Selasa, 30 April 2013

Tweets of Jilbab

http://www.teachthought.com/twitter-hashtags-for-teacher/
What do you expect to share your thought in only 140 characters? Some smart guys give a kultwit by making numbers for every tweet. Their tweets are enlightening peoples by their smart chosen words, so amazing. Twitter is a place to share your opinion or everything to speak your mind on your own private wall. But, we are not alone there, maybe few peoples who care or take a little attentions will read your tweets and give many reactions depend on their interest. People who can share many interesting issues must have read a lot, a lot of books. Well here, because i don't read a lot, so .. i just can share uninteresting issues with only few words. Hehe...  

Yesterday, i tweeted about my thought of hijab or jilbab. Here are my tweets:
  • Waktu gw kuliah, bokap gw bilang: "ga usah pake jilbab ndok, hatinya aja yg dijilbabin". Bokap gw cool bgt. Itu 14an tahun yg lalu.
  • Kalau bokap gw masih hidup di jaman skrg,mgkn beliau akan setuju sama gw,kl jilbab ya sama aja dg orang pake bando atau konde. Hy aksesoris.
  • Ga bisa menilai kesalehan dari jilbab,begitu juga jangan menilai berjilbab buruk karena orang tsb memakai celana n baju ketat. Biasa ajalah.
  • Buat gw sih yg penting bagaimana perilakunya,ga rugiin orang atau bermanfaat itu lebih bagus. Perkara religiusitas, monggo disimpan sendiri. 

Those words came from my reaction after i saw the front page of daily newspaper (Kompas, Monday April 29th 2013). I saw Angel Elga wears hijab for legislative prospective candidate (red-calon legislatif-caleg). But the previous day or in Sunday, I read Kompas comic that show about the trend of hijab. First, a girl was passing three boys, she was wearing a sexy dress. Then that girl back again but with the different costume, which is look like a muslim clothing plus a hijab. And then the boys asked her where she was going to go. The girl answered that she wanted to be a caleg.

After many thoughts in my mind, then i wrote those tweets via twitter.Then few reactions were coming, i got some attentions and a critic, i loved it. Thank you twitter.  

-Y-

Minggu, 28 April 2013

Liburan ke Lembang



Ingin berlibur tidak jauh dan santai serta bebas macet, memang perlu dipikirkan. Kalau ke puncak yang terpikir adalah macet. Kemudian, di hari cuti yang telah ditentukan, pasangan saya kedapatan harus ke Bandung. Ya sudah saya ikut, meski terbayang macet namun rencana biarlah dipikirkan selanjutnya. 

Bandung memang memanjakan bagi mereka yang suka fashion, selain itu aneka kuliner juga menjadi daya tarik tersendiri. Namun, saya kurang berasa berlibur kalau hanya itu yang didapat karena urusan gaya-gayaan mah, di Jakarta juga ada. Lalu akhirnya kami bergegas untuk menikmati udara Lembang. 

Sesampainya di Lembang hari sudah gelap, kami (saya dan pasangan) menginap di hotel Bumi Makmur Indah, hotel melati dengan harga Rp.350.000/malam. Hotel ini umumnya untuk rombongan atau kelurga karena setiap kamar tersedia kasur untuk empat orang. Ada juga yang harganya Rp.250.000/malam yang juga berisi empat kasur. Uniknya, sarapan diantarkan ke kamar sebuah bungkus kertas yang berisi empat roti dan empat susu. hehe.. lumayan kan. Di Lembang cukup banyak hotel yang bagus, tapi karena bagi kami cukuplah kamar yang layak (menurut kami) dan air panas untuk mandi jadilah hotel melati menjadi pilihan. 


Oiya, kami lanjutkan dulu ceritanya. Setelah mendapat hotel, kemudian kami makan di warung "ayam brebes" berdua + 50ribu. kemudian kami menikmati udara lembang dengan berjalan kaki melintasi jalan Raya Lembang, jalan Panorama dan jalan Grand Hotel. Setelah selesai itu, kami mencicipi jagung bakar (Rp.7000) dan ronde (Rp.10.000), santapan penutup ini dapat menghangatkan tubuh dari udara Lembang yang sejuk di malam hari. Selain kami juga terlihat pelancong dari beberapa daerah terlihat dari plat mobil yang mampir seperti Bogor dan Jakarta. 
--
Pagi harinya, kami bergerilya lagi. Kami laju kendaraan dan parkir di depan gerbang masuk. Saya lupa namanya, tempat ini merupakan salah satu akses menuju wisata Tangkuban Perahu dengan berjalan kaki. Tiket masuk seharga Rp.5000/orang. Jalan setapak yang berkelok dan menanjak, kiri kanan terdapat pohon yang menjulang tinggi juga tebing. Jalannya masih dari tanah, tidak berapa jauh terdengar gemericik mata air yang menjadi salah satu sumber air bersih penduduk sekitar. Udaranya begitu segar, sampai kemudian terpolusi karena diketahui di belakang kami ada empat remaja yang juga melintas dan merokok. Kami persilahkan mereka mendahului kami, supaya saya bisa melanjutkan menikmati udara yang bersih.
Panorama Lembang
Mata Air

