Selasa, 11 November 2014

Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu


aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


(Sapardi Djoko Damono-1989)

Minggu, 19 Oktober 2014

Peduli dan Fanatik

Ada kalanya orang terlihat tak peduli akan keadaan sekitar. Setidaknya penyebabnya ada tiga kemungkinan. Pertama, mungkin tidak peduli karena benar-benar tidak tahu sehingga tidak ada kesadaran untuk peduli. Kedua, mungkin tergolong orang-orang yang menghindari konflik. Artinya, sesuatu hal yang dipahaminya dan diketahuinya berbeda dengan orang lain atau dengan keadaan di sekitarnya, kemudian tidak diungkapkannya untuk menghindari silang pendapat. Ketiga, sebenarnya tak peduli tetapi diungkapkanlah kepedulian palsu dengan argumen yang tidak serius sehingga terlihatlah ketidak peduliannya, yang bagi saya, model terakhir ini yang jadinya meresahkan.

Sikap tidak peduli akan terlihat jika ada yang memperhatikan. Orang tidak akan terlihat tidak peduli jika tidak ada yang memperhatikan. Jadi bisa dibilang, tidak akan keluar cap atau kata peduli atau tidak peduli, jika tidak ada yang menaruh perhatian. Tentu saja.. 

Di tengah hingar bingar kemudahan berkomunikasi, berekspresi dan berpendapat oleh peran teknologi dalam menciptakan media untuk menjalin jejaring sosial, maka tak dapat dipungkiri begitu banyak orang yang ingin diperhatikan atau setidaknya ingin menarik perhatian orang-orang yang ditujunya. Bisa saja dikatakan bahwa akun suatu media sosial menjadi hak pemiliknya sepenuhnya, jadi apapun yang diungkapkan atau diekspresikannya maka tak ada hak orang lain untuk menjadi tergugah. Lalu, bagaimana tidak menggugah orang lain jika apa yang diungkapkannya dapat diakses atau setidaknya bagi para pengintip dapat dilihatnya tanpa melakukan tindakan ilegal atau meretas data.

---

Memang menjadi banyak orang yang mudah berkata-kata, menunjukkan kreatifitas atau sekedar menunjukkan eksistensinya. Namun, banyak pula orang yang memilih untuk memperhatikannya saja. Bukan tidak peduli lho. Misalnya, dengan situasi kenegaraan saat ini. Peran media begitu besar dalam mengedukasi masyarakat mengenai hukum, sosial dan politik sehingga masyarakat menjadi tercerahkan dengan pemahaman dan menjadi ikut peduli. 

Dengan keadaan politik yang ada, masyarakat dituntun untuk memilih dan meyakini apa yang menurutnya terbaik untuk negri ini. Nah... dalam hal ini, lagi-lagi peran pemberitaan dan media sosial begitu besar mewarnai pola dalam memilih. Lalu sadar atau tidak sadar kita menjadi diseret dalam fanatisme politik tertentu, bahkan terlihat sangat ekstrim.

Mulanya saya berpikir bahwa fanatisme itu baik karena seseorang menjadi begitu khusuk menikmati apa yang diyakininya dan dapat menjadi simpatisan yang loyal serta membantu kampanye demi masa depan bangsa (saya bicara tentang kekhusukkan politik lho). Namun ketika fanatik ini dieskpresikan dengan sikap atau pernyataan yang negatif, maka lunturlah kebanggaan saya akan hal yang fanatik. Mengapa? karena bila seseorang begitu yakin bahwa dirinyalah yang paling benar dan menganggap orang lain tak berarti, salah atau tersesat, maka bumi bukanlah tempat yang cocok untuknya.

Seringkali fanatik menyiratkan anggapan bahwa ketika seseorang yang fanatik bertemu dengan fakta atau berita yang mendukung lawan, maka yang akan terungkap adalah haters gonna hate. Apapun fakta pihak lawan akan dijelek-jelekannya atau terekspresikan negatif. Hal yang baik di pihak lawan, maka tak akan diungkapkannya. 

