Minggu, 14 Agustus 2011

Renungan Minggu


Mencerap yang disampaikan Ibu Musdah Mulia pada acara pembukaan TEDxJakarta kemarin, saya jadi ingin menyuarakan pikiran saya.
--
Apakah masih penting beragama sekarang?
Jika atas nama agama, manusia hujat menghujat. Jika atas nama agama, manusia membom dan membunuh. Jika atas nama agama, manusia tega melakukan kekerasan sesama manusia. jika atas nama agama, manusia melarang hak umat lain untuk beribadah. Apakah ini yang ingin menjadi produk dari manusia-manusia beragama.
--
Tentunya tidak sesinis itu. Karena tidak semua umat beragama melakukan hal buruk tersebut. Banyak klaim bahwa beragama meluruskan moral, kesantunan, kedisiplinan dan kasih. Namun, tidak berarti perilaku baik itu hanya dimiliki umat beagama, karena orang atheis dan agnostic, katakanlah tidak sedikit kaum sekuler yang lebih menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
--
Disini saya tidak untuk membandingkan mana yang lebih baik antara beragama dan sekuler. Tentunya hal ini terbentuk tidak sendirinya, ada sejarah dan evolusi panjang yang membentuk manusia hingga memutuskan untuk memilih salah satu jalan dalam kehidupannya.
--
Kebetulan saja, saya disini, di negara yang mayoritasnya beragama dan seluruh warga terpaksa harus memilih salah satu dari 6 agama yang harus dianut. Lalu bagaimana dengan temen2 yang memang menganggap agama itu tidak penting? Apakah mereka jadi tidak memiliki tempat di negri ini? Memang dunia tidak selalu adil.
--
Negara ini sangat majemuk, antara lain keyakinan, suku, ras dan latar belakang. Keyakinan yang dianut sesama muslim saja berbeda. Lebaran yang berbeda hari sudah umum di sini. Tapi ini fenomena biasa, banyak yang memaklumi karena mazhabnya beda. Lalu mengapa untuk perbedaan keyakinan dengan agama lain jadi berubah reaksinya?
--
Eksklusif dalam beragama atau menganggap bahwa agama yang kita anut adalah yang terbaik, itu sah-sah saja. Sepanjang tidak menyakiti orang lain. Melakukan ritual dan tradisi keagamaan adalah hak, sepanjang tidak mengusik kepentingan dan hajat hidup orang lain. Jika dengan beragama, manusia menemukan kedamaian, maka beri ruang bagi mereka. Begitupun, bagi mereka yang tidak meyakini suatu agama, namun mereka merasa damai, maka hargai mereka. Hal ini karena pada hakikatnya manusia memang sudah berbeda satu sama lain. Ini kodrati.

Menerima perbedaan memang tidak mudah, namun ini keniscayaan. Membuka pikiran perlu proses belajar yang mungkin tidak sebentar. Namun satu hal yang pasti, bahwa seluruh umat manusia, pasti inginkan peradaban yang lebih baik, harmoni dan damai.

Rabu, 09 Februari 2011

Mayat = Jenazah = Mendiang


Stiff


Mayat, jenazah dan mendiang adalah similaritas untuk terminologi orang yang sudah mati. Namun, konteksnya untuk 2 istilah yang terakhir lebih diperhalus untuk sebutan bagi orang yang sudah mati, terutama orang yang kita kenal dan sayangi.

Pertama kali saya tidak merasa jenazah adalah sesuatu yang mengerikan ketika berada di depan mendiang ayah saya. Padahal sebelumnya, jangankan berada didekat jenazah, melihat mobil ambulan saja saya sudah merasa takut. Takut mati, dimakan cacing, sendirian dan sepi serta takut masuk neraka. Ini adalah gambaran saya waktu itu, mungkin saja saat sudah mati kita sudah tidak takut akan semuanya.

