Sabtu, 04 Juli 2015

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (bagian 6)



Program Bayi Tabung

11 Juni 2015

Waktunya untuk pengambilan ovum (sel telur) atau disebut ovum pickup (OP). Kali ini dilakukan di ruang tindakan. Saya dibius. Pasien diminta puasa 12 jam. Dilakukan oleh dr. Sita. Proses OP hanya berlangsung kurang dari setengah jam. Saya cukup lama, karena di awal, pranata anestesi sulit menemukan pembuluh nadi saya yang terlalu halus. He.. saya sampai mengeluarkan air mata karena beberapa kali gagal menyuntikkan dan sakit sekali kena tulang.

Di saat yang sama, suami diminta mengeluarkan sel sperma. 

Ketika sudah sadar dan kembali segar, saya dibolehkan pulang. Saya kembali ke kantor.

Sel telur dan sel sperma, dibuahkan di dalam cawan patry (lab) agar terjadi pembelahan dan berkembang dengan baik.

Biaya Probatab: deposit: 20.000.000 (termasuk ovum pick up, perkembangan embrio, obat-obat, tindakan dan embrio transfer (ET)).
In Vitro Fertilization
  14 Juni 2015
 
Masih digantikan dr. Sita, untuk melakukan transfer embiro (ET) tanpa pembiusan.  Embrio (sel telur yang dibuahi sel sperma) yang saya hasilkan hanya 3 yang bagus dari 9 sel telur yang saya hasilkan. Karena usia saya sudah 34 tahun, maka dimasukkan ketiga embrio itu (jadi tidak ada yang disimpan). 

Sebelum tindakan diminta tidak makan selama 6 jam. Tapi tetap harus minum banyak. Ndak boleh pipis. Kenapa? karena akan di USG melalui perut, supaya kelihatan embrionya. 

Jadilah, berasa pingin pipis buanget. Tahan Bu. Sabar. Apalagi saat perut ditekan dengan USG. Jadi rasanya nikmat banget deh.

Setelah embrio di masukkan ke rahim, bukan berarti ibu boleh pipis. Tapi harus berbaring selama 1 jam. Pipisnya.. dipakaikan kateter. Rasanya seperti anyang2an gitu.
Menunggunggu sejamnya sih ga masalah, tapi perasaaan anyang2annya ini loh yang genggeus.

Setelah ET, pasien diminta bedrest (benar2 tiduran doang) selama 2 hari. Di enam jam pertama setelah ET, pasien harus telentang saja (sambil dibantu kaki diangkat sedikit) dan tidak makan. Di sinilah waktunya mengeluarkan jurus seni menghibur diri. Enam jam dengan posisi telentang saja dan rasa anyang2an, serta tanpa rasa kantuk.. sungguh aduhaiiiii...

Enam jam kemudian, boleh maem.. rasa makanan RS, seperti masakan Ibu di rumah.. uenak saking lapernya. badan hanya boleh pelan-pelan ke kanan dan ke kiri. 

Karena judulnya bedrest: maka saya makannya dikit. Takut mules, kan males banget pup di pampers. Untungnya selama di RS, perut bersahabat. puk..puk.

Saya menginap di RS, 3 hari 2 malam. VIP di RSPAD. Biaya 1.500.000. (termasuk murah, karena fasilitasnya lumayan nyaman).

Kemudian selama 5 hari ke depan, saya lanjutkan bedrest di rumah. Ndak bedrest beneran sih, saya hanya ke kamar mandi saja kalau turun dari tempat tidur. Hanya sekali saya naik tangga (karena kamar di atas). Seminggu kemudian, saya tetap bekerja, tidak lagi menyetir, dan menghindari naik tangga. 

Setelah ET, disebut momen 2 week waiting (2WW), adalah saat menunggu 2 minggu hingga mendapat rapot. Selama 2WW, tetap setiap malam saya disuntik prolutan+heparin dan dimasukkan crinone melalui vagina. Heparin gunanya untuk mencegah pembekuan darah, mengapa? karena bisa jadi rahim kaget karena ada benda asing (embrio akibat sperma), sehingga akan melakukan proteksi dengan meningkatkan sel pembekuan darah. Jika ini terjadi, maka tidak baik untuk sang embrio karena sulit mendapat asupan nutrisi. Sedangkan crinone adalah progesteron sintetik, supaya embrio tetap terjaga.

Selama 2WW, saya mengonsumsi makanan fully gizi. Sayur, buah, susu, ikan salmon dan Greek yogurt. Supaya embrio dan saya tetap bugar. Dan selama 2WW, saya kurangi aktifitas ga penting. Ga cental-centil dulu. Jalan juga pelan-pelan. Ndak pakai celana panjang. Sebab perut berasa sangat kembung (bloating) dan megar, karena pengaruh obat2an. Pulau biru, kini menjadi gunung biru. Karena suntikan heparin menyisakan jendulan di kulit.

Malam sebelum ambil rapot, terlihat ada bercak darah dan perut keram sekali. Saya SMS perawat (yang kemudian dihubungkan ke dokter). Dan meminta saya mengenhentikan suntikan dulu. Wah.. perut makin keram dan saya cemas sekali (mana suami lagi ke luar kota. huhu... Saya berusaha rileks.. tapi susah. hehe..

26 Juni 2015

Saatnya mengambil rapot. Pagi sekali ke lab untuk memeriksa kadar d-dimer dan BHCG. 

Perut masih terasa keram sekali seharian. 

Hasil lab menunjukkan kadar BHCG saya hanya 11,5, kadar minimal 9,5. Sangat rendah untuk dikatakan janin berkembang. Meski saat USG terlihat titik embrio. Namun kadar BHCGlah yang lebih menentukan.

