyum-senyum menyapa tanamanku yang cantik-cantik. Agak aneh ya.. tapi mungkin ini yang namanya kenikmatan mengerjakan kegiatan yang kita suka. Akhirnya saya merasakan, apa yang Ibu saya kerjakan dengan keasyikannya berkebun. Nikmatlah pokoknya...
Oiya, kebetulan minggu lalu 2/9/2012, @IDberkebun mengadakan #tanamserentak di 23 kota. Dan senangnya, saya bisa bergabung meramaikannya di CampSenopati bersama @Steakholycow. Lumayan dapat ilmu berkebun tentang cara menanam sayur dan nambah teman serta dapat burger gratis. Hehe... Yuuuk mulai berkebun :)
-Y-
-Y-
Minggu, 12 Agustus 2012
Ketika Kesalehan itu...
ketika kesalehan itu kasatmata
taati ritual dan tradisi kealiman
khawatir membelenggu sukma
coba benahi segala yang salah...
akankah diam menjadi emas?
sikap ambigu ditengah gejolak
meredam segala argumentasi
tuk damaikan jiwa-jiwa rapuh
ketika kesalehan itu simbol
menafikan hakiki
menuhankan dogma
menyudutkan rasionalitas
apakah 'berbeda' itu buruk?
bertahan ditengah derasnya tuntutan
menahan ucapan kotor yang terlontar
meski otak terus berkecamuk
ketika kesalehan itu cerdas
mendayukan keagungan
melantunkan kitab kemitab
memuliakan kisah dan tokoh
mungkinkah laku ini terlihat tolol?
tak kuasa tuk melawan
hanya mampu bertahan
tuk sebuah pencarian
-Y-
Minggu, 22 Juli 2012
Tradisi Ramadan
Seperti kita ketahui, bahwa ritual keagamaan yang saat ini masih berlangsung merupakan warisan dari tradisi sebelumnya yang berlaku pada saat agama tersebut turun dan berkembang. Dengan kata lain, konteks waktu dan tempat pada saat agama tersebut diturunkan, berpengaruh besar terhadap aturan dan tradisi yang dibentuk bagi agama tersebut. Contohnya: agama Islam yang lahir dari negara Arab, dimana pada zaman jahiliyah (sekitar abad ke-6 M) menikahi banyak istri merupakan budaya setempat. Kemudian pada saat turunnya ayat ketiga surat An-Nisa, menjadi dibatasi menikahi dua, tiga atau empat istri jika mampu berlaku adil (Quran An Nisa 4:3). Peristiwa turunnya ayat tersebut terjadi setelah perang Uhud, tatkala kaum Muslimin meninggalkan anak-anak yatim dan janda yang tidak sedikit serta beberapa tawanan perang. Kemudian ayat tersebut turun, agar mereka diperlakukan dan diurus atas dasar peri kemanusiaan yang tinggi dan seadil-adilnya (Sumber: Tafsir Yusuf Ali). Disini terlihat bahwa lahirnya sebuah aturan dalam suatu agama, berupaya menata peradaban yang lebih baik.
--
Hari ini adalah hari pertama puasa bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia. Terjadinya beda pendapat mengenai ketentuan awal puasa antara Pemerintah dan Muhammadiyah, tidak menjadi masalah bagi keyakinan umat Islam yang memang beragam. Meskipun perbedaan pendapat ini sudah terjadi sejak sekitar tahun 1985-1998, hal ini terbukti, dari yang saya amati: masyarakat memilih waktu awal puasa mengikuti apa yang menjadi keyakinannya. Penting bagi kami sebagai warga negara, bahwa menyingkapi perbedaan ketentuan awal Ramadan ini dilalui dengan suasana damai dan saling menghargai.