--

Oke, itu tadi soal pilihan arah politik negara. Ternyata fanatik tidak hanya di ranah itu. Tentu yang paling umum adalah dalam hal agama. Kalau di lintas agama, fanatik sudah seperti prostitusi yaitu sudah berkembang sejak berabad-abad yang lalu. Namun, di dalam agama yang sama --yang kita ketahui dalam satu agama memiliki beragam aliran-- ternyata fanatik ditonjolkan begitu rupa. 

Islam yang fanatik akan syariat atau meyakini bahwa tiang agama berdiri dengan meyakini dan menegakkan syariat, dan menganggap inilah yang paling benar lalu akan memilih untuk berkumpul dengan komunitas yang memiliki motivasi yang sama. Di sisi lain, ada yang namanya Islam liberal, yang (setidaknya) meyakini bahwa pemahaman ajaran Quran dan Hadist perlu di telaah ke dalam konteks kekinian. Di dalam pemahamannya yang luas, menjadikan keyakinan orang-orang Islam liberal kian bertambah lalu menyeretnya menjadi (terlihat) bertentangan dengan Islam yang fanatik terhadap syariat. 

Pertentangan ini menjadi konflik ketika kedua model Islam tersebut tidak menyadari bahwa mereka harus sepakat untuk memahami perbedaan yang ada. Lalu repotnya, kedua Islam ini menjadi merasa yang paling benar dan menjadi sulit berdampingan di dalam perbedaan. Bagi saya tidak hanya yang berpegang pada syariat saja yang menjadi fanatik, pemikir Islam liberal pun menjadi fanatik akan keliberalannya. Semuanya menjadi terseret dan terjebak di dalam fanatisme apa pun bentuknya. 

Mari kita sebut, tanpa disadari kita (mungkin) merasa profesi kita yang paling baik. Meski berbangga hati itu sah-sah saja, namun kebanggaan kadang hanya dipisahkan oleh benang tipis oleh yang namanya keangkuhan. Misal, profesi dokter, pilot, pengacara, arsitek atau profesi lainnya, tak pantaslah semuanya menjadi fanatik akan profesinya dan mencemooh pekerjaan lain karena profesi itu tak kan ada tanpa pelengkap. Misalnya: dokter takkanlah berguna tanpa industri farmasi dimana ada seorang medical representative (medrep) yang kerap kali mengingatkan sang dokter untuk membantu menuliskan obat jualannya ke dalam resepnya hanya agar sang medrep tersebut dapat mencapai target penjualannya demi anak yang disekolahkannya.

---

Fanatik akan politik, agama, atau profesi atau apapun menjadi terlihat karena diekspresikan atau terekspresikan. Ekspresi dapat tertangkap oleh indrawi karena ada yang memperhatikan. Dengan adanya perhatian maka tampaklah sikap yang peduli atau tidak peduli. 

Untuk sedikit dan banyak hal, saya menjadi setuju dengan sikap moderat. Bukan karena tidak berpendirian atau tidak siap menerima perbedaan tetapi begitu banyak hal yang dipertimbangkan demi damainya bumi ini. Yah.. saya sepertinya masuk ke golongan orang-orang yang mencari aman atau lebih tepatnya berupaya mengamankan hati orang-orang yang tersayang di sekitar saya (yang terakhir ini adalah justifikasi agar hati saya damai saja.. hehe...). Eh.. barangkali ini keyakinan sesaat saja, besok atau lusa mungkin saja sudah berubah. Oh.. atau barangkali, saya malah menjadi moderat yang fanatik. Fiiuuuh.. Peace yo..!!