Dokter mengatakan, dari hasil menunjukkan kehamilan, tapi memiliki tingkat kegugurang yang tinggi. Persentase keberhasilan 50%. Lalu saya diberikan obat suntikan (lagi) untuk seminggu, untuk menjaga kondisi kandungan. Minggu depan, saya harus kontrol lagi.

Biaya:
  1. Cek d-dimer+BHCG+other                = 1.700.000
  2. Konsul+USG+admin                          =   440.000
  3. Suntikan prolutan+heparin+crinone  =   930.000
Setelah hari ini, saya tetap menjaga perilaku seperti 2WW. Meski saya mulai menurunkan tingkat harapan. Prepare supaya ndak terlalu sedih.

3 Juli 2015

Saatnya mengambil rapot kedua. Pagi sekali ke lab untuk memeriksa kadar d-dimer dan BHCG. 

Hasil USG menunjukkan embrio yang nampaknya tidak berkembang dengan baik. Well, sambil menunggu hasil lab,saya mulai menurunkan ekspektasi saya. Bersiap menerima berita yang tak diinginkan. 

Hasil lab pun keluar dan menunjukkan kadar BHCG yang terjun bebas menjadi 0,3 (ndak hamil kurang dari 1).Artinya, embrio tidak dapat menempel ke rahim dan placenta tidak berkembang. Jika placenta tidak berkembang, maka embrio akan mati karena tidak ada nutrisi. Hal ini akan diiringi dengan pengelupasan endometrium. He.. pasti rasanya akan aduhai nih. Kudu siap mental dan fisik!!

Biaya:
  1. Cek d-dimer+BHCG+other                = 1.095.000
  2. Konsul+USG+admin                          =   740.000
Ya.. sudah lah.. setelah dari RS.. saya merasa harus tetap move on. Kalau saya pulang ke rumah, yang ada adalah nuansa melow.. sebab saya rasanya tidak siap memberikan kabar ini kepada orangtua, terutama Ibu saya. Ya sudah, saya kembali ke kantor saja. Mingle dengan teman kantor. Alihkan konsentrasi, supaya ndak larut bersedih. Lagi pula saya jadi melihat segi positifnya, yaitu saya jadi bisa nyetir (sendiri) lagi, jalan-jalan, dan beraktivitas seperti semula tanpa harus bergerak pelan. cihuyyy...
 
Jika ada rejeki lagi.. bolehlah kita coba lagi. Tapi untuk sekarang.. saya masih agak 'pegal' dengan urusan berkonsul ria dan suntik menyuntik. Tanda bekas suntikan pun masih jelas terlihat.

Santai aja kawan, life is not just about one thing, look around.. so many things have to be done. Just cheer, smile, and be sincere..

Nah itulah curhat saya.. pengalaman ini memperkaya ilmu dan khazanah batin saya. hihi.. Baiklah.. sampai jumpa pada rencana selanjutnya :)

Bagian 7, adalah Jurnal Curhat usaha agar tetap bahagia dengan cerita yang berbeda.. sampai jumpa!

-Y-

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (Bagian 5)


Program Bayi Tabung (Probatab)

Bayi tabung merupakan teknologi reproduksi berbantu seperti fertilisasi in-vitro (IVF) atau injeksi sperma intrasitoplasmik (ICSI) yang bertujuan menolong pasangan suami istri untuk mendapatkan anak kandung dengan jalan mengambil sebuah atau lebih sel telur istri, kemudian dibuahi oleh spermatozoa suami di luar tubuh istri dan mengembalikan hasil pembuahan (embrio) ke dalam rahim istri. 

Program ini dimulai saat memasuki hari kedua menstruasi. Gunanya untuk melihat jumlah oocyt yang dihasilkan ovary dengan cara di USG pada saat haid (jangan kuatir Bu, memang risih, tapi bulatkan niat, supaya mengibas segala kejiji'an). Normalnya, oocyt akan berkembang dan umumnya hanya 1 sel telur yang matang pada saat ovulasi. Manakala tidak ada pembuahan, maka akan datang haid. Nah, Probatab ini menstimulasi oocyt agar banyak sel telur yang matang dan dalam kondisi baik. Disebut matang dengan baik, jika diameter sel berkisar 1,6-2 cm. Terlalu kecil tidak bagus, dan terlalu besar pun tidak bagus untuk perkembangan embrio. 
Oogenesis: Formasi Sel-sel Telur

Stimulasi perkembangan ovum dilakukan dengan cara diberikan obat (berupa suntikan) dengan dosis yang dikontrol. Obat-obatan ini bekerja dengan mengatur kinerja hormon estrogen, karena estrogenlah yang merangsang  hypothalamus untuk melepaskan GnRH (Gonadotopin-releasing hormone). GnRH pada tingkat tinggi menstimulus anterior pitutary untuk memproduksi LH (Luteinizing Hormone). LH yang tinggi memicu terjadinya ovulasi. Kira-kira menurut otak awam ya begitu deh intepretasinya. 
LH merangsang Ovulasi

Setelah ovulasi disebut fase luteal, yaitu menjaga kondisi uterus (rahim). LH menyebabkan sel-sel folikel menjadi corpus luteum, kelenjar yang mensekresikan estrogen dan progresteron. Progesteron mendorong perkembangan dinding rahim dan menghambar anterior pituitary mensekresikan LH.
Selanjutnya corpus luteum menjadi tidak berkembang karena tingkat LH menurun, sehingga tidak lagi memproduksi estrogen dan progesteron. Padahal progesteron sangat penting untuk menjaga penebalan uterus. Tanpa progesteron, lapisan dinding mengelupas dan memproduksi aliran menstruasi. Siklus berakhir disertai memulai siklus baru.

