Tampilkan postingan dengan label Belajar Tari Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Tari Jawa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juni 2025

Menari - Bangga - Bahagia 😇

Saya sungguh berlimpah berkah dan sangat beruntung

Tak disangka seorang yang terhormat menunjuk saya untuk menjadi bagian tim menari Bedhaya Catur Sagotro

Tarian bersahaja, patriotik, dengan nuansa kombinasi beberapa warna.

Bersama para penari, yang saya tidak pernah terpikir atau bahkan berani bermimpi, bisa menari bersama.

Bersama para penari profesional, guru-guru penari, penari senior dengan pengalaman yang tak terhingga, saya mendapat kesempatan untuk dapat menari bersama mereka. Ya ampun.. sungguh saya bejo tiada tara.

Kebanggaan yang mampu saya urai:

  • saya dipilih langsung oleh seseorang yang humble nan dihormati.
  • saya diberi kesempatan dan kepercayaan menari tarian yang sangat keren.
  • kesempatan dan pengalaman menari bersama para guru-guru tari dan profesional yang luar biasa.
  • kesempatan menari bersama gamelan dari sanggar budaya ternama Catur Sagotro Nusantara
  • kesempatan dan pengalaman belajar dari para penari canggih
  • kesempatan menari di acara artis negri ini, anaknya Ahmad Dhani
  • kesempatan menari di JCC Senayan, Kamis, 19 Juni 2025
  • kesempatan menikmati suasana yang tak ternilai ini



Alhamdulillah, atas berkah ini. Terima kasih buat sanggar menari saya yang sudah memberi ruang buat saya menarikan tarian ini di tahun lalu, dan terima kasih untuk teman baik yang senantiasa menularkan semangat dan menciptakan kesempatan ini. 

Saya berupaya tampil maksimal dengan berupaya sebaik mungkin. Sungguh saya menikmati prosesnya. Senang sekali membuat keluarga ikut bangga atas pencapaian ini. 

Ayah pasti bangga di sana😇😇

tabik 

-YA-

Minggu, 02 Juni 2024

Belajar Menari dengan Legowo

Saya sedang belajar menari.

Dengan belajar menari, saya dapat merasakan bahagia, menikmati raga yang sehat, dan rupanya satu hal lagi yang saya pahami adalah pengalaman untuk belajar berserah diri saat menari di panggung bersama teman-teman penari. Pengalaman tersebut dialami dengan proses yang saya nikmati. 

Gerak "sembahan silo" Bedahaya Duradasih, Penari "Arkamaya Sukma", 26 Mei 2024, Surakarta, foto Cokhy
Gerak "sembahan silo" Bedahaya Duradasih, Penari "Arkamaya Sukma", 26 Mei 2024, Surakarta, foto Cokhy

Saya belajar menari dengan melatih iklas, menata pikiran dan hati, serta membuka diri agar lapang dada dengan jalan melawan hawa nafsu dengan menekannya perlahan-lahan. Nafsu amarah, nafsu terhadap kesenangan yang berlebihan, nafsu terhadap keinginan yang tak ada habisnya. Proses menahan hawa nafsu yang tak perlu dilakukan serba tergesa, cukup perlahan dengan menakar dari kemampuan saya sendiri dengan tujuan yang terbaik. Saya belajar ini dari semangat yang sama yang saya peroleh dari kempel itu.  

Saya beruntung mendapat komunitas yang memiliki kekuatan yang sama untuk ingin terus belajar meningkatkan kualitas gerak, ingin bersama-sama lekat dan lebur, ingin bersama-sama menghargai dan tenggang rasa. 

Dengan belajar menari, saya diajarkan untuk legowo atau berserah diri dengan apapun yang terjadi setelah sebelumnya berupaya kuat dengan ikhtiar dan menyerahkan segalanya pada semesta. Legowo merupakan bentuk doa dan kontemplasi, adalah suatu hal yang membuat saya menemukan kedamaian.  