-Y-

Sabtu, 20 September 2014

Sia

My Sia
Miaow.. miaow.. miaoww
day one...
she laid down on the second floor
I just could put a milk and a water near her
didn't know what to do

Miaow.. miaow..miaoww
day two..
she moved a little, now she's near the condenser
she was looking for a warm place (I guess)
I only could see her body, no brave to touch

Miaow.. miaow.. miaoww
day three..
Gosh.. why she's still there
so limp and unhealthy
where's her mom

I decided to adopt her
tried to feed her
then I touched her for the first time
her face so cute, reassuring me

I put this little creature on a warm box with a gentle cloth
I gave this kitten a milk
at least now she has a mom
I and my husband love her
We gave her a milk, alternately

day four.. she was so weak
I rubbed her while feeding her
but her body was getting worse

day five.. i took her to the office
to make sure i could feed her anytime

in the afternoon,
when i rubbed her and trying to give her a milk
she took a long breath
then she passed away

yes.. it was so sad
in the evening i buried her
with my on hand

Sia was her name
eventhough just a moment we were together
but the memories are standing still
good bye Sia

-Y-

Minggu, 13 Juli 2014

Kau

Dambaanku..
ku tahu ini vulgar
tak pantaslah keluar ucapanku
namun aku ingin dunia mendengar

Wahai pujaanku..
baiklah.. ku kan berpikir lagi..
haruskah ku berbagi
tentang hasrat dan keinginan ini

Sementara ku coba mengayuh
tuk merengkuh sifat-sifat dan perilaku itu
yang hanya membuatku semakin jauh
dan kian membatu
melemahkan keinsafan
lupa akan santun dan kebijaksanaan
ku ingin ria 
ku akan bercerita

Duhai mahbub yang semakin matang
melepaskan keduniaan
menanggalkan keinginan satu persatu
memantapkan kenihilan
menyiratkan ketiadaan

Ya habibi..
Keabaian yang tak menyakiti hati
kedewasaan yang mendamaikan
pemahaman yang menenangkan
keteguhan yang menghanyutkan
ketulusan yang menyemangatkan

Cukup sudah..
tak perlu banyak kata
karena memang seharusnya tak perlu dikatakan
hanya ku suratkan tuk menjadi patronku

Sujudku
Salam

-Y-

Jumat, 13 Juni 2014

Hantu Ego

Seharusnya ku tak peduli
tapi dapat ku rasakan
kebencian itu
menyeruak di pikiranmu

Mungkin bukan benci, tapi tak nyaman
ku pikir kau juga sedih
sama seperti ku
sedih mendapati adanya perbedaan

Genderang perang nampaknya dikumandangkan
aku tak punya senjata
apalagi amunisi
sedang kau dalam kejayaanmu

Selamat.. semoga kau berhasil
aku ingin tak peduli
aku ingin acuh
tapi kau nyata

Harus ku hadapi
karena kau bukan hantu 
ah.. ku anggap saja kau hantu
agar mudah bagiku 

karena ku tak percaya hantu
lagi pula aku tak percaya kau
siapalah kau
tak ada seseorang atau sesuatu pun yang dapat ku percaya, termasuk kau

Pergilah, menjauhlah
hmm... ku revisi
aku yang akan pergi, aku yang akan hengkang
melatih otakku tuk tak mengenalmu
dan kembali seperti dulu..

-Y-

Jumat, 06 Juni 2014

Kebermaknaan Hidup

Hidup manusia menjadi berwarna-warni karena manusia adalah (mungkin) satu-satunya makhluk yang selalu memberi makna pada kehidupannya. Perbedaan latar belakang, keturunan, pendidikan dan lingkungan, menjadikan tak satu pun manusia yang memiliki kesamaan, baik fisik maupun pola berpikirnya. Inilah sumber dari keniscayaan akan suatu perbedaan. Begitu pula halnya tentang cara memaknai hidup.

