Minggu, 03 Mei 2015

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (Bagian 4)

7 April 2015, Inseminasi II

Kami utarakan kembali untuk melakukan inseminasi. Dr. Gun menghitung masa subur saya dan menyarankan agar kembali pada waktu yang ditentukan. 

Biaya:
  1. Konsul + admin = 340.000
  2. Obat                = 160.000
15 April 2015 

Dr. Gun sedang ke luar kota, lalu digantikan oleh dr. Sita. Setelah di USG diketahui bahwa ovum saya belum matang benar. Lalu saya diberi suntikan pemecah telur, yang dilakukan oleh perawat. Saat ini tetap dilakukan inseminasi dengan harapan besok pagi ovum sudah matang dan sperma masih bertahan di dalam rahim.

Inseminasi dilakukan dengan prosedur yang sama dengan sebelumnya, yang beda hanya harganya. hihi..

Biaya:
  1. Konsul + admin                         = 340.000
  2. Suntik pemecah telur                = 470.000
  3. Inseminasi                                = 1.750.000
16 hari setelah inseminasi terjadi bloody friday. hehe.. saya belum berhasil untuk hamil. Okeh.. pengalaman yang menarik.

Untuk sementara, konsul rehat dulu. Mental dan fisik disiapkan untuk step selanjutnya, yaitu program bayi tabung (protab).

Lihat bagian 5 ya :)


-Y-

Minggu, 05 April 2015

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (Bagian 3)

6 Maret 2015, Inseminasi I

Konsul lagi dengan dr. Gun. Dilakukan USG untuk cek jumlah sel telur (ovum). Kami menanyakan cara-cara medis untuk mengupayakan kehamilan. Dokter menjelaskan tentang definisi dan prosedur inseminasi dan bayi tabung. Sebagai tahap awal kami berencana untuk lakukan inseminasi. Saya diberi obat stimulasi ovum. Selanjutnya jika perlu dilakukan pemantauan ovum.

IUI
Inseminasi atau istilah medisnya Intrauterine Insemination (IUI) adalah perlakuan kesuburan dengan cara menempatkan sperma di dalam rahim wanita untuk memfasilitasi pembuahan. Tujuan dari IUI adalah untuk meningkatkan jumlah sperma yang mencapai saluran tuba dan kemudian meningkatkan kemungkinan pembuahan.

Biaya:
  1. Konsul + admin = 340.000
  2. USG                 = 300.000
  3. Obat clovertil + prohelic = 640.000
13 Maret 2015

Idealnya inseminasi ini dilakukan pada saat sel telur sudah matang, sehingga saat sperma dimasukkan, maka terjadi pembuahan. Meski siklus haid cukup teratur, namun cukup sulit bagi dokter untuk menentukan kapan sel telur tepat menjadi matang.

Konsul kali ini untuk melihat besar sel telur dan menentukan kapan inseminasi bisa dilakukan.

Biaya:
  1. Konsul + admin = 340.000
  2. USG                 = 300.000
Jika waktunya kurang tepat, ya harus datang lagi. Untuk Pasutri yang bekerja, tentunya menjadi urusan untuk minta izin dari kantor untuk konsul-konsul ini.

17 Maret 2015

Oke.. ini waktu yang tepat untuk dilakukan inseminasi. Sel telur cukup matang dan siap dibuahi. Disebut matang ketika diameternya mencapai minimal 1,6 cm. Sel sperma dilakukan "washing" untuk mendapatkan sel-sel sperma yang motil (dapat bergerak aktif), sedangkan yang tidak motil dibuang.

Tindakan dilakukan oleh dr. Gun, pasien direbahkan, dan dengan memasang cocor bebek di vagina lalu sperma dimasukkan ke rahim dengan menggunakan kateter. Prosedurnya hanya kurang dari 10 menit. Setelah inseminasi, pasien diminta tiduran selama 30-60 menit. Kemudian dibolehkan pulang dan diminta konsul lagi 2 minggu kemudian.


Rasanya saat dilakukan insemininasi:
Sedikit tidak nyaman, tapi tidak membuat mual atau keram.  

Biaya:
  1. Konsul + admin = 340.000
  2. Inseminasi        = 1.750.000 (termasuk USG dan washing sperma)
Efek samping mengonsumsi obat:
Moodswing, menjadi sensitif dan ekspresif, mudah marah dan mudah nangis. Saya nonton iklan di tv aja bisa nangis. hehe.. (sekali lagi.. efek samping ini dapat berbeda setiap orang).