Salam budaya,

-YA-

Belajar Menari dengan Kempel

Saya ingin mengurai di sini tentang kempel dalam menari. Tentu tulisan ini maksudnya supaya saya bisa membaca kembali sesuatu yang menarik bagi saya, yaitu kempel.

Kempel adalah istilah dari bahasa Jawa yang kerap guru menari saya sampaikan dan semakin ke sini, semakin saya mulai paham akan pentingnya hal ini. Dari kamus bahasa Jawa, kempel ini ada 2 arti yaitu lekat-lekat, lengket atau tidak hancur/remuk; dan kumpul. 

Posisi "jengkeng" Bedhaya Durodasih, Penari "Arkamaya Sukma", 26 Mei 2024, Surakarta, foto Cokhy
Posisi "jengkeng" Bedhaya Durodasih, Penari "Arkamaya Sukma", 26 Mei 2024, Surakarta, foto Cokhy

Dalam menari sungguh ditekankan untuk dapat melakukan gerak tari yang sejalin dengan para penari lainnya. Maksudnya adalah agar saya tidak menari sendiri tanpa memperhatikan gerakan penari lainnya terutama yang terdekat dengan saya, misalnya rekan penari di sebelah saya atau di depan saya. Karena menari bersama grup artinya adalah satu gerak melekat satu sama lain yang berkumpul hingga aura gemulai indah akan dirasakan oleh yang menonton. Kempel menuntun saya untuk peka tidak hanya terhadap apa yang sedang saya lakukan, tetapi terhadap yang terjadi di sekitar saya untuk segera saya melebur dengan tarian yang dibentuk oleh grup. Dengan begitu maka saya diajarkan untuk menurunkan level ego atau ke-aku-an dan melatih tepa selira. Sungguh indah bukan,

Dengan kempel ini, saya diajarkan untuk dapat memilah kata dan waktu yang tepat jika ingin menyampaikan suatu hal terkait dengan kualitas gerak dengan sesama penari. Jika tak mampu mengetahui hal itu, maka diam adalah yang terbaik dan fokus pada terus mencari gerak dan belajar meningkatkan kualitas gerak tari diri sendiri yang tepat. Saya berupaya menyerahkan segala kritik dan saran dengan sesama penari kepada bu guru menari yang adalah paling sempurna untuk hal tersebut. Namun demikian, saya senang dan terbuka jika sesama rekan penari memberikan masukan atas tarian saya, karena sama-sama belajar menjadi memiliki empati yang biasanya sama dalam prosesnya. Saya berupaya siap membuka pikiran saya untuk belajar menerima masukan dan memperbaiki mutu menari.

Kempel ini membuat saya belajar akan nikmatnya solidaritas. Penari-penari yang berbeda latar belakang, motif menari, dan apa yang ada dalam isi kepala, tentu menjadi lebur saat ingin menghasilkan tarian yang indah. Saya suka suasana ini. Bu Guru selalu memberikan yang terbaik untuk melatih kami dengan segala cara dan metodenya. 

Dengan segala keterbatasan waktu, sisa energi, dan prioritas, serta stamina yang terbagi antara berkesenian dan kehidupan sehari-hari, saya dengan bangga dan bahagia bergabung dengan komunitas ini dan telah dididik oleh bu guru menari yang saya hormati. Saya dapat merasakan gairah dan semangat dari Bu Guru saya yang ingin menciptakan suatu karya yang apik dari kami (saya dan rekan penari) yang penuh keterbatasan ini. Bu Guru telah menularkan saya gairah itu, dan memberi  saya pengalaman untuk terus belajar kempel dan bersama-sama menari dengan bahagia. 

Ya.. saya bahagia. Terima kasih Bu Guru.

Salam kempel,

-YA-

Belajar Menari dengan Wirama

Saya sedang belajar menari. 

