Senin, 09 September 2013

Liburan ke Makassar

Horeee.. berkunjung ke salah satu kota di timur Indonesia.. Makassar!!

Soal sensasi dan kenikmatannya, dimana pun tujuan wisata, maka tak kan lekang diingatan ini. Memejam mata sembari mengenangnya kan membuat sudut bibir menyungging senyum. hehe.. Mulai yah..

Tiba di bandara Ujung Pandang disambut pemandangan plafon melengkung yang menjulang tinggi, bayangan saya seperti tempat hanggar. hehe.. megah sih. Penerbangan kami pagi, tapi ada beberapa agenda yang harus dikerjakan sore ini. Jadi kami naik taksi. Taksi bandara itu bayarnya tergantung zona (I, II, III), pilih yang emang pembagian zonaya dengan harga murah. Ada yang sama-sama zona II tarifnya 110ribu, tapi ada juga yang 130rb. Nah, pilih-pilih aja. Karena saya belum tahu berapa jaraknya jadi kami naik taksi dengan tarif zona II. Baru tahu belakangan kalau di bandara ada Bus Damri menuju kota, tarifnya 25ribu. Jika tidak tergesa-gesa, saya akan memilih bus saja.

Di Makassar, angkot disebutnya pete-pete. Kalau becak masih banyak, ada yang digowes dan ada yang pakai sepeda motor. Kalau yang pakai sepeda motor, kebanyakan becaknya dilengkapi musik lho, jedak-jeduk deh.

Becak Motor dan Becak Gowes
--

Tujuan saya adalah hotel Horison di jalan Sudirman. Lumayan jauh dari bandara, taksi melewati tol untuk menghindari macet. Hehe.. di Makassar juga macet lho, tapi macetnya jalan kok, ndak seperti Ibukota.

Seusai check in hotel dan meletakkan barang-barang. Kami langsung menuju tempat pertama untuk mengisi perut kosong di siang bolong, kami siap menuju Sop Konso Karebosi. Letaknya di Karebosi, belakang Gedung BI. Dari depan hotel langsung naik angkot ke arah karebosi, turun di karebosi lalu jalan kaki, letakknya di Jl. Gunung Lompobattang (belakang gedung BI).

1. Konro Karebosi
 

Wiihh... nuendang banget rasanya. Konro bakar isinya 4 buah iga besar-besar. Harganya 40 ribu saja. Berdua juga cukup kalau makannya seperti saya, hehe.. kawan saya pesan yang konro campur. Isinya ada iga dan kayak tetelan gitu, direbus dan berkuah, harganya 38 ribu, nasi perporsi 6000 rupiah. Kalau lagi PDKT sama seseorang, mending ga usah kesini sebab kalau makan ini bakal lupa manner deh, tangan kanan kiri pegang tulang plus mulut bakal belepotan, puasss deh. hehe..  

2. Pantai Losari

Dari hotel ke Pantai Losari, saya cukup berjalan kaki. Kira-kira 1,2 km jaraknya. Berjalan kaki cukup nyaman jika cuaca tidak panas, apalagi berjalan di sore dan malam hari. Di sore hari menikmati pemandangan pantai Losari yang bukan tipe pantai berpasir, jadinya saya menikmati angin pantai saja sembari melihat tingkah laku warga dan wisatawan yang di taman itu.



3. Mie Titi

Ini menu makan malamnya. Tempat yang kami tuju adalah cabangnya. Di jl. Datu Museng. Di Kawasan Kuliner Makassar. Depan Pantai Losari. Harganya 18.000/porsi. Seperti I fu mie, dengan kuah kental lalu di taburi perasan jeruk lemon. Rasanya suegaaaaarrrr..nikmaat.
Mie Titi Makassar

4. Es Pisang Ijo

Ini sih banyak di Makssar, cuma saya belum nemu yang uenak. Kalau ini makannya masih di kawasan kuliner harganya 10ribu/es rasanya lumayan :)

5. Benteng Fort Rotterdam
Bentengnya megah dengan bangunan arsitektural Belanda. Ada rumah tahanan Pangeran Diponegoro. Sayangnya ketika saya tiba sudah mau tutup, jadi sudah tidak bisa masuk ke museumnya. Hanya bisa menikmati kawasan di sekitar areal benteng saja. Jam 6 sore tutupnya. Masuknya gratis. Ketika menuju ke benteng ini, kami sempat bingung berjalan hingga hotel Aston, lalu dilanjutkan naik becak. Dari hotel Aston ongkosnya 10ribu.