31 Maret 2015

Kembali konsul karena sudah 2 minggu, kali ini dr. Gun sedang tidak bertugas, hanya ada dokter-dokter junior. Dilakukan USG dan menunjukkan hasil dinding endometrium menebal. Namun, dokter tidak bisa memastikan apakah penebalan endometrium karena hamil atau fase menuju menstruasi. Hal ini karena tanda-tanda antara hamil dan haid pada endometrium itu hampir sama. Lalu saya diresepkan obat penguat rahim, manakla haid diminta stop meminumnya.

Biaya:

  1. Konsul + admin = 340.000
  2. USG                 = 300.000
  3. Obat penguat rahim (duphaston) = 200.000
Dua hari setelah konsul, akhirnya saya haid. Padahal sudah telat haid, tapi baru telat 2 hari. Hehe.. rupanya saya terlalu pede menghitung hari haid. Penebalan dinding rahim pun ternyata menuju proses peluruhan. hihi.. dokternya memberiku harapan. Tapi saya juga ga yakin sih sama diagnosanya.. nampak ragu sebab saat melihat hasil USG. Maklumlah dokter junior.

Enjoy menjalani proses ini. Karena ini adalah hal baru untuk saya dan suami. Meski belum berhasil, tetap saya merasa excited.

Lanjut ya.. ke Bagian 4. 

-Y-

Perkawinan Tanpa Anak (Bagian II)

Saya pernah menulis tema yang serupa dua tahun lalu (baca: Rumah Tangga tanpa Kehadiran Anak). Waktu itu, saya menulis alasan telah menunda untuk memiliki anak selama lima tahun. Dan tulisan kali ini, masih seputar tanpa kehadiran sang buah hati di dalam rumah tangga.

Anak dan Bahagia

Di lingkungan saya dibesarkan, dan di Indonesia pada umumnya atau bahkan (sebagian besar) negara di dunia, jika memutuskan untuk tidak memiliki anak di dalam rumah tangga merupakan hal yang tidak dapat diterima oleh sosial. Hal ini karena Perempuan (nampaknya) ditakdirkan untuk menjadi seorang Ibu. Meskipun keputusan ini bersifat privat, namun masyarakat sudah terpakem menyukai perempuan yang keibuan (baca perempuan yang memiliki anak). Sedangkan, melihat perempuan menikah (di usia yang matang-mid-30-40an) yang tidak punya anak, maka perempuan itu dianggap kurang sempurna, tidak normal, dan dikasihani. 

Saya pribadi dapat memahami anggapan tersebut. Biasanya, anggapan tersebut tentu munculnya dari pasangan menikah yang sudah memiliki anak. Karena mereka pasti tidak dapat membayangkan rumah tangga mereka apabila tanpa anak, terasa sepi, tidak bahagia dan terasa hidup ini tidak lengkap. 

Dari sebuah studi, saya dapati hasil survei dari pasangan yang telah memiliki anak, mengenai siapa yang paling penting di dalam hidup ini bagi sang ibu dan sang ayah. Jawabannya cukup mengejutkan bagi saya: para Ibu menjawab anak, sedangkan para ayah menjawab pasangan. Mengapa bisa berbeda, bagi saya alasan cukup jelas mengapa anak mendapat tempat yang utama bagi para Ibu, hal ini karena merekalah yang mengandungnya sehingga ikatan psikologis menjadi sangat kuat. Hal ini pula yang menjadi dasar, mengapa (mayoritas) para Ibu yang sudah memiliki anak, kemudian menjadi melihat berbeda kepada perempuan menikah yang tidak memiliki anak.

Bisa dikatakan bahwa secara umum, tak sedikit yang menganggap anak adalah sebagai pengikat keharmonisan perkawinan dalam rumah tangga. Namun, apapun alasannya, saya paham mengapa masyarakat yang punya anak tidak bisa memahami kebahagiaan perkawinan orang-orang yang tanpa anak. Tentu saja, karena bagaimanapun, mereka tidak pernah bisa "memakai sepatu yang sama". Begitu pula sebaliknya kira-kira sama seperti saya, yang tidak bisa memahami kebahagiaan pada perkawinan orang-orang yang memiliki anak. Hmm.. Terdengar adil bukan...

Now I am Childless, not Childfree anymore


Keputusan untuk tidak punya anak (child free), berbeda dengan tidak bisa atau tidak mau memiliki anak (childless). Childless bisa berarti tidak bisa memiliki anak biologis, atau bisa juga berarti tidak mau mengadopsi anak. Asumsi yang tidak terucap dari masyarakat yang melihat pasangan tanpa anak adalah mereka tidak seperti itu karena pilihan, melainkan berurusan dengan masalah infertilitas yang dapat menghancurkan secara emosional. Mudahnya begini.. secara umum, masyarakat akan menilai bagi pasangan yang tidak punya anak karena salah satu dari mereka itu tidak subur.  