Namun, kali ini saya bukan membahas soal perdebatan tersebut, saya ingin mengulas beberapa tradisi yang berlangsung menjelang Bulan Ramadan. Berikut ini, beberapa tradisi yang dijumpai disekitar kita:
Namun, kali ini saya bukan membahas soal perdebatan tersebut, saya ingin mengulas beberapa tradisi yang berlangsung menjelang Bulan Ramadan. Berikut ini, beberapa tradisi yang dijumpai disekitar kita:
Ziarah
Biasanya disebut dengan nyekar, merupakan asal kata dari bahasa Arab Ziyarah atau mengunjungi, paling umum digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat suci sesuai dengan keyakinan dan iman seseorang. Namun istilah tersebut juga digunakan disini yaitu untuk menyambangi makam-makam leluhur, orang tua atau sebut saja makam orang-orang yang kita hormati dan sayangi. Bagi mereka yang meyakini, praktik ini merupakan tradisi yang memiliki nilai moral yang tinggi, antara lain: mengingatkan diri akan kematian yang menjadi keniscayaan hidup sekaligus meneguhkan iman atau berharap menyucikan diri.
Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh agama samawi, agama bumi pun juga melakukannya.
Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh agama samawi, agama bumi pun juga melakukannya.
Sesajen atau Sesaji
| Sesajen |
Tarawih
| Solat Tarawih |
Takjil
| Kurma |
Bukber
Bukber atau buka puasa bersama. Di bulan ramadan, tradisi ini menjadi ajang silaturahmi. Acaranya bisa dirumah, tetapi untuk kepraktisan, sebagian besar lebih memilih bertemu disuatu tempat makan di pusat perbelanjaan yang mudah dijangkau. Bagi yang punya masalah dengan kemacetan, nampaknya bukber dengan keluarga dirumah akan menjadi masalah jika dilakukan pada hari kerja. Sebab bisa jadi sampai rumah sudah masuk waktu sholat Isya. Lalu kalau memang bukber menjadi masalah, kenapa tidak ditradisikan saja saber atau sahur bareng, yang sudah pasti pada waktu sahur kita belum menemukan macet. Nah, jadinya kan sabernya bisa syahdu. Hehe...
Mudik
Mudik atau pulang kampung biasanya dilakukan menjelang lebaran. Namun, pada beberapa tahun terakhir, sebagian menyiasati dengan mudik pada saat lebaran atau beberapa hari setelah lebaran. Hal ini karena semakin meningkatnya populasi penduduk dan volume kendaraan pribadi yang kian bertambah, sementara jalur kendaraan relatif tidak berubah sehingga macet jadi hal rutin yang kita jumpai di sepanjang jalur mudik.
Ibukota menjadi daya tarik penduduk daerah untuk mengejar karier dan cita-cita, sehingga demi mewujudkan mimpi dan pemenuhan serta peningkatan hidup, banyak yang meninggalkan kampung halamannya. Namun, nuansa lebaran menjadi titik puncak perjalanan rohani dibulan Ramadan dengan mengabdi dan bersimpuh dihadapan kedua orangtua atau orang Jawa menyebutnya dengan sungkeman (jika masih memungkinkan). Dengan demikian, mudik untuk dapat bersilaturahmi dan berkumpul dengan keluarga pada saat lebaran merupakan tradisi tahunan yang mewarnai penutupan bulan Ramadan.
--
Note: Ramadan merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang artinya bulan ke-9 tahun Hijriyah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam diwajibkan berpuasa (KBBI online).
-Y-
Jumat, 06 Juli 2012
Jadi Penumpang Bis di Tengah Macetnya Ibukota....
Bicara soal macet di Jakarta, sudah pasti bukan barang baru. Reaksi orang juga beragam, dari mulai yang marah-marah, ngedumel, teriak, cuek, bahkan ada yang tetap sabar dan sampai kebal dengan biasanya akan bilang sambil tersenyum: "enjoy aja! (gaya iklan rokok)".
Saya sering alami macet kalau pulang kerja. Cara saya bereaksi soal macet termasuk yang ababil, kalau perut lagi lapar biasanya bikin 'suasana gampang panas' dan jadinya gampang marah. Nah.. kalau sudah lapar di bis dan ndak bawa amunisi (makanan), biasanya emosi mudah meledak. Untuk atasinya, saya suka alihkan pikiran dengan membaca twitter lewat hp, kalau keadaan mendukung. Tapi kalau ndak mendukung, kadang saya menghitung penumpang yang naik, terus dikalikan tarif bis deh....Lah.. terus untuk apa ngitung begitu? Emm.. hehe.. cuma iseng aja, sekalian ingin tahu rata-rata jumlah penumpang dan jumlah yang didapat kenek.