Kicau burung yang riuh membuat kami betah menikmati suasananya, namun berhubung tidak ada persiapan untuk mendaki bebukitan, maka kami hentikan perjalanan setelah baru satu jam berjalan. Kami berbalik kembali menuju jalan raya dan mencoba masjid di alun-alun kota. Di depan masjid terdapat lapangan dan taman bemain. Seru melihat anak-anak bermain sepulang sekolah.

Masjid di Lembang


Kami lanjutkan dengan membeli oleh-oleh di sekitar jalan Raya Lembang. Jalur pejalan kaki tidak tertata rapi, banyak sampah dan kotor. Saluran buangan air juga terlihat kotor dan berlemak, karena di sekitar jalanan banyak terdapat warung makan. Bau udara dari kotoran kuda terkadang melintas, karena masih banyak delman yang bekerja di sela-sela angkot yang menderu. Di sini kami juga menikmati ketan bakar dan teh tawar hangat seharga Rp.7.000. Setelah selesai dengan urusan peroleh-olehan, kami melanjutkan perjalanan berkendara menuju Tangkuban Perahu. Dengan harga tiket masuk Rp.13.000/orang. 
Tangkuban Perahu
Nah, selesai sudah jalan-jalan di Lembang. Karena sudah masuk akhir pekan, maka perjalanan pulang ke Jakarta kami putuskan via Subang supaya tidak terjebak macet di Bandung. Jadilah sebelumnya memasuki tol Jakarta, kami makan siang di sate maranggi yang terkenal uwenak itu. lalu .. kembali ke Jakarta disambut oleh kemacetan di tol dalam kota, ah itu sudah biasa :) -(26,27 April 2013)

-Y-

Minggu, 21 April 2013

Hello _ First Posting

This is the first time i write my thoughts in English language. It is not because i have no time to do it, but it is because I have no confidence to do it. Everybody can says that you just need practices by keep talking and/or writing to improve your English. It sounds easy, but honestly it was not that easy for me. If i had had enough knowledge (grammar and vocabularies), then i could have spoken or written English fluently, but i didn't have enough knowledge. And now, i would not need more practices if i mastered the English language. Knowledge helps me build my confidence. I am not a person that have a confidence, naturally. That is why i have been taking an English course for eight mounts, seriously to know learn about grammar in deep.

Just like a quote: "it is never too late to learn". I keep that words, to step ahead until i reach my aim. So this is the actualization's place, to practices and there will be so many mistakes in grammar and wording that you'll find. Beside that maybe the sentences are more Indonesian English (if you know what i mean).

My teacher said that you had to think in English about everything on your mind. She warned me not to think in Indonesian language then you translate it, but do it in verse. All of that would be the easiest way to learn quick. 

Well, yes, maybe it is too late for my age. But, It is not easy to confess your lack. At least, learning to keep learning is a bliss.

-Y-

Jumat, 22 Februari 2013

Yuukk.. Berkebun #5

Halo.. berkebun kali ini masih bicara seputar tanaman cabai saya. Sekarang, masa tanamnya sudah memasuki usia sekitar enam bulan. Lihat penampakan terbarunya yuuukk.. di bawah ini:

Panen Cabai di Usia + 6 Bulan
Hasil panen cabai yang sudah dipetik di bawah ini:
Sekali-kali pasang foto yang besar ndak apa-apa ya.. hehe.. sebab saya lagi senang menjadi petani kecil-kecilan :)

-Y-

Minggu, 27 Januari 2013

Perkawinan Tanpa Anak (Bagian I)

Setelah sekian lama saya coba untuk mencari artikel tentang alasan menunda kehamilan di Indonesia, baru beberapa hari yang lalu saya menemukan isi artikel yang bisa menjawab sebagian besar pertanyaan yang ada di otak saya. Artikel tersebut secara garis besar menggambarkan beragam kondisi perkawinan tanpa anak dengan ulasan yang menarik. Untuk lebih lengkapnya silahkan baca artikel yang berjudul "Tetap mesra tanpa anak". 

Di Indonesia, jika menanyakan kepada orang lain perlukah sebuah rumah tangga memiliki anak, maka hampir semuanya menjawab perlu dan mungkin wajib. Sehingga kalau kemudian ada yang jawabannya tidak wajib atau sekedar untuk menunda (kehamilan) saja, lantas menjadi aneh. Lain halnya kalau saya coba menelusuri informasinya melalui internet, bagi masyarakat di luar negeri memang masih banyak yang menganggap perlunya anak, tapi mencari pasangan yang terang-terangan memutuskan menunda kehamilan atau tidak memiliki anak itu masih mudah ditemukan. 