Pada lima tahun pertama perkawinan saya, kami (saya dan pasangan) memutuskan untuk child free (lihat blog ini). Kemudian, dua tahun terakhir ini, perkawinan kami adalah childless. Namun, di mata sosial, saya adalah wanita di usia 34 yang telah menikah 7 tahun dan belum juga memiliki anak, serta nampak terlihat seperti orang yang memerlukan pertolongan untuk segera mempunyai keturunan. 

Namun sesungguhnya, saya dan pasangan merasa selalu nyaman dengan keputusan ini (childless). Kalau orang-orang tanya pada kami: sudah punya anak berapa? jawaban yang paling aman adalah doakan kami ya. Meski tentu, kami ingin sekali menyampaikan bahwa mereka tidak perlu kasihan kepada kami, karena kami sudah dalam keadaan bahagia.    

Kata Orang Tua: Penyesalan

Secara statistik di Amerika menunjukkan bahwa 19% antara usia 18-29 tahun, dari mereka tidak menginginkan anak-anak. Namun, ekpektasinya dengan kenyataan di sini sungguh berbeda, karena semua Ibu (yang menikah) pada usia itu selalu ingin segera punya bayi untuk menjadi teman atau sahabat mereka.

Hal ini pun menjadi perhatian bagi para orang tua kepada anak mereka yang telah menikah (anak dewasa). Para orangtua ingin anak dewasa mereka memiliki cucu-cucu karena baik untuk kebahagiaan mereka sendiri (orang tua) dan kebahagian untuk anak dewasa mereka. Para orang tua khawatir bahwa anak dewasa mereka akan mengubah pikiran mereka nanti, jika sudah tua tentang karena terlambat memiliki anak-anak dan dipenuhi dengan penyesalan. Para orang tua berduka bahwa anak mereka akan kehilangan pengalaman mereka saat dihargai-memegang bayi, mengajar anak sekolah, bagaimana naik sepeda, memilik sekolah tinggi dan menjadi heran jika mereka (para orangtua dulu bisa) bertanggung jawab. Para orangtua ini ragu kepada keputusan anak-anak dewasa mereka untuk childless dan bisa bahagia. Mereka takut anak-anak dewasa mereka menyesal.

A little curhat
Saat reuni, di lingkungan kantor, atau keluarga, topik anak adalah topik yang tidak ada habisnya untuk dibahas untuk saling menimpali. Terkadang menjadi awkward saat saya coba timpali pakai cerita ponakan, hehe.. maksudnya biar ndak merusak suasana begitu. Jadi saya coba mingle tapi ya menceritakan pengalaman ponakan. Jadinya ya begitu... agak aneh.

jika jumpa kawan sebaya, percakapan basa-basi pun tidak banyak yang bisa dilontarkan karena jika mau menceritakan soal anak mereka, paling saya cuma bisa jadi pendengar yang tidak baik. hehe.. saya suka anak-anak, tapi (seringkali) malas dengan percakapan yang tidak dua arah.

Saat ini saya tahu bagaimana rasanya mengharapkan kehadiran anak. Namun, percayalah.. dukungan yang datang dari orang-orang yang sudah memiliki anak, rasanya seperti olokan. Karena suara-suara sumbang acapkali terdengar seperti alih-alih mendorong semangat kami, malah seperti bluffing tentang kebahagiaan rumah tangga mereka. Sebab bagi mereka (kelihatannya), kami seperti pasangan yang tidak bahagia. Akan tetapiiii... curahan hati dari kawan-kawan yang juga mengharapkan punya anak dan belum punya anak.. rasanya seperti siraman rohani lho. hehe.. Itulah sosial. Kita seringkali merasa nyaman karena berada di lingkungan yang sama. 

Childless and Happy
Kebahagiaan tentulah masalah pilihan. Saya dan suami selalu nyaman dengan keputusan ini yaitu childless dan happy!.

Non Parents

Let's say, kebahagiaan parents (punya anak) dan non parents (tanpa anak) tidak bisa disamakan. Niscaya dong. Sebab masing-masing punya sudut pandang untuk ruang kebahagiannya sendiri. Buat Parents, silakan anda browse tentang kebahagiaan anda. Di sini saya yang childless akan mengurai kebahagiaan versi sendiri. Mengapa? karena saya ingin semua tahu, bahwa tanpa anak dalam rumah tangga bukanlah hal aneh, kami bukan orang aneh atau alien, kami hanya berbeda.  