Selang kematian ayah saya, sekitar 7 bulan kemudian sepupu saya meninggal karena pendarahan setelah melahirkan. Dan jenazahnya pun diusung ke rumah, lagi-lagi saya duduk didekatnya untuk membersihkan cairan yang kerap mengalir dibibirnya sampai saat pemakaman tiba. Sekitar setahun kemudian, dalam rangka pekerjaan, saya dihadapkan pada beberapa kadafer yang sudah kaku dan menghitam. Yah.. memang saya pikir profesi dokter begitu hebat, karena dapat mengolah pikiran positif demi ilmu pengetahuan dan mengesampingkan emosi ketika membelah-belah mayat tak dikenal tersebut. Saya yang tidak terbiasa, bukan takut karena mayatnya tetapi bau pengawet yang membuat saya tidak tahan. Mengolah ketakutan memang bukan hal yang mudah. Namun menjadi mubasir ketika ketakutan menghambat produktifitas. Kenapa saya bicara tentang ketakutan terhadap mayat, karena saya baru saya membaca buku berjudul ‘Stiff – Kehidupan Ganjil Mayat Manusia”.

Banyak hal-hal tentang mayat yang dianggap tabu untuk diungkapkan. Misalnya, ketika tetangga saya meninggal dan baru diketahui sekitar 3-4 hari kemudian karena anaknya baru saja pulang. Tabu untuk mengatakan badannya udah bengkak dan bau, karena takut nanti arwahnya gentayangin kita. Padahal adalah proses yang wajar jika bau muncul dari sosok mayat, kecuali dilakukan pengawetan dengan disuntikkan formalin melalui pembuluh darah dengan sebelumnya mendesak darah keluar dengan air. Masalah gentayangan kan itu cerita yang dipercaya bagi yang mempercayai.

Di Amerika adalah hal yang umum jika mendonasikan jenazah untuk ilmu pengetahuan. Banyak sekali manfaat dari jenazah ini, baik yang berasal dari mayat donasi, mayat tak dikenal, mayat penjahat yang dihukum mati, dan tak sedikit mayat yang berasal kawasan kumuh karena sulitnya melakukan pemakaman yang wajar. Selain bisnis mayat untuk riset, ada juga bisnis mayat untuk obat yang dianggap berkhasiat menyembuhkan beberapa penyakit. Sekitar sejak sebelum tahun 1900, bisnis mayat sudah menjadi skandal karena pengadaannya yang ilegal dan uji coba praktek mayat untuk tujuan tertentu yang dianggap tidak etis.

Hal yang menarik dari manfaat mayat adalah perkembangan ilmu pengetahuan, antara lain dapat mengetahui beragam perkembangan medis, pengenalan anatomi, mengetahui kekuatan balon pelindung pada kemudi mobil, kekuatan sabuk pengaman, kekuatan kaca dan dasbor, dalam hal forensik untuk mengungkap berapa lama umur mayat, dimana arah ledakan bom dari luka buncahan daging mayat, mengetahui proses jatuhnya pesawat dilihat dari robekan baju dan kerusakan organ, kekuatan rompi tahan peluru, dan dapat memberikan harapan hidup bagi orang lain dengan donasi organ (mata, jantung, ginjal).

Kremasi di beberapa daerah menjadi ritual suci untuk peristirahatan terakhir dan di beberapa daerah kremasi adalah kegiatan untuk memudahkan pemakaman karena menghemat lahan. Teknik kremasi bisa dengan pembakaran atau dengan zat kimia dengan proses yang agak rumit hingga menjadi serpihan dan bubuk. Hasil kremasi ada yang dimanfaatkan untuk pupuk. Dilihat dari segi keetisan, memang hal ini sangat tidak mayati (kalau masih manusia, manusiawi J), namun riset di Amerika ada yang tetap melakukannya. Pelaku yang memiliki konsep untuk memanfaatkan mayat menjadi pupuk adalah seseorang yang tidak tahan sering mengamati tingginya biaya pemakaman, dan seorang environmentalis yang memiliki paradigma pemakaman bernuansa ekologi.

Ada beberapa hal yang tadinya saya anggap mistis, namun terjawab. Misalnya, mayat bisa mengeluarkan gas, bukan karena otot bokongnya bekerja, tetapi akumulasi gas yang dihasilkan bakteri di dalam perut yang mendorong gas keluar melalui lubang terdekat. (kalau dulu hal ini, akan saya anggap saat hidupnya pasti orang jahat). Dan mengetahui proses pembakaran mayat, dimana otot-otot paha dan tubuh akan mengalami kontraksi dan memendek kemudian tertarik keatas sehingga berwujud seperti duduk atau membungkuk (ingat jenzah Mbah Marijan yang diketemukan seperti sujud, yang kemungkinan memang seperti itulah bentuk jenazah karena terbakar).