Menurut sebuah artikel, ada dua tipe pasangan suami istri yang tidak memiliki anak. Pertama, pasangan suami-istri yang memang tidak bisa memiliki anak secara biologis karena secara medis tidak subur (infertil). Kedua, pasangan suami-istri yang memang memilih tidak memiliki anak, sekalipun keduanya sehat secara medis.

--


Untuk waktu selama lima tahun terakhir, maka saya dan suami (kami) menganggap bahwa kami adalah tipe pasangan yang kedua. Walau belum terbukti kami merupakan pasangan subur, namun menunda kehamilan, kami lakukan dengan sadar dan sengaja. Kami mengandalkan KB kalender, meski kami sadar beberapa konsekuensi dari menunda kehamilan, seperti: masa subur akan berkurang seiring dengan pertambahan usia yang artinya kesempatan memiliki anak menjadi berkurang dibandingkan usia muda (usia 20-an); dan pertimbangan ekonomi ketika kami tua dengan masa pendidikan anak yang relatif masih dini.


Dibalik penundaan itu, sebuah komitmen untuk satu suara antara istri-suami adalah keharusan. Jika hal ini tidak dibicarakan dengan baik, tentunya akan berpengaruh secara psikologis terhadap salah satu pihak. Hal yang perlu dibicarakan lagi adalah mengenai kekompakkan menghadapi orang lain atau memberi alasan, baik itu kepada orangtua sendiri, saudara, teman atau orang lain. Misalnya jika menghadapi pertanyaan (seperti: sudah punya anak belum? kenapa menunda? sudah periksa ke dokter?), atau tanggapan colongan-maksudnya tidak diminta pendapatnya tetapi orang tersebut tetap bicara (seperti: "coba ke dokter A atau ke pengobatan alternatif B"; "enak lho punya anak, ada mainan baru" ; "karir terus, jangan takut.. rejeki anak mah ada aja lho"). 

--

Bila kematangan berpikir tidak dimiliki pasangan istri-suami dalam menghadapi pertanyaan dan tanggapan dari orang lain, maka tidak jarang yang akan dirasakan adalah tersinggung atau sakit hati bahkan hingga stres dan depresi.

Dalam hal ini, tentu saja kami menyiapkan alasan yang dapat diterima oleh orang yang pertama kami hargai yaitu orang tua (kalau untuk orang lain sih, saya tidak ambil pusing). Pendidikan adalah alasan yang paling tepat, sebab jika kita coba memberi alasan untuk mengejar karir, wah.. ini ndak masuk akal buat mereka. Terlebih jika mereka sangat mengharapkan cucu pertama. 

Pasalnya, pada umumnya untuk memiliki anak adalah semacam kodrat manusia dan wajib. Biasanya dengan alasan untuk meneruskan keturunan atau lebih jauhnya mungkin demi alasan kelangsungan makhluk hidup di dunia (yang ini alasan yang futuristic sih). Selain itu juga karena alasan (bagi yang percaya) untuk bekal setelah kematian melalui doa anak. Karena kelihatannya tak sedikit yang takut menghadapi kematiannya sendiri, nah dengan anak diharapkan dapat menjadi penuntun menjumpai ajal dengan jalan yang indah. Anak dianggap memberi banyak arti bagi kehidupan yang lebih baik dan penuh kebahagiaan.

Peradaban menunjukkan bahwa memiliki anak pasti hal yang menyenangkan atau menguntungkan, buktinya banyak yang melakukan hal itu secara turun temurun. Kecuali alasan ekonomi (seperti di Jepang), atau bagi orang-orang yang menganut kepercayaan tertentu dengan menahan hawa nafsunya untuk kebaikan diri dan bumi atau dengan kata untuk idealisme nya hingga mengenyampingkan kepentingan pribadi. 

--

Saat ini kami mengalami, masa aktif "alasan menunda anak" telah habis atau kerennya udah expired date, yang berarti kami sudah menyelesaikan pendidikan kami, mulailah tekanan itu hadir. Tekanan di sini maksudnya ketakutan orang lain bahwa rumah tangga menjadi tidak bahagia tanpa kehadiran anak, atau ketakutan karena wanita menjadi mudah depresi dan minder dari ketidaksempurnaannya. 

Bentuk tekanan sosial yang hadir antara lain: tuntutan untuk memeriksa kesehatan kandungan, sel telur dan sel sperma; sampai komentar yang memberi contoh dan membandingkan dengan orang-orang yang telah berhasil mempunyai keturunan.