Dengan berlatih menari, saya belajar berkesenian. Suatu seni gerak yang menuntut fokus dan melatih kepekaan serta mengajarkan hikmah legowo (legawa atau berserah). Fokus terhadap hapalan gerak yang tepat dan runut, menitikberatkan detail kesesuaian antar anggota tubuh, duhai wajah dan tolehannya sambil menunjukkan ekspresi, bersamaan dengan jemari yang lincah mengikuti arahan sang pergelangan tangan, yang senantiasa seiring dengan langkah kaki atau sesekali hentakan kaki menebaskan samparan (kain panjang di ujung kaki) hingga nampaklah kekuatan gerak dan kain yang dikenakannya. Menari yang mengolah gerak tubuh ini, melatih fokus dan kepekaan terhadap alunan musik disepanjang prosesnya. 


Bedhaya Durodasih bersama Arkamaya Sukma, acara Nemlikuran (26 Mei 2024), SMKN 8 Surakarta, foto by @panglembara (IG)

Fokus yang memerlukan ketenangan berpikir dan mengenal nada. Saat ini saya merasa sediikiiit ada perkembangan dengan mulai mengenal irama dibandingkan 5-7 tahun lalu, meski demikian saya sekarang ya masih buta akan alunan indah nada dari musik gamelan saat saya menari. Sungguh proses yang masih sangat panjang untuk dapat memahaminya. Padahal gerakan yang sesuai dengan irama dari alunan gamelan adalah syarat penting untuk dapat menciptakan gerakan yang indah. Wirama kata guru saya. Saya akan terus berusaha mempelajarinya. 

Saya percaya semakin banyak berlatih dan terus belajar, maka akan menunjukkan hasil yang jauh lebih baik dan niscaya mendekati sempurna. Definisi menari sempurna buat saya adalah bukan seperti penari Keraton atau penari seni beneran atau penari profesional ya, tentu saya bukanlah apa-apa dan tidak akan mampu mencapai hal tersebut. 

Definisi menari yang baik buat saya adalah menari dengan indah dari segi gerak kepala, eskpresi wajah, gerakan tangan, jemari, kaki, mendak, dan tubuh yang benar, runutan hapalan gerak tari yang tepat, mengikuti alunan musik dengan benar, menjalin chemistry yang kuat secara emosi dan lekat gerakannya sesama penari, serta menikmati setiap gerakannya dengan pikiran yang tenang, fokus, dan merasakan tentram. 

Saya ingin menari dengan bahagia, dengan pancaran aura keindahan dan kedamaian yang tidak hanya dari saya, tetapi juga dirasakan dan ditunjukkan oleh sesama penari, dan tentunya dapat dinikmati bagi yang berkenan menyaksikan kami (saya dan teman-teman) menari. Sehingga, suatu hari nanti, tujuan melestarikan budaya dari hamba sebagai rakyat jelata ini dapat terwujud dengan konsisten.

Dengan itu, maka saya belajar menari. Salam budaya.

-YA-

Jumat, 19 April 2019

Wiraga Wirama Wirasa dalam Tari



"wiraga, wirama, wirasa"


Pertama kali yang saya ingat saat mula belajar di tengah tahun 2017, Bu Guru menyebutkan tiga unsur tari yang akan menghasilkan karya yang indah dari sebuah tarian. Ketiga unsur yang dapat diraih melalui proses yang memerlukan komitmen, ketekunan, dan ikhlas. Bagiku yang terpenting adalah kita harus menjalankan dengan passion (semangat dan tetap bergairah) dan menikmati setiap proses pembelajarannya.

Saya tidak memiliki latar belakang menari sejak kecil (apalagi pendidikan seni), ketertarikan terhadap tari Jawa terjadi karena saya menyukai budaya Jawa, ingin menjadi orang Jawi dan melestarikannya. Satu lagi yang menjadi motivasi, kata Ibu dan Kakakku, Ayah saya pun dulu pandai menari Jawa. Maka, semakin kuat niat ini untuk belajar dan bisa menari Jawa. 

Guru tari saya memiliki kekhususan mengajarkan tari klasik gaya Surakarta, dan kebetulan saya menyukainya. Mungkin karena saya pernah tinggal 5 tahun di kota Solo. 