Dalam sebuah pooling surat kabar Swedia, 40% responden menyatakan siap dibeku keringkan dan dipakai untuk menyuburkan tanaman. Fenomena ini dapat terjadi karena semakin tingginya kesadaran ekologi individu dan mungkin semakin terbatasnya lahan pemakaman dan prosesi yang membutuhkan biaya dan membebani keluarga. Berbeda dengan di Indonesia, yang biayanya tidak terlalu tinggi (banyaknya kayu yang mudah diperoleh untuk peti) dan prosesi yang mungkin sebagian besar penduduk kita tidak terlalu dibebankan terlalu berat. Ditambah lagi, asumsi umum yang masih memartabatkan jenazah dan beberapa ajaraan agama yang diintepretasikan wajibnya menguburkan jenazah atau kremasi.

Memang mengerikan kalau kita membayangkan bahwa jenazah kita terlibat dalam riset anatomi sebuah universitas. Tetapi, sebenarnya apa yang kita takutkan akan mayat. Toh, kita semua juga akan mati dan mayat tetap akan berubah bentuk menjadi tidak menarik di dalam tanah. Saya sepakat dan mengutip dengan Mary Roach bahwa jika saya seorang mayat, saya ingin eksperimen dilakukan terutama atas nama ilmu pengetahuan, pendidikan, kendaraan (mobil) yang lebih aman, atau prajurit yang lebih terlindungi, tetapi tidak dilakukan atas dasar agama. Namun, tentunya perlu kompromi keluarga. Hal ini karena, biasanya mayat bukan lagi menjadi beban si orang mati, tetapi menjadi beban dan tanggung jawab keluarga yang ditinggalkan baik dari segi biaya dan beban moral dari segi keetisan di norma masyarakat.

-Y-

Selasa, 04 Januari 2011

Indoor Plant for Health and Comfort

Pada skala laboratorium, penggunaan tanaman hias (Zamioculcas zamiifolia (daun dolar) dan Aglaonema modestum (daun sri rejeki)) di dalam ruang berukuran 0,6 x 0,6 x 0,6 m dapat mereduksi 25 ppm benzene (salah satu senyawa dari VOC) sampai dengan konsentrasi 0 selama 2-8 hari1. Selain itu, tanaman hias di dalam ruang juga bermanfaat untuk mereduksi C02 dan CO baik di dalam ruang ber AC (penurunan CO2, 10%; CO, 92%), maupun gedung dengan ventilasi alami (penurunan CO2, 25%; CO, 86%) dengan menggunakan tanaman Dracaena ‘Janet Craig’1. Dengan penerangan yang cukup, tanaman hias dapat mengembalikan kesegaran udara dalam ruang melalui dua mekanisme: menyerap CO2 pada saat fotosintesis, dan melepaskan O2 sebagai produk yang dihasilkan.


Secara psikologis, tanaman hias sebagai salah satu elemen unsur alam di dalam ruangan dapat mempengaruhi kinerja kognitif dalam lingkungan pekerjaan kantor2. Keberadaan tanaman hias di dalam ruang rawat inap sebuah rumah sakit memiliki daya tarik tinggi bagi pasien sehingga dapat mengurangi stress bila dibandingkan dekorasi atraktif lainnya seperti lukisan. Hal yang menjadi kendala adalah berkurangnya ruang gerak petugas medis dan potensi kontaminasi biologis dari tanah dan air pada tanaman, oleh karena itu perlu pemeliharaan secara periodik3.

Preferensi manusia dalam menanggapi keberadaan tanaman hias di dalam ruang dapat dijelaskan melalui teori evolusioner yaitu bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk memilih unsur-unsur alami terhadap benda-benda buatan manusia4. Akibatnya, manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk memperhatikan dan merespon positif terhadap unsur-unsur alami5.