Padahal mereka sebenarnya tak perlu khawatir, karena kami pasti melakukan hal-hal yang dapat membuat kami memiliki keturunan. Hanya saja, cara yang kami lakukan, tidak selalu sama seperti yang mereka harapkan. 

--

Banyak artikel mengenai perlu tidaknya memiliki anak dalam rumah tangga. Pendapat bahwa keluarga yang lengkap adalah yang telah memiliki anak sudah lazim ditemukan. Namun, saya juga pernah menemukan bahwa sebuah penelitian menunjukkan bahwa pasangan menikah tanpa anak itu lebih bahagia dibandingkan yang sudah memilikinya (kalau ini saya pikir tergantung dari budaya negara dimana penelitian dilakukan). Juga jangan pula menjadi kasihan kepada pasangan yang tidak atau belum memiliki anak. Artikel terakhir ini cukup mencerahkan, karena artikel ini bicara tentang "it is ok tanpa anak pada sebuah perkawinan", yang masih menjadi hal tabu untuk dibahas seperti di negara kita.

--

Tidak baik, jika kita selalu mempertimbangkan atau memikirkan atas apa yang orang nilai terhadap diri kita. Namun, jika datangnya dari keluarga, tentu menjadi hal yang berbeda. Karena kita harus menjaga tutur kata dan bahasa, agar mereka dapat mengerti bahwa tidak ada yang salah pada kami yang tanpa anak di dalam rumah tangga. Justru yang terlihat panik adalah mereka. Pada saat inilah, komunikasi dan kekompakkan dari sebuah pasangan berperan besar untuk tetap menjaga kemesraan dalam rumah tangga. Sebab terkadang tekanan itu datang dengan tiba-tiba dan dengan gaya bahasa yang beraneka ragam.

--

Saya masih belum mendapat jawaban tentang alasan yang tepat untuk memiliki anak, setidaknya dalam rumah tangga saya saat ini. Saat kadang terlintas di pikiran jika hidup tua nantinya kemudian menggantungkan kepada anak, rasanya seperti egoisme tingkat tinggi. Sulit bagi saya menerima itu. Memang saya belum pernah tua dan punya anak, tapi sampai saat ini saya merasa begitu banyak menikmati hidup bersama pasangan saya dan menjalankan banyak hal yang menyenangkan, ditambah kami tetap (dan selalu) mesra meski tanpa anak (setidaknya ini menurut saya). Selain itu, saya juga dapat mencapai banyak hal yang mungkin tidak bisa saya lakukan ketika pada kesempatan tertentu tersebut mungkin sedang memiliki anak.

Untuk menyuruh diam orang lain tentang keadaaan kami yang tanpa anak ini, rasanya tidak mungkin. Lebih baik menyiapkan diri untuk menanggapi mereka secara wajar. Sangat jarang yang dapat memahami kami. Saya memang belum bisa memahami keadaan orang yang sangat mengharapkan kehadiran anak kemudian mereka harus menjawab pertanyaan orang yang bertanya hal klise tersebut. Saya pikir, masih banyak hal lain yang bisa dilakukan agar tetap produktif daripada berkutat memikirkan pertanyaan atau tanggapan orang tentang pernikahan kami yang masih tanpa anak, termasuk menulis blog ini. Tetaplah berpikir positif. Mungkin sekilas nampak seperti curahan hati, namun sebenarnya saya berusaha mengulas lebih dalam, lalu mencoba menyumbang tulisan tentang pernikahan tanpa anak berdasarkan pandangan saya.

--

Saya ingin sekali mengungkapkan bahwa anak adalah anak, sama saja dari mana pun. Tak perlu dari hasil biologis sendiri. Kita bisa membesarkan anak yang bukan dari darah daging kita. Atau kita bisa tetap membesarkan anak orang lain yang tetap tinggal dengan orangtuanya sehinga tetap mendapatkan kasih sayang orang tuanya secara utuh. Kita tetap bisa mencurahkan rasa sayang kepada anak-anak dengan beragam cara tanpa harus memiliki. Banyak anak yang perlu diperhatikan, lalu mengapa harus dari rahim sendiri?.... 

Saya berpikir, jika ada seseorang yang bisa menganggap dan memperlakukan seluruh anak di dunia ini dengan baik, sama seperti membesarkan anak kandung dengan memberikan dukungan moral (kasih sayang) dan atau dukungan material, maka itulah pencapaian hidup yang paling mulia. Mungkin saya aneh, tapi begitulah.... 

-Y-

Selasa, 18 Desember 2012

Liburan Ke Semarang

Hore.. jalan-jalan lagi…. Pengalaman dari Liburan di akhir minggu kali ini adalah ke Semarang, saya pergi bersama suami dan dua teman wanita yang hebat, kedua wanita ini adalah teman SMA suami saya, semacam geng mainnya begitulah. Hehe..  Tak pernah terbayang sebelumnya untuk jalan-jalan ke kota Atlas, saya hanya tahu tentang Semarang yaitu daerah yang panas dan terik. 