Sebenarnya paling ampuh itu tidur, tidur itu bikin perjalanan cepat sampai. He.. saya beberapa kali ketiduran di bis, bangun-bangun sudah sampai Slipi. Ajib bener deh :) .. Cuma kalau perut lagi kosong, ya susah tidur.
Tips agar tetap bisa tenang di bis saat macet melanda:
- Siapkan camilan (misal: coklat, sebab bikin kenyang--kalau saya lho ya), sedikit saja, soalnya kalau setoples bakalan repot bawanya.
- Bawa minum, kadang saya suka bawa susu kotak. Kalau susu lumayan bisa ganjal perut walau tanpa makanan. Atau bawa air putih untuk antisipasi kalau keselek camilan.Tapi jangan juga kebanyakan minum, sebab susah nanti kalau ingin pipis, nahan pipis disepanjang macet itu menyiksa loh.
- Siapkan duit receh. Nah ini sih saya suka lakukan biar nyaman saja, soalnya suka ada preman yang rese' dan 'bikin males'. Dari pada ribet mending kasih duit saja lah.
- Pastikan baterai hp terisi penuh, buat baca-baca di bis. Kalau enggak biasa baca di bis dan bikin pusing sebaiknya jangan lakukan. Selain itu, kalau keadaan di sekitar enggak aman dan nyaman ya juga jangan lakukan.
- Selain itu, ada juga yang coba menikmati macet dengan mendengarkan musik dengan hp atau perangkat musik lainnya melalui earplug. Tapi saya bukan tipe penikmat model ini, karena saya keliatannya termasuk yang mudah disorientasi jika kelima indera tidak terjaga dengan baik untuk mengamati keadaan sekitar. Maksudnya kalau kupingnya ditutupin, tingkat siaga saya menurun.
- Kalau masih bisa memilih tempat duduk, pilih yang dibagian depan (bangku sejajar sopir) atau di bagian dekat jendela. Ini supaya kalau lagi penuh, kita bisa tetap tidur. Hehe..
- Ingat.....! kalau ada yang lagi hamil, ringan tanganlah dengan memberikan kursi kita!! Hem.. emang sih, kadang susah mendeteksi orang yang hamil kalau ga hamil gede banget. Sebab, beberapa kali saya dapat cerita, kalau banyak orang yang tidak memiliki empati.
Segitu dulu deh..
-Y-
-Y-
Minggu, 01 Juli 2012
Liburan ke Kota Tua
Liburan anak sekolah masih berlangsung. Ketika saya sedang mengunjungi para krucil (ponakan-ponakan saya) di rumah Ibu, salah satu krucil mengajak saya untuk mengunjungi kawasan wisata kota tua. Dia sampai menyebutkan harga tiketnya yang hanya 2000 rupiah. Waaahh.. saya pikir ini ide menarik, wisata yang murah meriah. Saya pun belum pernah mengunjunginya. Keesokan harinya saya mulai mencari info di Internet, dan ternyata sangat menarik. Di Kawasan kota tua banyak terdapat museum yang bisa dikunjungi.
--
Saya sudah pelajari lokasinya, berhubung saya membawa ponakan yang masih bayi serta sebagian yang masih anak-anak, jadinya kami pergi menggunakan mobil. Kalau dilihat dari fasilitas transportasi yang ada disekitar Kota Tua dan tidak mempertimbangkan membawa anak-anak, maka naik bis Transjakarta rasanya masih bisa nyaman. Dan tak lupa, kami membawa bekal dari rumah.
--
Sesampainya di kawasan Kota Tua, suasananya sangat ramai, dan para krucil sangat terkesan dengan hingar bingar dan pemdangan museum. Museum pertama yang kami kunjungi adalah Museum Fatahillah, hanya 2000 rupiah perorang. Meskipun dikenakan retribusi, namun museum terlihat kurang terawat. Adanya larangan dilarang mengambil foto pun nampaknya tidak diindahkan oleh para pengunjung. Begitu juga larangan untuk tidak menyentuh benda yang dipamerkan, namun nampaknya masyarakat kita belum sepenuhnya dapat menghargai sebuah sejarah. Mereka datang kelihatannya wajin untuk berfoto ria, dan tentunya sambil memegang dan berpose seolah-olah sedang berinteraksi dengan benda museum. Wah, ini memprihatinkan sekali. Memang sih, tidak ada larangan dari petugas. Semua larangan hanya bersumber dari signage atau tanda yang ada di dalam museum. Meski demikian, saya mencoba menjelaskan kepada para krucil alasan adanya larangan berfoto dan menyentuh benda-benda itu dan kami berusaha untuk mentaati aturan yang berlaku. Kami berfoto diarea yang diperbolehkan.