Referensi:


  1. Tarran J., F. Torpy, M. Burchett. 2007. Use of Living Pot-Plants to Cleanse Indoor air – Research Review. Proceeding of Sixth International Conference on Indoor air Quality & Energy Conservation in Buildings-Sustainable Built Environment, Oct 28-31, 2007, Sendai, Japan Volume III, 249-256.
  2. Ruth K.R., K.H. Evensen, D. Rich, G. Sjǿstrǿm, G. Datil. 2010. Benefits of Indoor Plants on Attention Capacity in an Office Setting. Journal of Environmental Psychology xxx (2010) 1e7. USA.
  3. Dijkstra K., M.E. Pieterse, A. Pruyn. 2008. Stress-reducing Effects of Indoor Plants in The Built Healthcare Environment: The Mediating Role of Perceived Attractiveness. Preventive Medicine 47 (2008) 279–283. Elsevier.
  4. Kaplan S. 1987. In Dijkstra K., M.E. Pieterse, A. Pruyn. 2008. Stress-reducing Effects of Indoor Plants in The Built Healthcare Environment: The Mediating Role of Perceived Attractiveness. Preventive Medicine 47 (2008) 279–283. Elsevier.
  5. Ulrich et al. 1991. In Dijkstra K., M.E. Pieterse, A. Pruyn. 2008. Stress-reducing Effects of Indoor Plants in The Built Healthcare Environment: The Mediating Role of Perceived Attractiveness. Preventive Medicine 47 (2008) 279–283. Elsevier.

Rabu, 22 Desember 2010

Catatan di "Hari Ibu"

Ketertarikan akan isu perempuan saya rasakan sejak di bangku kuliah. Dengan membaca beberapa buku jurnal perempuan, saya hanya ingin mengetahui hak dan kewajiban perempuan sebagai manusia yang memiliki kesetaraan dengan lelaki dan bukan untuk menjadi sok tahu dan melawan kodarati. Konteks perempuan memiliki banyak bentuk, antara lain: sebagai ibu, orangtua tunggal, wanita single, pekerja rumah tangga (PRT), wanita pekerja, wanita karir, dan ibu rumah tangga. Dari pembelajaran, tujuan yang diperoleh tidak lain untuk memuliakan sesama manusia, perempuan dan lelaki adalah setara dengan tanda petik tergantung dari sisi relatif yang digunakan, akan tetapi pada dasarnya adalah ada nilai universal yang sama-sama harus dijunjung yaitu saling menghargai.

Tulisan ini terinspirasi dari beberapa hal yang saya lihat baru-baru ini terkait dengan ketidak adilan terhadap kaum perempuan. Kebetulan ketiganya adalah contoh dari ketidakberdayaan perempuan terhadap superior laki-laki karena ketidak tahuan perempuan akan hak-haknya, sementara kewajibannya sudah cukup dilakukannya dengan baik. Lagi-lagi kebodohan dan kemiskinan menyumbang penyebab terbesar, ditambah dengan budaya patriarchal dan intepretasi agama yang tidak berpihak dengan keadilan. Lalu siapa yang patut disalahkan? Keluarga, masyarakat, pemerintah? Jika ingin jawaban singkat, katakan saja mereka sedang ‘sial’.

Subyektifitas dan sarkasme mungkin akan tertuang disini, hal ini karena saya tidak tahu harus bagaimana untuk membantu mereka. Namun, setidaknya tulisan ini dapat membantu menyadarkan kita betapa masih banyaknya perempuan yang terpuruk. Kemandirian perlu ditularkan kepada teman-teman yang terjepit dalam peliknya kasus poligami yang masih saja marak.

Berikut beberapa kasus yang dapat dilihat dan masih berada disekeliling kita: nikah siri kemudian punya anak dan ditinggalkannya sang ibu perempuan dengan tanggungan si jabang bayi; sebagai istri kedua dengan iming-iming bahwa akan mencerai istri pertama dan bla-bla-bla, padahal tidak juga menjadi istri tunggal; memukul istri karena alasan ada dalam al-Quran; baru saja pisah 4 bulan karena belum ada itikad dari kedua belah pihak untuk kompromi, sang suami sudah memutuskan dan mengumumkan sudah mendapat calon mama baru tanpa menyelesaikan masalah rumah tangganya, lagi-lagi dengan alasan bahwa Quran ada yang mengatur kalau 3 bulan pisah berarti cerai; melarang istri bekerja namun solusi keuangan tidak didiskusikan; menormorduakan istri dibawah orangtua atau pekerjaan; abainya pendidikan untuk istri karena dianggap tidak perlu; atau sang suami memiliki hubungan dengan wanita lain dan megajukan perceraian. Dari hal diatas, yang menjadi masalah adalah biasanya perempuan dalam keadaan tidak siap secara finansial dan sulit membangun kepercayaan diri serta trauma.