Karena saya tak sempat untuk cari tahu dulu apa yang menarik di Kota Lumpia ini, maka saya percayakan rencana perjalanan kepada dua teman saya itu yang sudah pasti terjamin bakal asik. Dan, itu terbukti.
--
Untuk memudahkan transportasi di Semarang, kami menyewa mobil plus sopir. Paket penerbangan diambil yang sekaligus dengan penginapan, jadi sesampainya di bandara, kami diantarkan ke hotel oleh petugas hotel. Karena pesawat kami mendarat jam 7.30 jadi kami belum dapat check in hotel. Kemudian, mulailah kami bergerilya.

1. Soto Bokor
Kebetulan hotel kami ada di kawasan kampung Cina jalan Plampitan, di dekatnya sekitar 100 m ada soto Bokor yang kata petugas hotel juga enak. Mungkin juga lapar tapi menurut saya memang enak dan cocok untuk sarapan, kami lahaplah makannya, semangkuk nasi soto plus teh hangat dan sate kerang harganya hanya Rp. 13.000,-. Tempatnya ramai, dengan bangku dan meja terbuat dari papan panjang. Jadi, ga bisa berlama-lama karena mesti bergantian dengan pengunjung yang baru datang. Kemudian, kami siap ke wisata selanjutnya.

2. Gereja Blenduk
Kunjungan pertama adalah ke kawasan kota lama yaitu menuju Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yaitu Gereja Blenduk. Dari luar, gereja ini sudah terlihat antik. Bangunan dengan kubah bulat yang besar berwarna coklat ditambah dengan empat pilar besar pada sisi timur menambah kesan tua dan kokoh. Ketika masuk, pemandangan lebih menakjubkan lagi. Plafon yang sangat tinggi memberi kesejukan bagi gereja ini meski tanpa pendingin ruangan, belum lagi bagian dalam kubah yang begitu indah. Terdapat pula daftar pendeta yang bertugas sejak pertama kali Gereja ini di bangun, sehingga nuansa sejarah akan terasa ketika melihat deret nama tersebut yang di grafir pada batu dinding. Ada juga orgel yang terlihat mewah dan sangar meski tidak lagi berfungsi karena termakan usia. 

Gereja Blenduk
Turis yang datang ke tempat ini lumayan silih berganti, dengan sumbangan per orang Rp.10.000 kepada petugas keamanan maka kita bisa menikmati pemandangan dan sejarah ritual Kristen Protestan melalui simbol dan ornamen keagamaan yang tertata pada arsitektural gereja.

Setelah selesai berfoto ria dan menikmati keindahan interior neo klasik Gereja Blenduk, lalu kami lanjutkan berfoto ria didepan Gereja yang juga terdapat gedung Jiwasraya yang juga bangunannya bergaya arsitektur Belanda. 

3. Lawang Sewu
Setelah tren acara 'Dunia Lain' yang mengambil lokasi uji nyali di Lawang Sewu tahun 2003, maka bangunan ini menjadi semakin tersohor dengan keangkerannya. Betapa tidak, sejak tahun 1997 ketika Kementerian Perhubungan tidak lagi mengelola dan meninggalkan bangunan ini begitu saja hingga tidak ada yang  merawatnya, menyebabkan gedung terihat semakin kumuh, sepi dan seram. Namun, anda akan menemukan persepektif yang jauh berbeda ketika mencoba mengenal bangunan ini melalui informasi yang disampaikan oleh pemandu wisata. Saat ini pengelolaan gedung Lawang Sewu kembali di letakkan ke tangan PT. Kereta Api Persero.

Harga tiket masuk per orang adalah Rp.10.000 ditambah pemandu Rp.30.000. Namun percayalah, dengan pemandu maka anda akan jauh menikmati keindahan gedung ini dengan kekayaan informasi sejarahnya dan juga pemandangan gaya arsitektural yang juga peninggalan Belanda yang kemudian dimodifikasi fungsinya ketika Jepang menduduki Indonesia. 

Bab penjelasan gedung ini sebenernya bisa panjang sekali dan sangat menarik. Tapi saya coba angkat topik yang lebih menarik dari kacamata saya. 

Lawang sewu tentu saja hanya istilah yang menggambarkan pintu yang banyak. Pehitungan pintu itu adalah jumlah daun pintu, padahal satu pintu itu bisa terdiri atas 4 daun pintu, jadi kalau ditotal dari seluruh gedung di kawasan ini terdapat lebih dari seribu pintu (lawang=pintu; sewu=seribu). Ketika gedung ini terbengkalai, vandalisme dan pencurian terjadi sehingga pada bagian dalam banyak pintu yang hilang. Padahal pintu itu terbuat dari jati dengan kualitas sangat bagus.  

