Sabtu, 25 September 2010

Krito-Sokrates #1 (Tetralogi Plato)


Krito (Yunani: Κρίτωνα/ Krítona) adalah dialog singkat yang dibuat oleh filsuf Yunani kuno Plato. Krito adalah percakapan antara Socrates dengan sahabatnya bernama Krito di dalam penjara tentang keadilan, ketidakadilan dan respon yang tepat untuk ketidakadilan. Socrates berpikir bahwa ketidakadilan mungkin tidak dijawab dengan ketidakadilan dan menolak tawaran Krito untuk membiayai upaya melarikan dirinya dari penjara. Dialog ini berisi pernyataan kuno dari teori kontrak sosial pemerintah.


Dialog dimulai pada saat Socrates sadar (dari bangun tidur) akan kehadiran Krito di sel penjara. Ketika Socrate terkejut bahwa penjaga telah mengijinkan Krito masuk ke dalam sel beberapa waktu lebih awal, Krito memberitahukan bahwa ia mengenal penjaga dengan baik dan telah memperlakukan penjaga dengan kebajikan tertentu. Krito memiliki kabar buruk bagi Socrates. Dia mengatakan kepadanya bahwa ada saksi mata melaporkan kapal telah datang dari Delos yang berarti besok Socrates akan dieksekusi. Socrates menampik laporan tersebut dengan mengatakan bahwa dia telah bermimpi seperti sebuah visi. Dalam mimpi terlihat seorang wanita cantik berjubah putih mengatakan kepadanya bahwa pada hari ketiga maka ia akan pergi ke Fthia, yang merupakan referensi Akhilles dalam Iliad bahwa prajurit terkuat dari Yunani akan dapat kembali ke rumahnya yaitu Fthia yang subur pada hari ketiga. Dalam mimipi Socrates, Fthia menjadi sebuah simbol ‘rumah’ yang ke sana dia akan kembali setelah kematiannya, sehingga sangat jelas arti mimpi bagi socrates bahwa kapal akan tiba besok dan eksekusi akan dilaksanakan pada hari ketiga.