Menanggapi keprihatinan ini, perhatian global di curahkan dengan menetapkan Hari Perempuan Internasional tanggal 8 Maret dan juga Hari Ibu tanggal 22 Desember. Namun, contoh kasus yang saya amati, kebetulan masalah perempuan ini menimpa kepada mereka yang sudah memiliki anak. Mereka adalah seorang ibu. Padahal jika saja sang suami memuliakan sang istri selayaknya seperti memuliakan ibu, tentunya konflik tidak akan terjadi. Oleh karena itu, mungkin pada peradaban sekarang ini kita perlu merubah slogan untuk memuliakan seseorang dari “umi, umi, umi” menjadi “perempuan, perempuan, perempuan”. Dengan demikian, lelaki dapat menghargai perempuan, apapun konteksnya.

-Y-

Minggu, 10 Oktober 2010

Kenyamanan Suhu Ruang, Listrik dan Lingkungan

Akhir-akhir ini, cuaca mengalami anomali. Kadang kita akan merasa kepanasan karena teriknya matahari, tapi tak jarang hujan membuat ruangan menjadi sangat dingin. Untuk kenyamanan dalam beraktivitas, maka masalah panas di dalam ruangan akan diatasi dengan pengkondisian udara atau air conditioning (AC) yang sudah umum dilakukan baik diperkantoran ataupun perumahan. Sedangkan dalam mengatasi ruangan yang dingin, biasanya cukup mematikan AC. Namun, untuk gedung-gedung komersial seperti perkantoran, mall, hotel dan rumah sakit yang menggunakan AC sentral sehingga tak bisa dilakukan pengaturan pendingin ruangan secara manual atau individu, maka yang terjadi yaitu adanya adaptasi perilaku dengan cara memakai jaket atau menghindari hembusan sumber dingin dari diffuser. Mengatasi kedingininan di negara tropis berbeda dengan di negara 4 musim. Adanya musim dingin dapat diatasi dengan pemanas ruangan sehingga kondisi udara ruangan menjadi lebih hangat dibandingkan luar ruangan.

Udara yang dingin di dalam ruangan bukan hanya sekedar isu kenyamanan bagi penghuni, tetapi terkait dengan pemakaian energi listrik dan lingkungan. Hal ini karena pengkondisian udara baik itu pendingin ruangan atau pemanas ruangan memerlukan listrik dalam pengoperasian AC. Berikut ini yang terkait dengan kenyamanan suhu udara ruang, antara lain:

Biaya tagihan listrik berarti uang. Bagi pemilik gedung, konsumsi listrik dapat dilihat dari besarnya biaya tagihan PLN (Perusahaan Listrik Negara) setiap bulannya. Semakin sering menggunakan AC ruang, semakin besar biaya yang dikeluarkan.

Jejak ekologis. Sumber listrik dari PLN menggunakan batubara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Batubara yang digunakan berasal dari eksplorasi kawasan (hutan) yang mengandung batu bara. Pertambangan ini mengubah bentang alam yang dapat mengganggu harmonisasi ekosistem di lahan tsb yang terdiri atas berbagai makhluk hidup seperti tanaman, serangga, mamalia dan berbagai jenis burung. Pembukaan lahan hutan tanpa dilakukan reboisasi dapat menghilangkan jejak ekologis sehingga mengurangi biodiversitas dan keseimbangan rantai makanan.

Banjir dan erosi. Adanya pertambangan konvensional sering meninggalkan bekas lahan tambang tanpa dilakukan rehabilitasi lahan terlebih dahulu. Hal ini mengakibatkan lahan menjadi rentan terhadap banjir dan erosi karena tidak ada lagi akar tanaman yang mampu mengikat air dan zat hara tanah. Porositas tanah terganggu sehingga terjadi water run off tanpa diserap oleh tanah. Air dari dataran tinggi yang menyapu lahan kedataran lebih rendah, membawa sedimen yang dapat terangkut sehingga kerap terjadi banjir beserta lumpur disepanjang bantaran sungai yang meluap.