Jika kehamilan terjadi, placenta memproduksi HCG (human chorionid gonadotropin) yang menjaga corpus luteum sampai placenta memproduksi sendiri estrogen dan progresteron. Estrogen dan progresteron lanjut menghentikan anterior pitutary, sehingga tidak ada folikel baru yang diproduksi dan siklus berhenti.

29 Mei 2015

 
Sebelum proses bayi tabung, istri perlu melakukan pemeriksaan darah lengkap, gula darah, fungsi hati, fungsi ginjal, hepatitis-B, hepatitis-C dan HIV. Sedangkan suami perlu melakukan pemeriksaan Hepatitis-B, hepatiti-C dan HIV serta analisis sperma. (Terutama) Hasil lab istri diminta segera difax-kan ke dokter, karena ini menyangkut dosis obat yang akan diberikan.

Program ini dimulai pada saat hari kedua menstruasi. Saya menanyakan keterangan mengenai tahapan dan persiapan apa saja yang perlu dilakukan, serta estimasi budget yang perlu disiapkan (di klinik ini, saya menghabiskan total sekitar 60 juta untuk probatab). Kemudian USG dilakukan untuk melihat jumlah oocyt (di dalam folikel-kantung yang berisi sel telur). Selanjutnya mendapatkan stimulasi ovulasi agar supaya lebih banyak sel telur yang dihasilkan. Pengobatan dilakukan sekitar 10 hari dengan diberikan obat suntik tertentu, kemudian akan dipantau perkembangan folikel dengan USG (ultrasonografi) dan pemeriksaan darah. Semua ini dilakukan untuk memantau kematangan sel telur dalam indung telur istri.

Kemampuan wanita untuk menjadi hamil menurun seiring dengan bertambahnya usia. Semakin muda maka kesempatan sukses semakin tinggi. Untuk wanita usia di bawah 35, tingkat kesuksesan IVF adalah 32,2%.

Biaya:
  1. Konsul+USG+Admin   = 740.000
  2. Cek Lab                   = 2.800.000
  3. Obat (Menopur-75(8) + spult (4)  = 5.620.000 (untuk 4 hari)
  4. Suplemen sperma (Vitan)            = 200.000
Obat disuntikan di perut - sub kutan (3 jari di bawah pusar, 3 jari ke kanan atau ke kiri). Perawat akan memberitahukan cara menggunakan obat itu. Hal ini baik, guna mengamati proses penyuntikkan, baik dikerjakan sendiri atau dengan bantuan orang lain/bidan/perawat lain. Sebab penyuntikkan ini, barangkali tidak umum di kalangan medis sendiri.

Jika tidak berani menyuntikkan sendiri, jangan lupa minta surat keterangan dari dokter untuk meminta bantuan tenaga medis lain untuk menyuntikkannya. 

Jika menyuntikkan sendiri: pastikan tangan sudah dicuci, dan rileks. 

Pengalaman pertama: saya datangi rumah perawat untuk suntik setiap jam 7-8 malam. 
Moodswing mulai terjadi, selebihnya merasa excited karena saya mengalami hal ini.

03 Juni 2015

Jam 6 pagi sebelum konsul, periksa kadar estradiol ke lab yang hasilnya difaxkan ke dokter. Lalu ke RS untuk konsul setelah menunggu hasil lab ke luar. USG dilakukan untuk melihat perkembangan oocyt. Kira-kira sejak awal ada 6 oocyt di sebelah kanan dan 5 di sebelah kiri. Ini yang diamati perkembangannya.

Biaya:
  1. Cek estradiol + Cek suami   = 1.350.000
  2. Konsul+USG+admin             = 740.000
  3. Obat (Menopur-75(4)+Gonal F-75 (2)+CTT-0,125(1)+spult(3)) = 4.675.000 (untuk 2 hari)
Dosis obat tergantung dari perkembangan oocyt dan hasil cek estradiol. Biaya obat tiap orang bisa berbeda. 

Kali ini, karena waktu kerja, sulit untuk menyesuaikan dengan hari sang perawat. Kami pun bersiap melakukan sendiri. Meski sudah pernah melihat dan diberikan instruksi oleh perawat, kami juga lihat di Youtube untuk menambah wawasan cara menyuntuk di perut. 
Pengalaman, karena ada janji ketemu kawan, saya minta suami menyuntikkan di mobil ketika parkir di suatu mall. hehe.. 

Jika suami sedang pulang malam atau ke luar kota, ya.. saya suntik sendiri saja. tinggal jus-jus gitu.

Mulai ada biru-biru di perut bekas suntikan. Ini akan menjadi pulau biru yang indah di perut kita. hihi.

5 Juni 2015

Proses sama seperti tanggal 3 Juni 2015. Paling ndak, saya selalu minta ijin kantor setengah hari untuk urusan ini. Suami hanya menemani ke lab saja di pagi hari. Urusan ke dokter, bisa saya tangani. Sebaiknya, terbuka dengan atasan untuk urusan ini. Supaya mereka paham dan mensupport kita. Hal ini sangat baik untuk tetap menjaga konsentrasi dan kinerja kita.

Biaya:
  1. Cek estradiol                     = 395.000
  2. Konsul+USG+admin             = 700.000
  3. Obat (Menopur-75 (4) + Gonal F-75 (2)+CTT-0,125(2)+spult(2)) = 5.030.000 (untuk 2 hari, dosis dinaikkan)
7 Juni 2015

Proses sama seperti tanggal 3 Juni 2015.
Biaya:
  1. Cek estradiol                     = 395.000
  2. Konsul+USG+admin             = 400.000
  3. Obat (Menopur-75 (4) + Gonal F-75 (2)+CTT-0,125(2)+spult(2)) = 5.030.000 (untuk 2 hari).
9 Juni 2015

Dr.Gun sedang ke luar negri. Proses harus tetap berjalan. Maka digantikan dr. Sita. 
Hari ini dilakukan cek penunjang, yaitu ke dokter anestesi dan dokter jantung (dilakukan rekam jantung juga).