Saya memang mengharapkan anak, namun saya tidak pernah berkecil hati karena tidak ada buah hati dalam perkawinan saya. Hal ini karena banyak sekali yang mengisi hidup kami. Kalau bisa digambarkan kebahagiaan berupa benjolan, rasanya tubuh saya pasti sudah bengkak dari ujung kepala sampai ujung kaki karena dipenuhi oleh benjolan-benjolan kebahagiaan. Sayangnya, bahagia itu tidak kasatmata. Jadi tidak ada yang bisa menilai siapa yang bahagia atau tidak di dunia ini.

Semua pasti setuju, bahwa perkawinan adalah landasannya cinta. Namun ndak perlulah saya mengumbar-umbar kemesraan di dalam rumah tangga karena hal (kemesraan) ini saya anggap sudah wajar. Perkawinan selama tujuh tahun ini, kami lalui dengan santai dan wajar. Kami berdua melakukan hal-hal yang selalu kami senangi. Di awal pernikahan, saya bergantian dengan suami melanjutkan strata dua hingga selesai. Pekerjaan dan karir pun berjalan lancar. Ditengah rutinitas dan kesibukan kami, hubungan dengan orang tua dan mertua diupayakan tetap harmonis. 

Di akhir pekan biasanya menjadi hari istirahat dan malas sedunia.. kami bangun siang, bersiap, lalu jalan-jalan, kadang jika rajin maka olahraga bareng. Kalau saya lagi semangat, setiap pagi saya siram tanaman dan di akhir pekan mengolah tanah-tanahnya agar tetap gembur. Nonton bioskop menjadi rutin setiap bulan. Satu hal yang paling saya nikmati adalah, dapat membaca buku favorit dengan nyaman, dan suami bebas banget main fallout. hihi..

Intinya adalah hobby dan pekerjaan dapat dilakukan dengan optimal. Urusan berwisata ke luar kota dan nonton Javajazz diupayakan menjadi agenda tahunan. Saya pun tetap dapat berkumpul dengan kawan-kawan. Urusan finansial, dapat diatur dengan baik. Kami tidak kekurangan dan tentu juga tidak terlalu berlebihan. 

Tak ada alasan buat kami untuk tidak bahagia. Dan masih banyak lagi kebahagiaan yang bisa kami urai, yang kalau diteruskan malah jadi ndak baik thooo.. pamer! 

Sebenarnya ini supaya jelas saja, bahwa kami tanpa anak di perkawinan selalu mesra, merasa damai dan tentram serta bahagia. Dan keadaan itu kami jaga baik-baik. Seperti pada umumnya tujuan hidup bagi kita semua. 

--
Jadi, keputusan perkawinan dengan anak atau tanpa anak, marilah menjadi urusan pribadi. Try not to hurt others ... i know it's not easy :) 

-Y-

Kamis, 05 Maret 2015

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (Bagian 2)

18 Feb 2015, USG SIS

Karena pada konsul pertama belum membuahkan hasil. Di bulan berikutnya saya konsul lagi. Saat itu, dr. Gun sedang tidak bertugas, maka saya konsul dengan dr. Ichnandy. 
Beliau membacakan hasil cek sperma dan melakukan USG lagi kepada saya. Dari hasil lab, diketahui sel sperma suami kurang excellent, sehingga perlu mengubah gaya hidup, seperti stop kopi dan mie instan, kurangi minum teh, olahraga dan makan-makanan bergizi tinggi.

Dari hasil USG, beliau melihat ada penyempitan di tuba falopi saya di sebelah kiri, meski tidak terlalu mengkhawatirkan, namun beliau tetap menganjurkan untuk dilakukan tindakan agar tuba falopi menjadi normal. Hasil ini sama seperti pemeriksaan dengan cara hidrotubasi ketika saya periksa tahun 2013.

Beliau memberikan alternatif untuk mengurangi penyempitan tersebut, dengan penangkapan saya yang kurang, berikut ini 2 cara tsb dan perbedaannya: 
  • HSG (Histerosalpingografi), yaitu pemeriksaan sinar X-ray dengan memakai cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim dan saluran telur (tuba fallopii). Kekurangannya kata dr. Ichnandy, cara ini bisa merusak sel-sel yang dilalui cairan kontras itu.
  • USG SIS (Ultrasonography Saline Infusion Sonohysterography), yaitu memakai alat USG dan memasukkan cairan saline steril ke dalam rongga rahim. Kliatannya, ini adalah cara paling baik dibandingkan dengan hydrotubasi dan HSG. Karena dengan cara ini, cairan saline dapat mengatasi penyempitan saluran tuba tanpa merusak sel-sel di sekitarnya.
Biaya:
  1. Konsul + administrasi = 240.000
  2. USG                          = 300.000
  3. Tindakan USG SIS      = 250.000 
  4. Obat penguat rahim (ulgestron) +Suplemen penyubur sperma (vitan) = 500.000
Rasanya saat dan setelah tindakan USG SIS:
Keram, nyeri, ngilu di perut (rasanya aduhai deh.. hehe..) dan mual banget (saya sampai muntah di RS). Tapi santai saja, setiap orang pasti beda-beda reaksinya terhadap suntikan cairan Saline itu.