Jejak karbon. Proses produksi pada pembangkit tenaga listrik akan mengeluarkan hasil samping berupa zat pencemar ke udara dalam jumlah yang relatif besar, antara lain karbon dioksida. Pelepasan karbon keudara diduga sebagai kontributor terjadinya efek rumah kaca sehingga kondisi cuaca saat ini sering tidak dapat diprediksi.

Perlu diketahui bahwa mendinginkan 1 derajat Celsius udara ruang memerlukan konsumsi energi sebesar 10%. Sebagai gambaran, penelitian Karyono (2001) menunjukkan sekitar 95% dari 596 karyawan di beberapa bangunan tinggi di Jakarta merasa nyaman pada suhu ruang 26,4 derajat Celsius. Menurut Standar Nasional Indonesia 03-6572-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung bahwa zona kenyamanan termal orang Indonesia untuk perancangan ruangan umumnya 25 ± 1oC.

Namun, seringkali kita menyesuaikan thermostat pada pendingin ruangan hingga dibawah 23 derajat Celsius sehingga dapat dihitung berapa persen kenaikan energi listrik yang dibutuhkan, batubara yang dibutuhkan, ekosistem yang dihilangkan, dan jejak karbon yang ditinggalkan. Masalahnya seringkali kita terlalu berlebihan dengan kenyaman termal, bahkan adanya persepsi semakin dingin semakin modern akan meningkatkan pemakaian energi listrik. Padahal jika kita menghemat 1 derajat Celsius maka kita akan menghemat pemakaian energi listrik sebesar 10%. Hal ini berarti menghemat biaya, mengurangi jejak ekologi dan jejak karbon. Jadi… mari kita selamatkan bumi dengan pendingin ruangan yang tidak berlebihan.

Bibliografi
Karyono, T.H. 2001. Penelitian Kenyamanan Termis di Jakarta Sebagai Acuan Suhu Nyaman Manusia Indonesia. Jurnal Dimensi teknik Arsitektur Vol. 29, No.1, Juli 2001: 24-33.
http://www.50waystohelp.com/ 10/10/2010; 10.00 wib

Sabtu, 25 September 2010

Krito-Sokrates #1 (Tetralogi Plato)


Krito (Yunani: Κρίτωνα/ Krítona) adalah dialog singkat yang dibuat oleh filsuf Yunani kuno Plato. Krito adalah percakapan antara Socrates dengan sahabatnya bernama Krito di dalam penjara tentang keadilan, ketidakadilan dan respon yang tepat untuk ketidakadilan. Socrates berpikir bahwa ketidakadilan mungkin tidak dijawab dengan ketidakadilan dan menolak tawaran Krito untuk membiayai upaya melarikan dirinya dari penjara. Dialog ini berisi pernyataan kuno dari teori kontrak sosial pemerintah.


Dialog dimulai pada saat Socrates sadar (dari bangun tidur) akan kehadiran Krito di sel penjara. Ketika Socrate terkejut bahwa penjaga telah mengijinkan Krito masuk ke dalam sel beberapa waktu lebih awal, Krito memberitahukan bahwa ia mengenal penjaga dengan baik dan telah memperlakukan penjaga dengan kebajikan tertentu. Krito memiliki kabar buruk bagi Socrates. Dia mengatakan kepadanya bahwa ada saksi mata melaporkan kapal telah datang dari Delos yang berarti besok Socrates akan dieksekusi. Socrates menampik laporan tersebut dengan mengatakan bahwa dia telah bermimpi seperti sebuah visi. Dalam mimpi terlihat seorang wanita cantik berjubah putih mengatakan kepadanya bahwa pada hari ketiga maka ia akan pergi ke Fthia, yang merupakan referensi Akhilles dalam Iliad bahwa prajurit terkuat dari Yunani akan dapat kembali ke rumahnya yaitu Fthia yang subur pada hari ketiga. Dalam mimipi Socrates, Fthia menjadi sebuah simbol ‘rumah’ yang ke sana dia akan kembali setelah kematiannya, sehingga sangat jelas arti mimpi bagi socrates bahwa kapal akan tiba besok dan eksekusi akan dilaksanakan pada hari ketiga.