Krito telah tiba pada jam awal untuk menyelamatkan Socrates dari kematian. Krito mengatakan bahwa jika Socrates mengikuti aturan untuk tetap dieksekusi, orang akan menganggap bahwa Krito dan teman-teman tidak mampu membiayai pelariannya. Krito menegaskan bahwa ia tidak akan mendapatkan banyak masalah karena membantu penyelundupan Socrates keluar dari penjara sebab tidak dibutuhkan banyak uang untuk menyuap orang agar socrates keluar dari penjara. Dia menambahkan bahwa jika Socrates takut menguras rekening Krito, ada beberapa wisatawan yang siap menggunakan uangnya untuk Socrates antara lain Simmias dan Kebes. Selain itu, Krito menegaskan bahwa Socrates memiliki dukungan di kota-kota lain seperti Thessaly yang akan menjadi perlindungan aman dan tidak menyusahkan sebagai tempat pengasingan.
Krito melanjutkan dari segi moral bahwa Socrates akan tidak adil bila mengikuti upaya musuh-musuhnya terhadap dia. Socrates memilih "jalan termudah", sebagai lawan dari jalan berani, terhormat, dan berbudi luhur. Krito merasa hal ini sebagai jalan kematian yang tidak adil. Socrates akan bertindak pengecut jika ia tidak melawan ketidakadilan tersebut.
Krito lebih lanjut menyatakan bahwa seorang ayah (seperti Socrates) memiliki kewajiban untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya dan harus mencegah mereka menjadi anak yatim jika keadaan memungkinkan. Dia mengatakan bahwa jika anak-anaknya menjadi anak yatim biasa, berarti Socrates telah mengkhianati putra-putranya.
Krito menambahkan bahwa perkara pengadilan seharusnya dapat dihindari dan terlihat seolah sebuah cemoohan, namun Krito merasa gagal menanganinya. Dia mengatakan bahwa kegagalan untuk melarikan diri akan menjadi kekonyolan yang klimaks karena ketidakmampuan teman-teman Socrates untuk mengatur urusan dan pengecut yang memalukan.
Tanggapan Socrates
Socrates mengatakan kepada Krito bahwa Socrates adalah salah satu dari orang-orang yang harus dibimbing oleh akal dengan membuat argumen dari hasil perenungan yang terbaik. Socrates mengklaim bahwa ia serius dalam sidang tentang tidak takut kematian. Dia mengungkapkan penghinaan untuk mengikuti pendapat massa dan bertindak secara acak. Socrates mengatakan bahwa satu-satunya orang yang pendapatnya dipedulikan adalah sang pakar mengenai keadilan dan ketidakadilan. Bagi Socrates, hidup dengan baik sama dengan hidup dengan terhormat atau dengan adil.
Perihal uang, reputasi dan membesarkan anak adalah masalah yang sebenarnya diperhatikan orang banyak saja, yang dengan senang menghukum mati orang dan akan menghidupkan mereka kembali jika mereka dapat melakukannya tanpa sedikit pun melibatkan nalar. Pertanyaannya bukan apa yang akan orang pikir tentang dirinya, tetapi adalah apakah itu akan menjadi tidak adil bagi Socrates untuk melarikan diri. Socrates berpendapat bahwa jika itu tidak pernah baik untuk melakukan ketidakadilan, maka tentu tidak pernah baik untuk melakukan ketidakadilan dalam menanggapi ketidakadilan. Dia mengatakan bahwa premis ini akan diambil sebagai benar untuk tujuan diskusi mereka. Krito mengatakan dia setuju dengan Socrates. Ini tidak menjawab apakah itu adil atau tidak adil bagi Socrates untuk melarikan diri dari penjara, jadi Socrates bertanya apa yang akan dikatakan Undang-undang (hukum negara) tentang meninggalkan kota.
Socrates mengklaim bahwa Undang-Undang akan mengatakan bahwa ia menghancurkan kota seluruhnya jika meninggalkan kota dan ini tidak adil. Selanjutnya Hukum akan mengatakan bahwa warga negara berdiri dalam kaitannya dengan kota, sebagai anak terhadap orangtua dan sebagai budak terhadap tuannya. Orator Hukum kemudian akan mengatakan bahwa negara telah memberikan kepada Socrates kelahiran, pengasuhan, pendidikan dan keikutsertaan dalam semua manfaat dan kebaikan yang disediakan bersama dengan semua orang yang sama-sama menjadi warga kota. Pertanyaan Hukum, apakah dalam upaya (meninggalkan kota) socrates tidak sedang mengusulkan untuk memperlakukan negara dengan adil. Hukum akan menyatakan bahwa Socrates tidak pernah meninggalkan kota untuk menghadiri suatu perayaan (kecuali hanya sekali di Isthmus), untuk tujuan lain (kecuali untuk pelayanan di militer), tidak pernah pergi keluar negeri dan tidak ingin mengenal kota lain, sehingga dikatakan bahwa Socrates puas menjadi warga kota dengan menjadi ayah bagi anak-anaknya di kota Athena. Kemudian hukum akan menanyakan apakah hukum benar kalau negara menyatakan bahwa socrates telah sepakat menjadi seorang warga negara berdasarkan persyaratan yang ditetapkan. Socrates tidak menyatakan bahwa ia puas dengan argumen Hukum, alih-alih bertanya Krito apakah mereka tidak harus menerimanya. Krito mengatakan mereka harus, dan dialog datang ke kesimpulan.
Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Crito ; 25/09/2010: 13.00 wib
Iones Rakhmat. (2009). Sokrates dalam Tetralogi Plato (Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Perkawinan Tanpa Anak (Bagian IV)

Ancol, 2012 Belum lama diminggu lalu, muncul lagi istilah childfree saat seorang kawan menanyakan keadaan saya. hehe.. sudah lama rasanya to...