Yang menarik perhatian saya dari tulisan ini mengenai fenomena pejabat dan barang mewah yang melekat dan terdokumentasi oleh publik, berikut saya kutip "Seabad lalu, jauh sebelum internet ditemukan, ekonom Thorstein Veblen sudah punya jawabannya. Dalam teorinya tentang conspicuous consumption, Veblen menjelaskan bahwa barang mewah dibeli tidak hanya untuk difungsikan, tapi juga untuk dipertontonkan."Masih dari bacaan itu, jadi barang mewah yang dipakai, bukan hanya dipakai atau dibeli untuk fungsinya yang optimal, tapi ada nilai yang hendak ditunjukan ke publik sebagai tanda atau status sosial yang ingin disampaikan. Kini, masyarakat kita lebih cepat dan tertarik membaca tanda dibandingkan data. Sehingga hal seperti ini, di mana jika pejabat publik memakai tas, sepatu, atau jam yang mewah akan dengan mudahnya menjadi perbincangan di media sosial. Karena ketika tersemat kata "publik" bagi para pejabat, maka ada kontrak sosial yang harus dipanggul bagi dirinya dan keluarganya sehingga tidak memiliki keistimewaan untuk bebas dari sorotan media, seperti umumnya warga biasa jika menggunakan barang mewah. Ditambah lagi, bagi pejabat publik dengan barang mewah maka akan tergambar jarak sosial dan tentu akan masuk konteks beragam yang akan diberikan. Di akhir tulisan, diimbangi dengan solusi, jika barang premium dipakai dari buatan lokal yang tentu tidak mengurangi kemewahannya, maka masyarakat akan cenderung lebih memaafkan kemewahan karena setidaknya menyumbang uang untuk negeri sendiri sekaligus mempromosikan.
Yang dimaksud barang mewah contohnya Gucci, LV, Hermes, Chanel. Kalau foto itu bukan barang mewah, cuma pemanis aja.
Saya titip buat baca ini, karena bagus dan ada solusinya. Kapan ya bisa nulis seperti itu, bagus, lugas, topik terkini, ada teori dan konteks saat ini, positif dan analitis, serta ada solusi. Keren banget Bu Petty.
YA