| Suasana Kawasan Kota Tua |
Sesampainya di kawasan Kota Tua, suasananya sangat ramai, dan para krucil sangat terkesan dengan hingar bingar dan pemdangan museum. Museum pertama yang kami kunjungi adalah Museum Fatahillah, hanya 2000 rupiah perorang. Meskipun dikenakan retribusi, namun museum terlihat kurang terawat. Adanya larangan dilarang mengambil foto pun nampaknya tidak diindahkan oleh para pengunjung. Begitu juga larangan untuk tidak menyentuh benda yang dipamerkan, namun nampaknya masyarakat kita belum sepenuhnya dapat menghargai sebuah sejarah. Mereka datang kelihatannya wajin untuk berfoto ria, dan tentunya sambil memegang dan berpose seolah-olah sedang berinteraksi dengan benda museum. Wah, ini memprihatinkan sekali. Memang sih, tidak ada larangan dari petugas. Semua larangan hanya bersumber dari signage atau tanda yang ada di dalam museum. Meski demikian, saya mencoba menjelaskan kepada para krucil alasan adanya larangan berfoto dan menyentuh benda-benda itu dan kami berusaha untuk mentaati aturan yang berlaku. Kami berfoto diarea yang diperbolehkan.
--
Setelah selesai dengan Museum Fatahillah, lalu kami makan siang dulu dengan bekal yang kami bawa. Hehe.. kirain tempatnya seperti monas, yang tersedia ruang umum untuk kita gelar tikar, eh ternyata digelar tiker buat pedagang. Yah.. saya pikir, kawasan ini seharusnya adalah ruang umum/publik, jadi tidak salah kalau kami makan bekal kami. Setelah mencari tempat yang agak nyaman (ditengah hilir mudik orang), kami akhirnya lesehan tanpa tikar. Tentunya kami percaya diri bahwa makan siang kami lebih higienis dibandingkan jajanan yang sembarangan. Lalu kami pun kenyaaaang...
--
Kemudian kami lanjutkan ke Museum Bank Indonesia. Nah.. disini gratis dan Museumnya sangat terpelihara dengan baik. ber-AC dan sangat bersih. Disini banyak pelajaran yang bisa diambil, karena sejarah tentang BI dipamerkan dan tertuang dengan indah dan menarik. Selain itu, petugasnya ramah dan aturannya sangat jelas. Di BI boleh mengambil foto, asalkan dibeberapa tempat tertentu tidak boleh menggunakan pencahayaan kamera. Selain itu juga ada permainan dengan cara menjawab teka-teki terlebih dahulu Yeaaah... kami berhasil memecahkan pertanyaan, cuma sayangnya saat permainan melempar anak panah, tak ada yang menancap ditengah target, jadi kami hanya membawa pulang tas saja. Lumayan :)
Oiya.. ketika dari Museum Nasional lalu ke Museum Bank Indonesia, terdapat seperti halaman yang cukup rindang dan tidak terlalu riuh dengan lalu lalang, kemudian kami jadi bersemangat kalau ke Kawasan Kota Tua lagi, maka kami akan gelar makan siang kami disini. Hehe..
--
Perjalanan terakhir adalah Museum Bank Mandiri, tidak perlu membayar tiket untuk masuk, namun hanya mengisi buku pendaftaran saja. Disini boleh berfoto ria. Tidak banyak informasi tertulis yang bisa dipelajari, di Museum ini nampaknya biarlah benda-benda kuno berbicara sendiri mengenai sejarah. Di Museum ini terdapat evolusi teknologi mesin tulis, dari mesin ketik gede sampai komputer yang lumayan modern. Selain itu juga dipamerkan evolusi alat penghitung uang.