Gedung ini (bukan gedung pusatnya ya) terdiri atas 3 lantai plus satu lantai bawah tanah. Nah ini yang menarik. Lantai satu dan dua berfungsi sebagai ruang aktif, sedangkan lantai ketiga berfungsi sebagai loteng a.k.a ventilasi alami. Plafon juga dibuat tinggi untuk memberi kesejukan alami. Pada bagian lantai bawah tanah digunakan untuk menampung air hujan yang jatuh ke atap bangunan. Dengan begitu, lantai diatasnya akan terasa sejuk oleh hembusan angin dingin dari bawah tanah (saya geleng-geleng memahami konsep bangunan ini, bayangkan jaman segitu sudah terpikir untuk membuat pendingin alami.. wah saya kagum banget). lantai bawah dibuat miring karena kelebihan tampungan air hujan akan dibuang ke drainase kota melalui saluran yang sudah ada. Duh, andai bangunan kita banyak meniru gaya bangunan Belanda, maka penghematan energi listrik pasti bisa karena kita ndak perlu pendingin ruangan. Meskipun sekarang air di lantai bawah tanah merupakan air tambahan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata (selain itu juga karena curah hujan sedang tidak ada saat itu), namun setidaknya dengan tambahan tiket masuk Rp.10.000 per orang dan biaya pemandu tambahan, kita bisa menikmati cerita yang terjadi akan fungsi bawah tanah sejak jaman Belanda, jaman Jepang dan lokasi Uji nyali. 

4. Bakmi Gareng
Setelah lapar berkeliling di Gedung Lawang Sewu, kemudian kami mengincar makan siang ke Jalan Wot Gandul yaitu Bakmi Gareng. Rasanya gurih dan sedap. Saya pesan yang rebus. Cocok dengan lidah saya. Bikinnya lumayan lama sih. Tempatnya juga agak panas, tapi rasa bakmi, mengalahkan kekurangan dari pelayanannya. 

Bakmi Gareng
5. Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong
Ahhh.. disini terlalu banyak yang ingin diceritakan. Asiik banget kalau kesini. Harga tiket masuk hanya Rp.3000 perorang untuk wisatawan domestik. 

Relief tentang Zheng He
Pada relief panjang diatas ini, terdapat informasi yang menggambarkan relief pada bagian bawah relief yang bercerita tentang kisah Zheng He dalam 3 bahasa, sayangnya tidak lengkap, ada beberapa informasi yang sedang tidak dipasang. 

Di Klenteng ini terdapat patung Cheng Ho yang terbesar di Asia Tenggara, baru saja diresmikan tahun 2011. 

Patung Cheng Ho
Kalau ingin bereksperimen mengabadikan eksistensi diri di Klenteng ini, bisa menyewa kostum plus bonus foto seharga Rp.80.000. Untuk seru-seruan asik loh. Hasil fotonya bisa ditunggu. Lumayan ada kenang-kenangan. Biasanya kan koleksi foto jaman sekarang hanya akan teronggok anteng di file laptop atau komputer. Hehe.. Kalau sudah bayar sewa kostum, kemudian bisa masuk ke kompleks klenteng dengan gratis. Kalau tidak ikut sewa kostum, biaya masuk ke kompleks klenteng adalah Rp. 20.000. 


Btw, yang diatas itu bukan ingin narsis ya, hanya mau tunjukkan kostum yang kami sewa dan hasilnya. Mungkin saja menambah inspirasi teman-teman untuk ikut mencoba. Hehe.. Selain mencoba kostum, kami juga mencoba membaca peruntungan atau disebut dengan ciamsi yang dipandu oleh juru ramal atau disebut biokong. Dengan modal Hio seharga Rp.10.000 untuk dua orang kita bisa memulai melakukan ciamsi. Diawali dengan menggoyangkan tongkat kayu peruntungan yang jatuh keluar dari wadah bambu yang ada di genggaman sang juru ramal. Kemudian, melempar dua buah kayu yang berbentuk seperti ginjal atau disebut dengan po pwe. Jika yang muncul adalah permukaan dua sisi kayu yang berbeda, maka bisa dilanjutkan membaca angka peruntungan dari tongkat kayu yang sudah jatuh. Jika permukaan dua buah kayu yang jatuh masih sama, maka ritual ini diulangi lagi. Konon, dua sisi kayu yang sama perlambang sang Dewa belum merestui peruntungan. Saat saya mencoba, hanya sekali lempar kayu dilakukan dan nomor yang keluar adalah 1 artinya apa yang diharapkan akan baik dan terwujud (kira-kira begitu). Peruntungan yang baik, tentulah di aminkan :) 
Ciamsi No. 1