Krito telah tiba pada jam awal untuk menyelamatkan Socrates dari kematian. Krito mengatakan bahwa jika Socrates mengikuti aturan untuk tetap dieksekusi, orang akan menganggap bahwa Krito dan teman-teman tidak mampu membiayai pelariannya. Krito menegaskan bahwa ia tidak akan mendapatkan banyak masalah karena membantu penyelundupan Socrates keluar dari penjara sebab tidak dibutuhkan banyak uang untuk menyuap orang agar socrates keluar dari penjara. Dia menambahkan bahwa jika Socrates takut menguras rekening Krito, ada beberapa wisatawan yang siap menggunakan uangnya untuk Socrates antara lain Simmias dan Kebes. Selain itu, Krito menegaskan bahwa Socrates memiliki dukungan di kota-kota lain seperti Thessaly yang akan menjadi perlindungan aman dan tidak menyusahkan sebagai tempat pengasingan.
Krito melanjutkan dari segi moral bahwa Socrates akan tidak adil bila mengikuti upaya musuh-musuhnya terhadap dia. Socrates memilih "jalan termudah", sebagai lawan dari jalan berani, terhormat, dan berbudi luhur. Krito merasa hal ini sebagai jalan kematian yang tidak adil. Socrates akan bertindak pengecut jika ia tidak melawan ketidakadilan tersebut.
Krito lebih lanjut menyatakan bahwa seorang ayah (seperti Socrates) memiliki kewajiban untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya dan harus mencegah mereka menjadi anak yatim jika keadaan memungkinkan. Dia mengatakan bahwa jika anak-anaknya menjadi anak yatim biasa, berarti Socrates telah mengkhianati putra-putranya.
Krito menambahkan bahwa perkara pengadilan seharusnya dapat dihindari dan terlihat seolah sebuah cemoohan, namun Krito merasa gagal menanganinya. Dia mengatakan bahwa kegagalan untuk melarikan diri akan menjadi kekonyolan yang klimaks karena ketidakmampuan teman-teman Socrates untuk mengatur urusan dan pengecut yang memalukan.
Tanggapan Socrates
Socrates mengatakan kepada Krito bahwa Socrates adalah salah satu dari orang-orang yang harus dibimbing oleh akal dengan membuat argumen dari hasil perenungan yang terbaik. Socrates mengklaim bahwa ia serius dalam sidang tentang tidak takut kematian. Dia mengungkapkan penghinaan untuk mengikuti pendapat massa dan bertindak secara acak. Socrates mengatakan bahwa satu-satunya orang yang pendapatnya dipedulikan adalah sang pakar mengenai keadilan dan ketidakadilan. Bagi Socrates, hidup dengan baik sama dengan hidup dengan terhormat atau dengan adil.
Perihal uang, reputasi dan membesarkan anak adalah masalah yang sebenarnya diperhatikan orang banyak saja, yang dengan senang menghukum mati orang dan akan menghidupkan mereka kembali jika mereka dapat melakukannya tanpa sedikit pun melibatkan nalar. Pertanyaannya bukan apa yang akan orang pikir tentang dirinya, tetapi adalah apakah itu akan menjadi tidak adil bagi Socrates untuk melarikan diri. Socrates berpendapat bahwa jika itu tidak pernah baik untuk melakukan ketidakadilan, maka tentu tidak pernah baik untuk melakukan ketidakadilan dalam menanggapi ketidakadilan. Dia mengatakan bahwa premis ini akan diambil sebagai benar untuk tujuan diskusi mereka. Krito mengatakan dia setuju dengan Socrates. Ini tidak menjawab apakah itu adil atau tidak adil bagi Socrates untuk melarikan diri dari penjara, jadi Socrates bertanya apa yang akan dikatakan Undang-undang (hukum negara) tentang meninggalkan kota.
Socrates mengklaim bahwa Undang-Undang akan mengatakan bahwa ia menghancurkan kota seluruhnya jika meninggalkan kota dan ini tidak adil. Selanjutnya Hukum akan mengatakan bahwa warga negara berdiri dalam kaitannya dengan kota, sebagai anak terhadap orangtua dan sebagai budak terhadap tuannya. Orator Hukum kemudian akan mengatakan bahwa negara telah memberikan kepada Socrates kelahiran, pengasuhan, pendidikan dan keikutsertaan dalam semua manfaat dan kebaikan yang disediakan bersama dengan semua orang yang sama-sama menjadi warga kota. Pertanyaan Hukum, apakah dalam upaya (meninggalkan kota) socrates tidak sedang mengusulkan untuk memperlakukan negara dengan adil. Hukum akan menyatakan bahwa Socrates tidak pernah meninggalkan kota untuk menghadiri suatu perayaan (kecuali hanya sekali di Isthmus), untuk tujuan lain (kecuali untuk pelayanan di militer), tidak pernah pergi keluar negeri dan tidak ingin mengenal kota lain, sehingga dikatakan bahwa Socrates puas menjadi warga kota dengan menjadi ayah bagi anak-anaknya di kota Athena. Kemudian hukum akan menanyakan apakah hukum benar kalau negara menyatakan bahwa socrates telah sepakat menjadi seorang warga negara berdasarkan persyaratan yang ditetapkan. Socrates tidak menyatakan bahwa ia puas dengan argumen Hukum, alih-alih bertanya Krito apakah mereka tidak harus menerimanya. Krito mengatakan mereka harus, dan dialog datang ke kesimpulan.
Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Crito ; 25/09/2010: 13.00 wib
Iones Rakhmat. (2009). Sokrates dalam Tetralogi Plato (Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Minggu, 19 September 2010