Sip.. cek saluran rahim sudah dan sekarang sudah lancar. Lalu usaha lagi dengan cara alami, sambil saya tetap mengonsumsi obat penyubur.

Setelah masa subur dilalui lalu saya mengonsumsi obat penguat rahim, sayangnya, dinding endometrium berguguran dan luruh, artinya saya haid. Hehe.. saya belum juga hamil. Buat saya tetap lumayanlah, ada pengalaman dan pengetahuan baru :) 

Lanjut ya.. ke Bagian 3. 

-Y-

Minggu, 08 Februari 2015

Jurnal Curhat Usaha menuju Bayi Tabung (Bagian 1)


"Setiap orang memiliki kebutuhan, keyakinan, pengetahuan dan rencana dalam menjalani hidupnya masing-masing. Tentu tidak harus sama dan pastinya berbeda dalam detail."

Masyarakat kita sungguh menjunjung tinggi ikatan kekeluargaan, di mana unsur yang terlibat adalah orangtua dan anak, lalu berkembang menjadi sebutan nenek, kakek, ibu, ayah, anak, cicit, tante dan lain-lain. Untuk kemudian, saya akan sedikit membagi pengalaman tentang rencana memiliki anak. Pertama, saya berusaha dengan mengikuti program agar bisa hamil (bahasanya ndak enak ya. hehe..).

Keputusan yang saya ambil tentu melibatkan persetujuan dari pasangan. Apapun yang telah terjadi, bukanlah tanpa alasan. Adapun kejadian yang saya dan pasangan alami, pastilah sesuai dengan kondisi, waktu, pemahaman, dan kemampuan yang kami miliki. Jadi, kami seringkali (sengaja) acuh dengan apa yang orang katakan tentang kami.

Uterus
Di awal menikah, saya coba ke dokter kandungan. Saya datang sendiri. Niat saya memeriksakan kandungan. Lalu dokter kasih obat yang terkait dengan TORCH. Saya tahu ini tahap awal, sekedar untuk mengetahui kondisi kesehatan kandungan saja. Lalu untuk pengecekan rutin, saya lakukan pap smear. Kami menunda kehamilan selama hampir enam tahun. Penundaan dengan cara alami, tanpa alat KB. 

Pada tahun keenam, tahun 2013, kami berniat untuk punya momongan. Kami coba dengan cara alami. Untuk itu, kami mulai cari info dokter yang bisa memeriksa kondisi kandungan lebih dalam. Dengan bermodalkan tanya kepada orang yang berpengalaman. Lalu saya mendapat referensi Prof. Marsis. Saya dan pasangan konsul di RS Bunda (pasiennya banyak, antrinya lumayan.. hehe..). Hasilnya, saya disarankan untuk melakukan hidrotubasi

Prinsip hidrotubasi adalah meniupkan cairan dengan alat melalui vagina hingga menuju saluran telur. Lebih lengkapnya bisa dibaca di Link ini. Hehe.. sayangnya dengan metode ini, pasien harus dibiuskan dan tindakan dilakukan di kamar operasi. Tindakan hirotubasi ini dilakukan di RS. Budi Jaya.  

Hehe. jadilah saya dibius. Tindakannya sekitar 10 menit saja, tapi sisa obat biusnya sekitar satu-dua jam. Setelah itu, terasa mual dan saya muntah. Kata orang, ya begini rasanya hangover. hihi..

Hasilnya, kata suami saya dari infonya perawat kalau pada saluran tubanya ada sumbatan di sebelah kiri, namun tidak terlalu berbahaya. Perlu diterapi, (semacam alat yang memancarkan hangat), supaya bisa normal. Saat saya sadar, Prof. nya sudah pulang. Jadi memang kudunya sih konsul lagi. Tapi karena saya pada waktu itu trauma dengan tindakannya, maka saya males konsul lagi.