Hari ini makan waktu lama di RS. Siapkan fisik, kalau bisa cuti saja supaya rileks. Saya sih tetap kerja setengah hari. 

Biaya:
  1. Cek estradiol                                  = 395.000
  2. Konsul+USG+admin+konsul lain        = 1.015.000
  3. Ovidrel 250 mcgr                            = 800.000
Nampaknya telur sudah matang sehingga tak perlu lagi suntikan di perut, hanya diberikan suntikan intramuscular pada hari itu untuk mengentaskan telur-telur.

Step program masih panjang.. lanjut Bagian 6 ya.

-Y-

Minggu, 03 Mei 2015

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (Bagian 4)

7 April 2015, Inseminasi II

Kami utarakan kembali untuk melakukan inseminasi. Dr. Gun menghitung masa subur saya dan menyarankan agar kembali pada waktu yang ditentukan. 

Biaya:
  1. Konsul + admin = 340.000
  2. Obat                = 160.000
15 April 2015 

Dr. Gun sedang ke luar kota, lalu digantikan oleh dr. Sita. Setelah di USG diketahui bahwa ovum saya belum matang benar. Lalu saya diberi suntikan pemecah telur, yang dilakukan oleh perawat. Saat ini tetap dilakukan inseminasi dengan harapan besok pagi ovum sudah matang dan sperma masih bertahan di dalam rahim.

Inseminasi dilakukan dengan prosedur yang sama dengan sebelumnya, yang beda hanya harganya. hihi..

Biaya:
  1. Konsul + admin                         = 340.000
  2. Suntik pemecah telur                = 470.000
  3. Inseminasi                                = 1.750.000
16 hari setelah inseminasi terjadi bloody friday. hehe.. saya belum berhasil untuk hamil. Okeh.. pengalaman yang menarik.

Untuk sementara, konsul rehat dulu. Mental dan fisik disiapkan untuk step selanjutnya, yaitu program bayi tabung (protab).

Lihat bagian 5 ya :)


-Y-

Minggu, 05 April 2015

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (Bagian 3)

6 Maret 2015, Inseminasi I

Konsul lagi dengan dr. Gun. Dilakukan USG untuk cek jumlah sel telur (ovum). Kami menanyakan cara-cara medis untuk mengupayakan kehamilan. Dokter menjelaskan tentang definisi dan prosedur inseminasi dan bayi tabung. Sebagai tahap awal kami berencana untuk lakukan inseminasi. Saya diberi obat stimulasi ovum. Selanjutnya jika perlu dilakukan pemantauan ovum.

IUI
Inseminasi atau istilah medisnya Intrauterine Insemination (IUI) adalah perlakuan kesuburan dengan cara menempatkan sperma di dalam rahim wanita untuk memfasilitasi pembuahan. Tujuan dari IUI adalah untuk meningkatkan jumlah sperma yang mencapai saluran tuba dan kemudian meningkatkan kemungkinan pembuahan.

Biaya:
  1. Konsul + admin = 340.000
  2. USG                 = 300.000
  3. Obat clovertil + prohelic = 640.000
13 Maret 2015

Idealnya inseminasi ini dilakukan pada saat sel telur sudah matang, sehingga saat sperma dimasukkan, maka terjadi pembuahan. Meski siklus haid cukup teratur, namun cukup sulit bagi dokter untuk menentukan kapan sel telur tepat menjadi matang.

Konsul kali ini untuk melihat besar sel telur dan menentukan kapan inseminasi bisa dilakukan.

Biaya:
  1. Konsul + admin = 340.000
  2. USG                 = 300.000
Jika waktunya kurang tepat, ya harus datang lagi. Untuk Pasutri yang bekerja, tentunya menjadi urusan untuk minta izin dari kantor untuk konsul-konsul ini.

17 Maret 2015

Oke.. ini waktu yang tepat untuk dilakukan inseminasi. Sel telur cukup matang dan siap dibuahi. Disebut matang ketika diameternya mencapai minimal 1,6 cm. Sel sperma dilakukan "washing" untuk mendapatkan sel-sel sperma yang motil (dapat bergerak aktif), sedangkan yang tidak motil dibuang.

Tindakan dilakukan oleh dr. Gun, pasien direbahkan, dan dengan memasang cocor bebek di vagina lalu sperma dimasukkan ke rahim dengan menggunakan kateter. Prosedurnya hanya kurang dari 10 menit. Setelah inseminasi, pasien diminta tiduran selama 30-60 menit. Kemudian dibolehkan pulang dan diminta konsul lagi 2 minggu kemudian.


Rasanya saat dilakukan insemininasi:
Sedikit tidak nyaman, tapi tidak membuat mual atau keram.  

Biaya:
  1. Konsul + admin = 340.000
  2. Inseminasi        = 1.750.000 (termasuk USG dan washing sperma)
Efek samping mengonsumsi obat:
Moodswing, menjadi sensitif dan ekspresif, mudah marah dan mudah nangis. Saya nonton iklan di tv aja bisa nangis. hehe.. (sekali lagi.. efek samping ini dapat berbeda setiap orang).

31 Maret 2015

Kembali konsul karena sudah 2 minggu, kali ini dr. Gun sedang tidak bertugas, hanya ada dokter-dokter junior. Dilakukan USG dan menunjukkan hasil dinding endometrium menebal. Namun, dokter tidak bisa memastikan apakah penebalan endometrium karena hamil atau fase menuju menstruasi. Hal ini karena tanda-tanda antara hamil dan haid pada endometrium itu hampir sama. Lalu saya diresepkan obat penguat rahim, manakla haid diminta stop meminumnya.