--
Sedikit pendapat saya tentang ketiga museum, begitu terlihat jelas bahwa museum tanpa pemilik seperti Museum Fatahillah terlihat kusam dan tidak terawat meskipun ada biaya yang dikenakan kepada pengunjung. Dibandingkan dengam kedua museum bank, dimana kesan sponsor menandakan institusi pemilik yang menanganinya, berusaha menunjukkan besaran tanggung jawab dalam memelihara bangunan tersebut. Setahu saya, Museum Fatahillah adalah wewenang pemerintah daerah, jadi selayaknya performa museum menunjukkan besaran keseriusan dalam mengelolanya. Semoga saya salah...
-Y-
Setelah selesai dengan Museum Fatahillah, lalu kami makan siang dulu dengan bekal yang kami bawa. Hehe.. kirain tempatnya seperti monas, yang tersedia ruang umum untuk kita gelar tikar, eh ternyata digelar tiker buat pedagang. Yah.. saya pikir, kawasan ini seharusnya adalah ruang umum/publik, jadi tidak salah kalau kami makan bekal kami. Setelah mencari tempat yang agak nyaman (ditengah hilir mudik orang), kami akhirnya lesehan tanpa tikar. Tentunya kami percaya diri bahwa makan siang kami lebih higienis dibandingkan jajanan yang sembarangan. Lalu kami pun kenyaaaang...
--
Kemudian kami lanjutkan ke Museum Bank Indonesia. Nah.. disini gratis dan Museumnya sangat terpelihara dengan baik. ber-AC dan sangat bersih. Disini banyak pelajaran yang bisa diambil, karena sejarah tentang BI dipamerkan dan tertuang dengan indah dan menarik. Selain itu, petugasnya ramah dan aturannya sangat jelas. Di BI boleh mengambil foto, asalkan dibeberapa tempat tertentu tidak boleh menggunakan pencahayaan kamera. Selain itu juga ada permainan dengan cara menjawab teka-teki terlebih dahulu Yeaaah... kami berhasil memecahkan pertanyaan, cuma sayangnya saat permainan melempar anak panah, tak ada yang menancap ditengah target, jadi kami hanya membawa pulang tas saja. Lumayan :)
Oiya.. ketika dari Museum Nasional lalu ke Museum Bank Indonesia, terdapat seperti halaman yang cukup rindang dan tidak terlalu riuh dengan lalu lalang, kemudian kami jadi bersemangat kalau ke Kawasan Kota Tua lagi, maka kami akan gelar makan siang kami disini. Hehe..
| Lokasi yang asyik buat lesehan |
Perjalanan terakhir adalah Museum Bank Mandiri, tidak perlu membayar tiket untuk masuk, namun hanya mengisi buku pendaftaran saja. Disini boleh berfoto ria. Tidak banyak informasi tertulis yang bisa dipelajari, di Museum ini nampaknya biarlah benda-benda kuno berbicara sendiri mengenai sejarah. Di Museum ini terdapat evolusi teknologi mesin tulis, dari mesin ketik gede sampai komputer yang lumayan modern. Selain itu juga dipamerkan evolusi alat penghitung uang.
--
Sedikit pendapat saya tentang ketiga museum, begitu terlihat jelas bahwa museum tanpa pemilik seperti Museum Fatahillah terlihat kusam dan tidak terawat meskipun ada biaya yang dikenakan kepada pengunjung. Dibandingkan dengam kedua museum bank, dimana kesan sponsor menandakan institusi pemilik yang menanganinya, berusaha menunjukkan besaran tanggung jawab dalam memelihara bangunan tersebut. Setahu saya, Museum Fatahillah adalah wewenang pemerintah daerah, jadi selayaknya performa museum menunjukkan besaran keseriusan dalam mengelolanya. Semoga saya salah...
-Y-
Langganan:
Postingan (Atom)
Carpe Diem
Last year, I labeled it the most headache year, but also amusing cause I achieved the highest level of my education so far. Surprisingly, t...
-
Dulu ketika kuliah, punya sepatu bermerek dan (bagi saya) mahal, rasanya seperti mau terbang, percaya diri tumbuh seakan-akan posisi sosial...
-
Last year, I labeled it the most headache year, but also amusing cause I achieved the highest level of my education so far. Surprisingly, t...
-
Program Bayi Tabung 11 Juni 2015 Waktunya untuk pengambilan ovum (sel telur) atau disebut ovum pickup (OP). Kali ini dilakukan d...