6. Tahu Pong Semarang
Lokasi warung tahu pong ini terletak di jalan Gajah Mada. Tahu ada yang padat, kopong dan dicampur dengan udan dalam adonan. Diberi bumbu petis yang encer berwarna hitam pekat. Makannya dengan nasi. Enak kalau hidangan dalam keadaan panas dan petis dicampur dengan sambal. Tahunya tidak asin, beda dengan tahu Sumedang, jadi lebih banyak bermain dengan rasa pada bumbu petisnya. Menurut saya sih makanan ini biasa saja, lebih enak tahu petis atau tahu sumedang atau tahu gejrot. Hehe.. ini sih soal selera saja.

7. Es Krim Oen
Wisata Kuliner berikutnya adalah Es Krim Oen di Jalan Pemuda. Waaah.. ini rajanya es krim deh, uenak banget. Lembut dan nyaman di lidah. Saya mencoba Rhum Raisin, iih juara banget deh rasanya. Es krim vanila bercampur raisin dan dituang Rhum diatasnya. Sampai, keesokan hari pun kami mampir dan pilihan saya tetap Rhum Raisin. (ini nulisnya saya sambil ngeces membayangkan kelezatannya, hehe..). Belum lagi buat para yang hobi ngemil kue kering, wiih bakalan kalap deh seperti dua teman wanita saya itu. Katanya kue keringnya uenak tiada tara. hehe..

Rhum Raisin Es Krim Toko Oen Semarang
8. Pagoda Buddhagaya Watugong
Pagoda ini adalah pagoda tertinggi di Indonesia versi Museum Rekor Indonesia. Terletak di daerah yang sejuk sehingga nuansa yang didapat ketika mengunjungi pagoda ini adalah damai dan tenang. Apalagi seorang wanita nampaknya sedang melakukan ritual keagamaan dengan berdoa dan meletakkan atau mengganti beberapa sajian kepada sang Budha. Ditempat ini juga bisa mencoba peruntungan, tapi tidak ada juru ramalnya. Ramalan dan doa dilakukan sendiri. Hanya perlu membeli Hio seharga Rp.6000. 

Pagoda Watugong
9. Masjid Agung Jawa Tengah



Masjid ini terletak di Jalan Gajah Semarang, biasa disebut MAJT. Arsitektur masjid begitu megah dan spektakuler. ketika kami sampai di masjid mulai memasuki waktu Magrib, sehingga langit senja menambah kemegahan bangunan ini. Semakin malam, sorotan lampu memberikan kehangat sekaligus kelembutan dari kemewahan yang ditawarkan bentuk bangunan. Untuk dapat menikmati pemandangan dari pencakar langit, hanya perlu membayar Rp.5000 untuk naik lift dan menikmati pemandangan masjid dan kota Semarang dari lantai 19. Dari pencakar langit tersedia fasilitas teropong untuk melihat kota Semarang, sayangnya kalau malam hari kurang begitu jelas. Untuk sewa teropong hanya membayar seribu rupiah untuk 1,5 menit.

MAJT Semarang


Berlama-lama di masjid ini pasti betah. Membayangkan tenda yang masih tertutup, jika dibuka pada saat solat jumat, pasti sangat terasa kemegahannya. Bagi pengunjung wanita, sebaiknya menggunakan mukena sendiri. Karena mukena yang tersedia tidak terawat dengan baik, bau dan lembab. Mungkin karena jamaah yang datang bisa dari berbagai penjuru daerah, sehingga keringat di baju dan badan turut melekat dan tertinggal di mukena. Sebenarnya bisa saja terawat baik, asalnya manajemen sudah mengaturnya seperti peminjaman mukena di Masjid Agung Raya Semarang yang ketika saya kunjungi sedang dalam proses perbaikan.

Pemandangan dari Pencakar Langit
10. Sate Kambing 29
Menutup wisata kuliner hari itu adalah dengan makan malam di warung sate kambing, tempatnya di seberang Gereja Blenduk. Warung ini tutup jam 9 malam. Ketika kami datang, satenya sudah habis. Saya pesan sup balungan. Karena saya suka sup tulang, jadi saya menikmati mencari daging yang menyelinap di sela-sela tulang dengan seksama. Dagingnya tidak beraroma kambing, jadi menyedot-nyedot sum-sum pun dapat dengan khidmat dilakukan.


Sup Balungan Semarang
--
Dalam sehari, kami bisa berwisata kuliner ke sepuluh tempat wisata termasuk wisata kuliner. Keesokan harinya kami membeli oleh-oleh Lumpia di Gang Lombok yang termasuk kawasan pecinan. Gang Lombok terletak di sepanjang sungai, disitu terdapat perahu besar, sepertinya sering dijadikan untuk pelengkap perayaan keagamaan, karena disekitar situ terdapat klenteng. 