Biaya:

  1. Konsul + admin = 340.000
  2. USG                 = 300.000
  3. Obat penguat rahim (duphaston) = 200.000
Dua hari setelah konsul, akhirnya saya haid. Padahal sudah telat haid, tapi baru telat 2 hari. Hehe.. rupanya saya terlalu pede menghitung hari haid. Penebalan dinding rahim pun ternyata menuju proses peluruhan. hihi.. dokternya memberiku harapan. Tapi saya juga ga yakin sih sama diagnosanya.. nampak ragu sebab saat melihat hasil USG. Maklumlah dokter junior.

Enjoy menjalani proses ini. Karena ini adalah hal baru untuk saya dan suami. Meski belum berhasil, tetap saya merasa excited.

Lanjut ya.. ke Bagian 4. 

-Y-

Perkawinan Tanpa Anak (Bagian II)

Saya pernah menulis tema yang serupa dua tahun lalu (baca: Rumah Tangga tanpa Kehadiran Anak). Waktu itu, saya menulis alasan telah menunda untuk memiliki anak selama lima tahun. Dan tulisan kali ini, masih seputar tanpa kehadiran sang buah hati di dalam rumah tangga.

Anak dan Bahagia

Di lingkungan saya dibesarkan, dan di Indonesia pada umumnya atau bahkan (sebagian besar) negara di dunia, jika memutuskan untuk tidak memiliki anak di dalam rumah tangga merupakan hal yang tidak dapat diterima oleh sosial. Hal ini karena Perempuan (nampaknya) ditakdirkan untuk menjadi seorang Ibu. Meskipun keputusan ini bersifat privat, namun masyarakat sudah terpakem menyukai perempuan yang keibuan (baca perempuan yang memiliki anak). Sedangkan, melihat perempuan menikah (di usia yang matang-mid-30-40an) yang tidak punya anak, maka perempuan itu dianggap kurang sempurna, tidak normal, dan dikasihani. 

Saya pribadi dapat memahami anggapan tersebut. Biasanya, anggapan tersebut tentu munculnya dari pasangan menikah yang sudah memiliki anak. Karena mereka pasti tidak dapat membayangkan rumah tangga mereka apabila tanpa anak, terasa sepi, tidak bahagia dan terasa hidup ini tidak lengkap. 

Dari sebuah studi, saya dapati hasil survei dari pasangan yang telah memiliki anak, mengenai siapa yang paling penting di dalam hidup ini bagi sang ibu dan sang ayah. Jawabannya cukup mengejutkan bagi saya: para Ibu menjawab anak, sedangkan para ayah menjawab pasangan. Mengapa bisa berbeda, bagi saya alasan cukup jelas mengapa anak mendapat tempat yang utama bagi para Ibu, hal ini karena merekalah yang mengandungnya sehingga ikatan psikologis menjadi sangat kuat. Hal ini pula yang menjadi dasar, mengapa (mayoritas) para Ibu yang sudah memiliki anak, kemudian menjadi melihat berbeda kepada perempuan menikah yang tidak memiliki anak.

Bisa dikatakan bahwa secara umum, tak sedikit yang menganggap anak adalah sebagai pengikat keharmonisan perkawinan dalam rumah tangga. Namun, apapun alasannya, saya paham mengapa masyarakat yang punya anak tidak bisa memahami kebahagiaan perkawinan orang-orang yang tanpa anak. Tentu saja, karena bagaimanapun, mereka tidak pernah bisa "memakai sepatu yang sama". Begitu pula sebaliknya kira-kira sama seperti saya, yang tidak bisa memahami kebahagiaan pada perkawinan orang-orang yang memiliki anak. Hmm.. Terdengar adil bukan...

Now I am Childless, not Childfree anymore


Keputusan untuk tidak punya anak (child free), berbeda dengan tidak bisa atau tidak mau memiliki anak (childless). Childless bisa berarti tidak bisa memiliki anak biologis, atau bisa juga berarti tidak mau mengadopsi anak. Asumsi yang tidak terucap dari masyarakat yang melihat pasangan tanpa anak adalah mereka tidak seperti itu karena pilihan, melainkan berurusan dengan masalah infertilitas yang dapat menghancurkan secara emosional. Mudahnya begini.. secara umum, masyarakat akan menilai bagi pasangan yang tidak punya anak karena salah satu dari mereka itu tidak subur.  

Pada lima tahun pertama perkawinan saya, kami (saya dan pasangan) memutuskan untuk child free (lihat blog ini). Kemudian, dua tahun terakhir ini, perkawinan kami adalah childless. Namun, di mata sosial, saya adalah wanita di usia 34 yang telah menikah 7 tahun dan belum juga memiliki anak, serta nampak terlihat seperti orang yang memerlukan pertolongan untuk segera mempunyai keturunan. 

Namun sesungguhnya, saya dan pasangan merasa selalu nyaman dengan keputusan ini (childless). Kalau orang-orang tanya pada kami: sudah punya anak berapa? jawaban yang paling aman adalah doakan kami ya. Meski tentu, kami ingin sekali menyampaikan bahwa mereka tidak perlu kasihan kepada kami, karena kami sudah dalam keadaan bahagia.    

Kata Orang Tua: Penyesalan

Secara statistik di Amerika menunjukkan bahwa 19% antara usia 18-29 tahun, dari mereka tidak menginginkan anak-anak. Namun, ekpektasinya dengan kenyataan di sini sungguh berbeda, karena semua Ibu (yang menikah) pada usia itu selalu ingin segera punya bayi untuk menjadi teman atau sahabat mereka.