Lilin Pelapis Buah


Tulisan kali ini, berawal dari temuan atas pengalaman yang tidak disengaja. Seperti biasa, saya mencuci dahulu apel dengan air matang sebelum memakannya. Pada saat mengerok kulit buah dengan pisau karena hendak membersihkan dari sedikit kotoran pada permukaan kulit buah, saya dapati adanya remah-remah lilin. Ketika semakin saya kerok kulitnya, semakin banyak serutan lilinnya. Seketika juga saya kupas kulit sebelum dimakan karena takut lilin tersebut beracun pada tubuh.


Ternyata setelah bertanya dan membaca beberapa jurnal, lilin pelapis apel itu dapat dimakan (edible film and coating) karena terbuat dari bahan pengawet yang tidak beracun. Bahan pengawet tersebut berfungsi untuk menjaga kesegaran buah selama proses distribusi hingga sampai ke tangan konsumen. Hal ini dilakukan karena buah terus mengalami respirasi setelah dipanen.

Kesegaran buah dapat dijaga dengan mengurangi tingkat transfer gas dan dengan mengendalikan faktor-faktor seperti komposisi gas pada buah (oksigen, karbon dioksida dan etilen), gas-gas disekitar buah, permeabilitas uap air, suhu, kelembababan relatif dan cahaya. Edible film and coating merupakan semi permeable barrier yang dapat menjaga kualitas makanan. Coating ini biodegradable (dapat hancur secara biologis) dan fisiknya menangkap karbondioksida yang berada di dalam buah, menyegel pori-pori serta mengurangi pertukaran gas yang terjadi melalui kulit buah1.

Beberapa contoh bahan pengawet pada pelapis kulit buah antara lain terbuat dari gliserol, kolagen, galaktomannans dan whey protein concentrate (berisi ascorbic acid ditambah dengan CaCl2). Lapisan film pada buah yang dapat dimakan tersebut, bukan berasal dari produk sintetis (bahan kimia buatan) tetapi antara lain terdiri atas tiga jenis bahan biologis yaitu polisakarida, protein dan lipida yang aman untuk dikonsumsi. Misalnya galaktomannan berasal dari albumin atau endosperma biji misalnya dari keluarga Leguminosae, Adenanthera pavonina (saga) dan Caesalpinia pulcherrima (kembang merak). Keduanya merupakan buah tropikal asia dan biasa digunakan sebagai tanaman hias.

Jadi, jangan khawatir untuk mengonsumsi buah apel bersama dengan kulitnya, asalkan terlebih dahulu dicuci. Berikut ini link jurnal yang berisi tentang contoh bahan pelapis buah (tidak saja apel) yang menunjukkan kekuatan edible film and coating dalam menjaga kesegaran buah dan komposisi dari bahan tersebut. Semoga bermanfaat J

Menjadi Dewasa

Buat saya,  dewasa itu berarti mampu menahan perkataan yang tidak perlu ada argumen dari isu yang tak penting, ini satu hal isu tak penting ...