Jadi, ceritanya saya abaikan saja hasil dan saran perawat itu. Kami lanjutkan rencana memiliki anak dengan mengandalkan kalender. Oh iya, ada aplikasi android untuk mengetahui kapan kita ovulasi, masa subur, dan mulai haid lho. Menarik lho dan cukup akurat, namanya: MyDays. Selama hampir satu tahun kami lakukan cara alami, ternyata belum membuahkan hasil.

Tahun 2015, kami mulai berniat periksa ke dokter dengan intens. Saya mulai rajin menanyakan kepada teman-teman yang sudah pernah hamil. Setiap dokter yang direferensikan, kemudian saya cek di internet mengenai profil dokternya. Saya telusuri testimoninya. Saya cari tempat dan waktu praktiknya. Selain itu, saya buka situs-situs chat di internet mengenai profil dokter, seperti di ibuhami.com, theurbanmama.com, infobunda.com, dll. Karena keinginan saya adalah memiliki anak, maka saya cari dokter yang memiliki keahlian tentang fertilitas. 

Akhirnya, saya dapat referensi dr.Gunawan Dwi Prayitno. Beliau praktik di RSPAD, Gatot Subroto Klinik Fertility Center setiap selasa dan jumat jam 09-12 WIB. Melihat jadwal praktiknya di hari kerja, saya dan suami mengambil beberapa hari cuti agar tidak diganggu oleh pekerjaan.  Saya mendaftar melalui Paviliun Kartika RSAPD.

Di awal pemeriksaaan, dokter menanyakan riwayat kami, jadi kami ceritakan tentang pernah hidrotubasi oleh Prof Marsis. Lalu dr. Gunawan melakukan USG. Tenang aja Bu, kalau hanya USG, dipersiapkan oleh perawat/suster, dokternya tinggal menggerakkan tangkainya saja dan melihat ke monitor TV, jadi suami juga dapat melihat hasilnya. 

Saat kontrol pertama kali, saya dalam keadaan masa subur. Jadi kelihatan sel telur di dalam saluran sebelah kiri. Dokter menyarankan agar suami juga diperiksakan spermanya. Lalu saya diberi resep dan jadwal untuk melakukan senggama.

Biaya yang dihabiskan, 23 Jan 2015:
1. Konsul + admin = 240.000
2. Periksa sperma = 150.000
3. Obat penyubur wanita (prohelic)= 195.000
4. Obat penguat rahim (dupaston)= 400.000

Usaha ini belum berhasil membuat saya hamil. Selanjutnya, saya akan sharing pengalaman saya. Sengaja menampilkan biaya yang dikeluarkan supaya juga menjadi perhatian bagi yang lain saat hendak melakukan program ini. Karena program ini, mestilah di luar biaya tahunan rumah tangga, apalagi biaya bulanan. Jadi soal budget, menurut saya penting sekali untuk kesehatan kantong kita. Hehe..

Berikut ini ada tips, meski saya belum berhasil hamil.. paling ndak berdasarkan pengalaman.. ada baiknya sih tips berikut ini diperhatikan. Baik untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. hehe..


Tips untuk rencanakan kehamilan (ini berlaku untuk suami dan istri):
  • Makan-makanan yang bergizi dan sehat, dan hindari makanan dengan pengawet dan kopi (karena dapat menurunkan kualitas sel-sel primordial). 
  • Olahraga yang teratur : selain dapat membugarkan tubuh, juga dapat membuat kita happy dan selalu berpikir positif. 
  • Untuk menetukan dokter pilihan, sebaiknya browsing dan cari tahu sebanyak-banyaknya tentang profil dokter dan jadwal prakteknya tsb. Baca testomi dari internet atau tanya kepada teman yang berpengalaman.
  • Pilih lokasi praktek dokter yang mudah dijangkau untuk menghindari stres yang tak perlu karena macet dan menunggu terlalu lama.
  • Atur waktu luang anda dan pasangan yang memang didedikasikan untuk konsultasi. Sebaiknya ajukan cuti, agar konsultasi dapat berlangsung rileks dan nyaman.
  • Selalu berpikir positif : untuk menerima apapun keadaaan yang kita alami.
  • Cari tahu tentang metode dan biaya periksa kandungan dan sperma. Supaya dapat dimasukkan pada budget rumah tangga, karena biaya tidak sedikit menurut saya.
  • Cari tahu tentang cara dan biaya untuk memiliki anak dengan cara tidak alami. Untuk dapat disesuaikan dengan kemampuan finansial kita.
  • Jika memungkinkan, terbukalah dengan keluarga mengenai kondisi anda, supaya mendapat dukungan moral dan siapa tahu juga dapat dukungan material. hehe..
Sekian dulu, akan saya sambung lagi di Bagian 2.