Hal ini pun menjadi perhatian bagi para orang tua kepada anak mereka yang telah menikah (anak dewasa). Para orangtua ingin anak dewasa mereka memiliki cucu-cucu karena baik untuk kebahagiaan mereka sendiri (orang tua) dan kebahagian untuk anak dewasa mereka. Para orang tua khawatir bahwa anak dewasa mereka akan mengubah pikiran mereka nanti, jika sudah tua tentang karena terlambat memiliki anak-anak dan dipenuhi dengan penyesalan. Para orang tua berduka bahwa anak mereka akan kehilangan pengalaman mereka saat dihargai-memegang bayi, mengajar anak sekolah, bagaimana naik sepeda, memilik sekolah tinggi dan menjadi heran jika mereka (para orangtua dulu bisa) bertanggung jawab. Para orangtua ini ragu kepada keputusan anak-anak dewasa mereka untuk childless dan bisa bahagia. Mereka takut anak-anak dewasa mereka menyesal.

A little curhat
Saat reuni, di lingkungan kantor, atau keluarga, topik anak adalah topik yang tidak ada habisnya untuk dibahas untuk saling menimpali. Terkadang menjadi awkward saat saya coba timpali pakai cerita ponakan, hehe.. maksudnya biar ndak merusak suasana begitu. Jadi saya coba mingle tapi ya menceritakan pengalaman ponakan. Jadinya ya begitu... agak aneh.

jika jumpa kawan sebaya, percakapan basa-basi pun tidak banyak yang bisa dilontarkan karena jika mau menceritakan soal anak mereka, paling saya cuma bisa jadi pendengar yang tidak baik. hehe.. saya suka anak-anak, tapi (seringkali) malas dengan percakapan yang tidak dua arah.

Saat ini saya tahu bagaimana rasanya mengharapkan kehadiran anak. Namun, percayalah.. dukungan yang datang dari orang-orang yang sudah memiliki anak, rasanya seperti olokan. Karena suara-suara sumbang acapkali terdengar seperti alih-alih mendorong semangat kami, malah seperti bluffing tentang kebahagiaan rumah tangga mereka. Sebab bagi mereka (kelihatannya), kami seperti pasangan yang tidak bahagia. Akan tetapiiii... curahan hati dari kawan-kawan yang juga mengharapkan punya anak dan belum punya anak.. rasanya seperti siraman rohani lho. hehe.. Itulah sosial. Kita seringkali merasa nyaman karena berada di lingkungan yang sama. 

Childless and Happy
Kebahagiaan tentulah masalah pilihan. Saya dan suami selalu nyaman dengan keputusan ini yaitu childless dan happy!.

Non Parents

Let's say, kebahagiaan parents (punya anak) dan non parents (tanpa anak) tidak bisa disamakan. Niscaya dong. Sebab masing-masing punya sudut pandang untuk ruang kebahagiannya sendiri. Buat Parents, silakan anda browse tentang kebahagiaan anda. Di sini saya yang childless akan mengurai kebahagiaan versi sendiri. Mengapa? karena saya ingin semua tahu, bahwa tanpa anak dalam rumah tangga bukanlah hal aneh, kami bukan orang aneh atau alien, kami hanya berbeda.  

Saya memang mengharapkan anak, namun saya tidak pernah berkecil hati karena tidak ada buah hati dalam perkawinan saya. Hal ini karena banyak sekali yang mengisi hidup kami. Kalau bisa digambarkan kebahagiaan berupa benjolan, rasanya tubuh saya pasti sudah bengkak dari ujung kepala sampai ujung kaki karena dipenuhi oleh benjolan-benjolan kebahagiaan. Sayangnya, bahagia itu tidak kasatmata. Jadi tidak ada yang bisa menilai siapa yang bahagia atau tidak di dunia ini.

Semua pasti setuju, bahwa perkawinan adalah landasannya cinta. Namun ndak perlulah saya mengumbar-umbar kemesraan di dalam rumah tangga karena hal (kemesraan) ini saya anggap sudah wajar. Perkawinan selama tujuh tahun ini, kami lalui dengan santai dan wajar. Kami berdua melakukan hal-hal yang selalu kami senangi. Di awal pernikahan, saya bergantian dengan suami melanjutkan strata dua hingga selesai. Pekerjaan dan karir pun berjalan lancar. Ditengah rutinitas dan kesibukan kami, hubungan dengan orang tua dan mertua diupayakan tetap harmonis. 

Di akhir pekan biasanya menjadi hari istirahat dan malas sedunia.. kami bangun siang, bersiap, lalu jalan-jalan, kadang jika rajin maka olahraga bareng. Kalau saya lagi semangat, setiap pagi saya siram tanaman dan di akhir pekan mengolah tanah-tanahnya agar tetap gembur. Nonton bioskop menjadi rutin setiap bulan. Satu hal yang paling saya nikmati adalah, dapat membaca buku favorit dengan nyaman, dan suami bebas banget main fallout. hihi..

Intinya adalah hobby dan pekerjaan dapat dilakukan dengan optimal. Urusan berwisata ke luar kota dan nonton Javajazz diupayakan menjadi agenda tahunan. Saya pun tetap dapat berkumpul dengan kawan-kawan. Urusan finansial, dapat diatur dengan baik. Kami tidak kekurangan dan tentu juga tidak terlalu berlebihan. 

Tak ada alasan buat kami untuk tidak bahagia. Dan masih banyak lagi kebahagiaan yang bisa kami urai, yang kalau diteruskan malah jadi ndak baik thooo.. pamer! 