Masing-masing individu, pasti memiliki caranya sendiri untuk memaknai hidupnya. Ada yang berpikir bahwa hidupnya menjadi bermakna ketika dapat berbagi dan mengurangi penderitaan orang lain. Ada pula yang meletakkan makna hidup dengan menolong satwa yang terlantar atau memperjuangkan hak asasi manusia. Makna hidup tidak selalu berarti yang kelihatan berdampak pada orang lain karena harta atau barang atau ilmu yang disampaikan, ada pula seseorang yang memaknai hidupnya dengan memberi kesempatan dan mendukung orang lain untuk dapat mengembangkan diri. Ada pula yang memaknai hidup dengan memberi kebebasan berekspresi kepada orang lain di sekitarnya. Ada pula yang mencari rejeki sekuat tenaga demi menafkahi diri, keluarga atau orang lain. Ada pula yang memaknai hidup dengan berusaha untuk tidak pernah menyusahkan atau menyakiti orang lain. Ada pula yang memaknainya dengan mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada keluarga, anak yatim piatu, fakir miskin atau kaum papa.

Memaknai hidup tidak selalu terkait dengan orang lain, ada pula yang merasa hidupnya menjadi bermakna ketika hidupnya selalu produktif dan meraih beragam prestasi. Ada juga yang memberi makna hidup dengan mendalami ilmu khusus atau beragam ilmu. Ada pula yang memaknainya dengan fokus untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dan pikirannya. Ada juga yang memaknai hidup dengan mendalami religinya dengan khusuk. Ada pula yang memaknai hidup dengan menjaga dan mendukung pelestarian lingkungan.

Tentunya masing-masing cara manusia dalam memaknai hidup tak lepas dari perjalanan hidupnya. Barangkali tak selamanya dalam hidup seseorang akan memiliki satu cara saja dalam memaknai hidup. Seiring dengan pengalaman, pengetahuan dan lingkungannya, cara pandang seseorang sedikit banyak akan mengalami perubahan. 

Hal yang patut dicermati adalah jangan mudah mengkerdilkan orang lain. Apa yang tak nampak dimata kita, bukan berarti orang lain seolah-olah membuang-buang waktunya dengan percuma. Tentu orang lain memiliki caranya sendiri dalam menata maqam hidupnya. Sepanjang tidak merugikan dan menyakiti orang lain, tentunya kita tidak berhak menghakimi perilaku orang lain yang tidak sesuai dengan cara pandang kita. Bah .. rasanya sulit melakukannya. Apakah ini berarti saya memaknai hidup hanya dengan membuat alasan-alasan saja. Ohhh.. tak mengerti... 

-Y-

Sabtu, 24 Mei 2014

Daster & Kaos Kaki


Mereka bilang tidak modern
Seperti mbok-mbok dan kampungan

Bagiku, inilah sandang kebebasan
Setelah seharian tubuh dibalut pakaian
demi kepantasan sosial
Namun saat keperaduan, sederhana adalah kunci

Daster, satu potong baju, berbahan ringan
Mau lengan pendek, kutung atau panjang
Tubuh dapat bergerak bebas
Dicuci pun mudah
Ah, dasar otak wanita
Pantas suami berkata: "kenapa perempuan suka daster?"

Mungkin, jika sekali saja para lelaki mencobanya
akan ketagihan
Makanya mereka hanya bisa bertanya
Malu untuk menjajal
Hingga tak pernah tau rasanya
Mungkin..

Daster, baju dinas rumahan yang tak pantas menginjak kantor mewah
Tidak seperti kaos kaki
Selalu pantas berada dimana pun
Kantor, rumah ibadah, tempat hiburan hingga kasur

Kebiasaankah atau
Entah apa yang membuat benda ini selalu melekat dikakinya
Pernah ku ikuti jejaknya
Paling pol, benda ini melekat saat olahraga
atau melindungiku dari kedinginan
Yah, kita memang berbeda

Kau suka kaos kaki
Aku suka daster
Meski tidak seimbang kegunaannya
Setidaknya kebebasan memakai benda favorit
masih memihak kita

-Y-

gentle and tender

..tulang makin terasa lemah, pelan-pelan merawatku.. dengan sabar kau ucapkan huruf demi huruf dan menuntunku memahami kata-katamu  semangat...