-Y-

Selasa, 16 Desember 2014

Kata Kau

kau kagum akan khidmatnya; 
kepada sesuatu yang pernah kau mengerti
seperti pelita di balik kaca tipis yang tak pernah padam
sedang jelaga (seolah) tak boleh hadir; 
harapan membumbungkan bara itu

hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit,
bukan tujuannya;
selain kepada sesuatu seperti yang pernah kau mengerti,
tapi kau (ingin) tak peduli, itu masa lalu, belum lalu yang sangat,
itu hanya fasenya, kata kau

tapi kau tak begitu, dulu, kata kau
kau berbeda, tidak seperti ia, kata kau

kau pun tak berharap tuk kembali seperti dia, 
sekejap waktu menyulapmu;
hamster tak lagi masyuk bermain roller coaster,
pensiun sebagai pengerat,
bermimpi menjadi elang,
kuat, bebas, sakti

ia tunduk akan waktu yang ditandai oleh gaung, tak acuhkan yang lain,
tak penting barangkali,
kecuali menjadi pelengkap yang tak menarik,
meski jelas arti hak dan batil, 
tak jua membuka mata 

barangkali kau dianggap batu, karena kau tak seharmoni
seperti sungai yang dijanjikan,
kau timbulkan riak yang merubahnya jadi gelombang,
tidak indah;
padahal air kan menyatu kembali, pikir kau 

kau hanya menghibur diri kawan,
tapi siapa yang tak ingin terhibur?
ia bak jalan di padang pasir
berjumpa oasis (yang barangkali palsu), gumam kau

ah sudahlah, hari sudah malam
tutup buku dan pejamkan mata

selamat malam

-Y-

Senin, 15 Desember 2014

Petualangan ke Bandar Lampung

Kali ini namanya liburan spontan. Hehe.. sebab rencananya hanya ingin menikmati pantai, tetapi karena salah sangka, he.. liburannya jadi seru banget.

Begini.. awalnya ingin memenuhi undangan seorang kawan di Cilegon. Dalam perjalanan menuju lokasi pesta, kami melewati pelabuhan Merak. Tak disangka ternyata partner saya juga siap jadi supir cabutan.

09.00 WIB: Dari Jakarta, jarak ke Merak sekitar 118 km, isi bensin sekitar 30 liter, dengan tarif tol 36.000. Karena bukan hari libur, jalan tol lancar saja.

Pesta Perkawinan

12.00 WIB: Biasanya di setiap daerah, punya ciri yang khas ketika menggelar pesta. Kali ini, saya mau bercerita sedikit hasil amatan tentang pesta perkawinan di Cilegon (14/12/2014).


Yang namanya pesta pasti seru dan ramai. Ada saja sesuatu yang tampak, lalu membuat kita tersenyum. Nah, soal makanan ya. Kebanyakan sih mirip dengan makanan di pestanya Jakarta. Satu yang menarik perhatian, yaitu apem. Ini dihidangkan khusus lho. Rasa apemnya tidak seperti apem biasanya yang rasa pandan atau gula merah, tapi plain aja atau tawar. Lalu disiram dengan kuah gula merah,baru terasa sedapnya.
 
Apem Gula Merah
Soal hiburannya, para tamu dijamu dengan musik irama gambus. Wih, serasa di padang pasir. Pemain musiknya sudah pada kawakan deh kelihatannya dan biduannya....aduhai cantik-cantiknya. Lihat saja foto di bawah ini. Saya sangat terhibur :)


Nah.. sudah cukup ya di pestanya. Sekarang kita mulai menelusuri bagian yang asik. 

14.00: Untuk menyeberang ke Lampung, kami melalui pelabuhan Merak. Untuk masuk ke dalam kapal feri, satu mobil dikenakan retribusi 360.000. Hehe.. lumayan mahal ya. Kalau per orang tanpa kendaraan, sepertinya lebih murah. Sttt.. ini kali pertama saya naik kapal feri. wiihh.. i felt so excited :)

Menuju Kapal Feri
Menuju Lampung 
Setelah memarkirkan mobil di geladak dasar, penumpang diarahkan ke geladak atas. Setibanya di geladak atas, banyak anak-anak kampung yang menawarkan hiburan atraksi, yaitu mereka siap terjun dari lantai teratas kapal lalu melompat ke laut. Syaratnya, penumpang melemarkan uang ke laut. Sebaiknya uang kertas, lalu mereka akan melompat dan memungutnya. Sekedar 1.000, 2.000 atau 5.000. Mereka senang dapat duit, penumpang juga ikut terhibur. Tegang dan mereka santai saja mengambang-ngambang menunggu uang yang dilemparkan lagi. hehe.. ada-ada aja deh,
  