Tari klasik gaya Surakarta merupakan tari istana yang telah lama sejak jaman kerajaan Majapahit. Kata klasik dalam masyarakat Jawa sering digunakan untuk menyebut kesenian istana Jawa, sering disebut seni klasik. Tari klasik adalah untuk menyebut khususnya produk tari istana Surakarta yang diciptakan dan dipergelarkan menurut aturan-aturan yang telah ditetapkan.

Tari Klasik yang kemudian muncul berkembang menjadi tari klasik yang mengandung sifat tertentu dan kemudian disebut gaya. Diantara gaya yang ada, gaya Surakarta, gaya Yogyakarta relatif terkenal dibandingkan dengan gaya-gaya daerah lain. Gaya Surakarta sendiri terdapat dua kelompok gaya yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran. Diantara tari klasik gaya Surakarta yang terkenal yaitu Tari Bedhaya Ketawang, Tari Srimpi, Tari Wireng. Untuk tari Bedhaya Ketawang sampai sekarang dianggap tarian sakral.

----

Mari kembali dengan "wiraga, wirama, wirasa". 

Wiraga artinya adalah wujud atau gerak dari anggota tubuh yang disertai dengan keterampilan. Dalam menari, akan dimulai dengan pemanasan karena tari merupakan seni mengolah raga. Saya suka dengan Guru menari saya, beliau mengajarkan dengan bahasa yang dapat dengan mudah saya pahami dan semakin senang mempelajarinya. Istilah gerak tari seperti antara lain: mendak, debeg, gejuk, jengkeng, seblak, ukel, harus dihapal, sebab istilah inilah yang akan dipakai terus dan ada pada setiap tarian. Mengenal gerak lalu menghapal adalah satu hal. Hal lain adalah membuat satu posisi gerak yang benar dan indah, alangkah tak mudah. Misalnya mendak yaitu posisi berdiri dengan lutut ditekuk, dengan pundak tetap tegak, lalu mempertahankan posisi ini sambil mengkombinasi dengan gerakan tangan dan kepala. Akan tetapi ini proses, nikmat sekali mempelajarinya.

Wirama adalah gerak yang selaras dengan irama. Saat awal belajar gerakan tari, Bu Guru akan memberi materi tanpa musik (istilahnya "garingan"), beliau akan menyertakan setiap gerak dengan hitungan. Di mana hitungan ini dasarnya adalah dari ketukan pada irama musik. Hasilnya supaya, setiap penari memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam melakukan setiap gerakan tari tanpa mencontek gerakan tari rekannya. Nah, ketika sudah dapat menguasai gerakan tari dengan cukup baik, kemudian akan diiringi irama musik. Buat saya, ya sulit. hehe.. tetap semangat.

Wirasa adalah keterampilan gerak tubuh yang tidak hanya sesuai dengan irama, tetapi juga disertai dengan penghayatan dan penjiwaan yang melahirkan ekspresi pada gerak tubuh dan mimik wajah. Dengan demikian dapat menciptakan tarian yang indah. Dalam kenyataannya, hal yang ini masih sangat jauh bisa saya raih. uhuhuu..

--

Latihan menari biasanya sekitar 2 jam. Apapun kondisi ruangan (pakai AC atau kipas), kamu akan berkeringat. Seperti olah raga pada umumnya, kamu akan merasa bahagia serta badan menjadi bugar. Kalau pegal sih ya pasti, apalagi kalau sudah berbulan-bulan tidak bergerak dan kemudian latihan menari. Tapi yang pasti, hati menjadi senang. 

Yuukk mari menari :) 

-Y-

catatan:
Di sini, saya hanya sekedar ingin berbagi akan apa yang saya rasakan dan ketahui dari pengalaman saya belajar menari.

https://budaya-indonesia.org/Tari-Klasik-Gaya-Surakarta

Rabu, 24 Januari 2018

Dalam Diriku (Puisi SDD)

sinau: wiraga, wirama, wirasa



Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;

Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;

Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya;

Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya

-Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)-




Fungsi dan Tanda dari Barang Mewah

Di Minggu sore, saya baru selesai membaca koran Kompas yang ada di kolom Percik berjudul Kaca Pembesar Milik Semua Orang, ditulis oleh Petty...