Eh, saya baru sadar kalau tulisannya Lunpia ya.. hehe.. oke.. saya pesan yang Lunpia basah, supaya aman dengan minyaknya jika ingin digoreng dirumah. Hemm,.. kalau kalian suka Lunpia, pasti ngiler deh.. ditambah bumbu manis dan segigit daun bawang muda.. hemm. yummy..

Lunpia Gang Lombok
Sambil menunggu Lunpia jadi, kami memesan Es Kopyor yang terkenal di Semarang, harganya Rp.25.000. Dengan harga segitu, sayangnya cuma disajikan dengan piring yang tidak menarik. Kalau lokasinya sih bisa dimaklumi, karena di pinggir sungai, jadi cuma warung biasa. Mungkin karena kelapa kopyornya yang mahal ya. Porsi lumayan banyak, kalau tidak suka makan es, lebih baik seporsi berdua saja.

Es Kopyor Gang Lombok Semarang
Setelah dari gang Lombok, kami membeli oleh-oleh di Bandeng Djuwana. Ini mah standar ya. hehe.. 

Setelah check out hotel, kami menutup perjalanan dengan makan siang di Warung Pak Untung, spesialis sup dan gulai kepala kakap. Uedaaan rasanya, maknyuuus banget deh. Sedap, dengan rasa asam dari daun jeruknya terasa banget, sampe nagih. Petualang makannya juga oke dengan menghisap-hisap bagian tulang sambil berjuang mencari daging ikan yang terselip. Ini mesti kudu dicoba.. beneran enaaak... 

Gulai Kakap Pak Untung Semarang

Setelah makan siang dalam keadaan kenyang, kami kembali ke Toko Oen sebagai makanan penutup. Setelah itu, kami menuju bandara dan kembali pulang.

---

Nah.. itu dia pengalaman jalan-jalan di Semarang. Kalau berpikir : "emang ada apa sih di Semarang?' .. Kudu baca-baca dan datang sendiri deh. Banyak banget petualang yang bisa kita dapat, dari mulai wisata ke ke gedung kuno, mempelajari keindahan arsitektur Belanda, wisata ke tempat-tempat religi dan yang pasti berkesan adalah wisata kulinerrr. Hehe.. selamat mencoba ya (^-^).

-Y-

Jumat, 07 Desember 2012

Yuukk.. Berkebun #4

Horeee... akhirnya beberapa pohon Cabaiku bisa panen (^ , ^).. Cuma warnanya tetap hijau, ndak seperti contoh gambar yang dikemasan benihnya merah-merah. Bagaimanapun, saya tetap senang karena hasilnya sudah kelihatan. 

Panen

Di beberapa sisi cukup banyak lho. Sekitar 3-4 bulan sudah berbuah banyak a.k.a panen. Lumayan buat pemula dan media tanam yang seadanya. Ini Cabai organik lho. Pakai pupuk organik dan basmi hamanya pun secara konvensional yaitu dengan memotong bagian daun yang terserang hama. Lalu menyiramnya tidak menggunakan air dari PDAM atau air sumur tapi dari hasil kondensasi AC. Apa sih air kondensasi AC? 

Kalau di rumah ada AC, dan tempat ACnya mudah dijangkau, biasanya ada air yang mengalir dari selang. Biasanya dibuang-buang sama orang, padahal air ini adalah air dari kondensasi AC dari sistem pendinginan udara ruang. Nah, air ini cenderung aman dan tidak mengandung bahan kimia karena merupakan air dari kompresi kelembaban udara yang ada disekitar kita. Dalam semalam, saya bisa menampung sampai dengan 4 liter loh, lumayan kan untuk siram tanaman sebagai pengganti air bersih. Jadi tidak hanya menghemat air tapi juga mengurangi air buangan ke got. 

Nampung Air dari AC Rumah
Biasanya saya tampung pakai ember. Cuma yang digambar kebetulan pas lagi pakai botol karena siang-siang. Pemakaian ACnya sebentar.

Nah.. kita bisa melakukan banyak hal untuk menyelamatkan bumi ini. Dengan menanam cabai, tidak hanya manfaat panen Cabainya tapi juga turut memberi kesegaran di rumah karena suplai oksigen dari tanaman. Selain itu, air AC juga bisa dimanfaatkan untuk menyiramnya. Selain mendapatkan Cabai organik yang terjamin kesehatannya, juga memberi manfaat air AC untuk tanaman kita. 

Yuuk.. berkebun mini di rumah !! (^ ^)...

-Y-

gentle and tender

..tulang makin terasa lemah, pelan-pelan merawatku.. dengan sabar kau ucapkan huruf demi huruf dan menuntunku memahami kata-katamu  semangat...