Sebenarnya ini supaya jelas saja, bahwa kami tanpa anak di perkawinan selalu mesra, merasa damai dan tentram serta bahagia. Dan keadaan itu kami jaga baik-baik. Seperti pada umumnya tujuan hidup bagi kita semua. 

--
Jadi, keputusan perkawinan dengan anak atau tanpa anak, marilah menjadi urusan pribadi. Try not to hurt others ... i know it's not easy :) 

-Y-

Kamis, 05 Maret 2015

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (Bagian 2)

18 Feb 2015, USG SIS

Karena pada konsul pertama belum membuahkan hasil. Di bulan berikutnya saya konsul lagi. Saat itu, dr. Gun sedang tidak bertugas, maka saya konsul dengan dr. Ichnandy. 
Beliau membacakan hasil cek sperma dan melakukan USG lagi kepada saya. Dari hasil lab, diketahui sel sperma suami kurang excellent, sehingga perlu mengubah gaya hidup, seperti stop kopi dan mie instan, kurangi minum teh, olahraga dan makan-makanan bergizi tinggi.

Dari hasil USG, beliau melihat ada penyempitan di tuba falopi saya di sebelah kiri, meski tidak terlalu mengkhawatirkan, namun beliau tetap menganjurkan untuk dilakukan tindakan agar tuba falopi menjadi normal. Hasil ini sama seperti pemeriksaan dengan cara hidrotubasi ketika saya periksa tahun 2013.

Beliau memberikan alternatif untuk mengurangi penyempitan tersebut, dengan penangkapan saya yang kurang, berikut ini 2 cara tsb dan perbedaannya: 
  • HSG (Histerosalpingografi), yaitu pemeriksaan sinar X-ray dengan memakai cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim dan saluran telur (tuba fallopii). Kekurangannya kata dr. Ichnandy, cara ini bisa merusak sel-sel yang dilalui cairan kontras itu.
  • USG SIS (Ultrasonography Saline Infusion Sonohysterography), yaitu memakai alat USG dan memasukkan cairan saline steril ke dalam rongga rahim. Kliatannya, ini adalah cara paling baik dibandingkan dengan hydrotubasi dan HSG. Karena dengan cara ini, cairan saline dapat mengatasi penyempitan saluran tuba tanpa merusak sel-sel di sekitarnya.
Biaya:
  1. Konsul + administrasi = 240.000
  2. USG                          = 300.000
  3. Tindakan USG SIS      = 250.000 
  4. Obat penguat rahim (ulgestron) +Suplemen penyubur sperma (vitan) = 500.000
Rasanya saat dan setelah tindakan USG SIS:
Keram, nyeri, ngilu di perut (rasanya aduhai deh.. hehe..) dan mual banget (saya sampai muntah di RS). Tapi santai saja, setiap orang pasti beda-beda reaksinya terhadap suntikan cairan Saline itu.

Sip.. cek saluran rahim sudah dan sekarang sudah lancar. Lalu usaha lagi dengan cara alami, sambil saya tetap mengonsumsi obat penyubur.

Setelah masa subur dilalui lalu saya mengonsumsi obat penguat rahim, sayangnya, dinding endometrium berguguran dan luruh, artinya saya haid. Hehe.. saya belum juga hamil. Buat saya tetap lumayanlah, ada pengalaman dan pengetahuan baru :) 

Lanjut ya.. ke Bagian 3. 

-Y-

Minggu, 08 Februari 2015

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (Bagian 1)


"Setiap orang memiliki kebutuhan, keyakinan, pengetahuan dan rencana dalam menjalani hidupnya masing-masing. Tentu tidak harus sama dan pastinya berbeda dalam detail."

Masyarakat kita sungguh menjunjung tinggi ikatan kekeluargaan, di mana unsur yang terlibat adalah orangtua dan anak, lalu berkembang menjadi sebutan nenek, kakek, ibu, ayah, anak, cicit, tante dan lain-lain. Untuk kemudian, saya akan sedikit membagi pengalaman tentang rencana memiliki anak. Pertama, saya berusaha dengan mengikuti program agar bisa hamil (bahasanya ndak enak ya. hehe..).

Keputusan yang saya ambil tentu melibatkan persetujuan dari pasangan. Apapun yang telah terjadi, bukanlah tanpa alasan. Adapun kejadian yang saya dan pasangan alami, pastilah sesuai dengan kondisi, waktu, pemahaman, dan kemampuan yang kami miliki. Jadi, kami seringkali (sengaja) acuh dengan apa yang orang katakan tentang kami.

Uterus
Di awal menikah, saya coba ke dokter kandungan. Saya datang sendiri. Niat saya memeriksakan kandungan. Lalu dokter kasih obat yang terkait dengan TORCH. Saya tahu ini tahap awal, sekedar untuk mengetahui kondisi kesehatan kandungan saja. Lalu untuk pengecekan rutin, saya lakukan pap smear. Kami menunda kehamilan selama hampir enam tahun. Penundaan dengan cara alami, tanpa alat KB. 

Pada tahun keenam, tahun 2013, kami berniat untuk punya momongan. Kami coba dengan cara alami. Untuk itu, kami mulai cari info dokter yang bisa memeriksa kondisi kandungan lebih dalam. Dengan bermodalkan tanya kepada orang yang berpengalaman. Lalu saya mendapat referensi Prof. Marsis. Saya dan pasangan konsul di RS Bunda (pasiennya banyak, antrinya lumayan.. hehe..). Hasilnya, saya disarankan untuk melakukan hidrotubasi

Prinsip hidrotubasi adalah meniupkan cairan dengan alat melalui vagina hingga menuju saluran telur. Lebih lengkapnya bisa dibaca di Link ini. Hehe.. sayangnya dengan metode ini, pasien harus dibiuskan dan tindakan dilakukan di kamar operasi. Tindakan hirotubasi ini dilakukan di RS. Budi Jaya.  