Atraksi Anak Merak
Oh iya, di geladak penumpang ada ruangan yang berAC dan yang tidak. Kamar mandinya bersih dan nyaman. Cuma saja sayangnya di tempat ber-AC atau di geladak ruang terbuka, orang yang merokok itu bebas banget. Mesti, pintar-pintar cari tempat yang nyaman. 
Geladak Penumpang
Kafetaria juga tersedia, lalu ada hiburan dangdut. Karena suara musiknya hingar banget, saya lebih milih lihat-lihat laut saja. Lah wong jarang-jarang lihat laut, jadi saya puas-puasin.
Pemandangan Pelabuhan Merak
Perjalanan Merak-Lampung memakan waktu 3,5 jam. Lama karena ketika tiba di dekat Lampung, kapal harus menunggu hingga pelabuhan siap menerima kapal untuk berlabuh. jadi tiba di Lampung jam 5.30 sore. 

Nah, karena sudah sore dan sulitnya mencari penginapan di Lampung Selatan, lalu kami bergegas menuju Bandar Lampung. Supir cabutan siap beraksi.

Lampung in Action

17.30 WIB: Katanya jalan raya lintas Sumatra ini cukup rawan, jadi diusahakan tiba di Bandar Lampung sebelum gelap. Wah.. mana mungkin. Tapi dengan kekuatan super, eh supir.. diusahakan ngebut. Kebetulan jalanan tidak ramai kendaraan, tinggal truk-truk lambat saja yang jadi penghambat. Cuman karena itu jalan kampung, tetap harus berhati-hati manakala ada yang tetiba menyeberang.




Menuju kota berjarak 97 km, sekitar 2,5jam kami melaju. Sampailah di kota Bandar Lampung. Segarrrr... karena kota habis diguyur hujan. Kami menginap di Sheraton hotel, tarifnya 650rb. Tidak terlalu mahal dibandingkan hotel-hotel di Bandung atau Jakarta tapi nyuaaaman sekali hotelnya. Sangat direkomendasikan lho. Barangkali kalau tidak spontan, akan lebih murah lagi.

20.30 WIB: saatnya mengisi perut. Ah... tanpa persiapan ini kami kesulitan mencari kuliner yang mumpuni. Melajulah kami ke J. Arief RH. Ada resto Kembang Pandan. Tempatnya bagus, harganya terjangkau dan rasanya lumayan. Kami cobain gurame kecap kacang plus pete dan pindang iga. Sayangnya rasa petenya belum menyerap di ikan, tapi tetap sedap sih, soalnya laper berat. Berdua makan harganya tidak sampai 100rb. Sedap kan. Murah meriah.

 
Gurame Bakar ala Kembang Pandan
Lampung di Pagi Hari

(14/12/2014) Setelah sarapan gratisan hotel, hehe.. karena bangunnya kesiangan. Saatnya menikmati kota dan berburu oleh-oleh.. hehe...

Setiap bangunan di kota selalu dihiasi dengan siger, yang menjadi ikon dan kekhasan kota. Siger ini simbolisasi sifat feminin lho, filosofinya tidak hanya sebagai lambang tetap juga untuk mengangkat nilai feminisme. Keren ya :)




Setelah puas muter-muter, kami menuju pusat oleh-oleh panganan. Kami pilih yang terkenal dan paling ramai yaitu toko Yen-Yen. Letaknya di dekat klenteng. Nuansa Pecinan terasa sekali. Kalau mau membeli suvenir kain batik khas Lampung, bisa ke toko Souvenir Lampung. Bagus-bagus lho, corak khas Lampung itu berani, ramai dan warnanya cerah-cerah.




12.00: Usai sudah menikmati kota Bandar Lampung, saatnya kembali ke Jakarta. Tarif masuk Pelabuhan Bakehuni sama yaitu 360.000. Jangan lupa tambah biaya tol, di Lampung kami mengisi bensin lagi untuk persiapan perjalanan. Tiba di Merak jam 4 sore. Lalu perjalanan dilanjutkan dan kami sampai rumah jam 8an malam.



Kalau membayangkan angin laut saat kapal melaju dan menerpa tubuh, wih.. asik deh. Sekarang, sambil merem pun, saya masih dapat merasakannya damai dan syahdunya, hehe..  :) 

Yuk ayuk ke Lampung ...

-Y-

gentle and tender

..tulang makin terasa lemah, pelan-pelan merawatku.. dengan sabar kau ucapkan huruf demi huruf dan menuntunku memahami kata-katamu  semangat...