Hehe. jadilah saya dibius. Tindakannya sekitar 10 menit saja, tapi sisa obat biusnya sekitar satu-dua jam. Setelah itu, terasa mual dan saya muntah. Kata orang, ya begini rasanya hangover. hihi..

Hasilnya, kata suami saya dari infonya perawat kalau pada saluran tubanya ada sumbatan di sebelah kiri, namun tidak terlalu berbahaya. Perlu diterapi, (semacam alat yang memancarkan hangat), supaya bisa normal. Saat saya sadar, Prof. nya sudah pulang. Jadi memang kudunya sih konsul lagi. Tapi karena saya pada waktu itu trauma dengan tindakannya, maka saya males konsul lagi.

Jadi, ceritanya saya abaikan saja hasil dan saran perawat itu. Kami lanjutkan rencana memiliki anak dengan mengandalkan kalender. Oh iya, ada aplikasi android untuk mengetahui kapan kita ovulasi, masa subur, dan mulai haid lho. Menarik lho dan cukup akurat, namanya: MyDays. Selama hampir satu tahun kami lakukan cara alami, ternyata belum membuahkan hasil.

Tahun 2015, kami mulai berniat periksa ke dokter dengan intens. Saya mulai rajin menanyakan kepada teman-teman yang sudah pernah hamil. Setiap dokter yang direferensikan, kemudian saya cek di internet mengenai profil dokternya. Saya telusuri testimoninya. Saya cari tempat dan waktu praktiknya. Selain itu, saya buka situs-situs chat di internet mengenai profil dokter, seperti di ibuhami.com, theurbanmama.com, infobunda.com, dll. Karena keinginan saya adalah memiliki anak, maka saya cari dokter yang memiliki keahlian tentang fertilitas. 

Akhirnya, saya dapat referensi dr.Gunawan Dwi Prayitno. Beliau praktik di RSPAD, Gatot Subroto Klinik Fertility Center setiap selasa dan jumat jam 09-12 WIB. Melihat jadwal praktiknya di hari kerja, saya dan suami mengambil beberapa hari cuti agar tidak diganggu oleh pekerjaan.  Saya mendaftar melalui Paviliun Kartika RSAPD.

Di awal pemeriksaaan, dokter menanyakan riwayat kami, jadi kami ceritakan tentang pernah hidrotubasi oleh Prof Marsis. Lalu dr. Gunawan melakukan USG. Tenang aja Bu, kalau hanya USG, dipersiapkan oleh perawat/suster, dokternya tinggal menggerakkan tangkainya saja dan melihat ke monitor TV, jadi suami juga dapat melihat hasilnya. 

Saat kontrol pertama kali, saya dalam keadaan masa subur. Jadi kelihatan sel telur di dalam saluran sebelah kiri. Dokter menyarankan agar suami juga diperiksakan spermanya. Lalu saya diberi resep dan jadwal untuk melakukan senggama.

Biaya yang dihabiskan, 23 Jan 2015:
1. Konsul + admin = 240.000
2. Periksa sperma = 150.000
3. Obat penyubur wanita (prohelic)= 195.000
4. Obat penguat rahim (dupaston)= 400.000

Usaha ini belum berhasil membuat saya hamil. Selanjutnya, saya akan sharing pengalaman saya. Sengaja menampilkan biaya yang dikeluarkan supaya juga menjadi perhatian bagi yang lain saat hendak melakukan program ini. Karena program ini, mestilah di luar biaya tahunan rumah tangga, apalagi biaya bulanan. Jadi soal budget, menurut saya penting sekali untuk kesehatan kantong kita. Hehe..

Berikut ini ada tips, meski saya belum berhasil hamil.. paling ndak berdasarkan pengalaman.. ada baiknya sih tips berikut ini diperhatikan. Baik untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. hehe..


Tips untuk rencanakan kehamilan (ini berlaku untuk suami dan istri):
  • Makan-makanan yang bergizi dan sehat, dan hindari makanan dengan pengawet dan kopi (karena dapat menurunkan kualitas sel-sel primordial). 
  • Olahraga yang teratur : selain dapat membugarkan tubuh, juga dapat membuat kita happy dan selalu berpikir positif. 
  • Untuk menetukan dokter pilihan, sebaiknya browsing dan cari tahu sebanyak-banyaknya tentang profil dokter dan jadwal prakteknya tsb. Baca testomi dari internet atau tanya kepada teman yang berpengalaman.
  • Pilih lokasi praktek dokter yang mudah dijangkau untuk menghindari stres yang tak perlu karena macet dan menunggu terlalu lama.
  • Atur waktu luang anda dan pasangan yang memang didedikasikan untuk konsultasi. Sebaiknya ajukan cuti, agar konsultasi dapat berlangsung rileks dan nyaman.
  • Selalu berpikir positif : untuk menerima apapun keadaaan yang kita alami.
  • Cari tahu tentang metode dan biaya periksa kandungan dan sperma. Supaya dapat dimasukkan pada budget rumah tangga, karena biaya tidak sedikit menurut saya.
  • Cari tahu tentang cara dan biaya untuk memiliki anak dengan cara tidak alami. Untuk dapat disesuaikan dengan kemampuan finansial kita.
  • Jika memungkinkan, terbukalah dengan keluarga mengenai kondisi anda, supaya mendapat dukungan moral dan siapa tahu juga dapat dukungan material. hehe..
Sekian dulu, akan saya sambung lagi di Bagian 2.

-Y-

gentle and tender

..tulang makin terasa lemah, pelan-pelan merawatku.. dengan sabar kau ucapkan huruf demi huruf dan menuntunku memahami kata-katamu  semangat...