6. Pisang Epe
Gerobak yang menjual pisang epe banyak sekali, terutama di sepanjang kawasan wisata. Dengan modal bangku-bangku plastik dan modal yang disediakan untuk para pembeli. "Epe' bahasa Makassar yang artinya dipenyekin jadi pipih lalu dipanggang. Sesudah matang diberi kuah air gula yang dicampur kelapa parut. Saya pesan yang ditambah keju parut. lalu dimakan hangat-hangat.. enak banget, terus minumnya teh tawar hangat. Ihhh sedappp.. sembari disapu angin laut.
 Di sebrang benteng fort rotterdam ada pantai. Diseberang pantai ada pulau. Sayangnya hari sudah senja, jadi tidak terpikir untuk menyeberang ke pulau tersebut. Katanya disana indah, ada pasir pantai dan beberpa rumah makan. Tapi ya.. sudah. Menikmati langit senja, sudah membuat saya berdecak kagum. 
 

7. Kepiting RM. Surya
Ini kepiting ala dan harga restoran, jadi terbilang mahal. Kalau enak sih sudah pasti. Harga seekor kepiting 800gr adalah 200ribu, bisa untuk berdua. Juga ada otak-otak yang enak, rasa bawangnya gurih sekali. Perbiji 4000. hihi.. kalau ga doyan, mending ga usah di makan otak-otak yang di meja. Ini jebakan batman, bakal ga berhenti, tau-tau bayarnya lumayan. hehe.. becanda lho. Btw, saran saya, mungkin kalau mau coba kepiting atau ikan bakar di restoran Lae-lae di jl. Datu Museng, katanya lebih segar ikannya, enak dan mahalnya tidak seperti harga restoran. Saya aja menyesal tidak mencobanya.

8. Museum Mandala

Saya ambil foto ini ketika minggu di pagi hari hendak ke pasar tradisional. Museumnya tutup. Tapi pemandangan langitnya dong, keren banget ya. Bersih bersinar...

9. Pasar Pa' Baeng-baeng

Ngapain di Makassar pagi-pagi ke pasar??? 
Jangan salah, disini nikmatnya menjadi wisatawan. Menikmati jajanan pasar. Ketemu macam-macam pangan lokal. Harganya rata-rata seribu. Kebanyakan pasti ada unsur kelapanya, mungkin karena daerah pantai ya. Rasanya juga enak. 

Tapi yang terenak adalah songkolok. Ketan merah ditaburi kelapa yang dibumbui gula dan cabai lalu di beri beberapa ikan teri. Rasanya?? wiidiiiihh.. ajib banget. Kawan saya sampai berjanji akan berburu songkolok pada kunjungan berikutnya. hehe..

10. Coto Nusantara

Mau coto campur atau daging saja, tergantung selera. Coto makassar terletak di jalan Nusantara. Rasanya gurih, murah meriah, seporsi sekitar 18ribu. Minumnya es teh tawar.. wiih.. siang-siang makan coto plus es teh jadi tambah seru :)
Coto Makassar
----
Nah.. lengkap sudah pengalaman berlibur di Makassar. Kalau mau beli oleh-oleh otak-otak Ibu Elly di jalan Kijang, bisa beli macem-macem lagi kayak kain dan sarung. Batik Makassar cakep-cakep banget. Coraknya ada yang Makassar dan ada juga yang toraja. Ihh.. kalau punya uang sekarung ingin ngeborong deh.

Kalau mau cari kerajinan kayak songkok, aneka sarung, kain, kalung atau oleh-oleh yang lebih macam-macam, bisa datang ke jalan Somba Opu. Banyak toko-toko suvernir, lebih murah dan variatif.

Okeh.. ayo mulai berburu tiket ke Makassar, melihat warna kota yang ingin menuju kota dunia, bakalan tak terlupakan deh :)

-Y-

Rabu, 05 Juni 2013

Festival Kebudayaan Islam : Sejarah dan Kisah

“Apa perbedaan antara sejarah dengan kisah?”, pertanyaan ini yang saya coba cari di google. Setelah saya klik pautan Yahoo!Answer yang berkaitan dengan pertanyaan ini, saya tidak puas dengan jawaban bahasa Indonesia. Lalu saya cari lagi kata kunci ini dalam bahasa Inggris, “What is the difference between history and story?” Ternyata saya temukan jawaban di wiki.answer.com seperti ini :
“History is meant to be an objective narrative description of past events, while a story will be a subjective narrative description of either real past events or imaginary people and events.”
Sejarah adalah rangkaian cerita yang objektif mengenai kejadian masa lalu, sedangkan kisah adalah rangkaian cerita yang subjektif bisa faktual atau imajiner mengenai kejadian masa lalu atau orang di masa lalu. Ilmu sejarah saat ini tidak lagi berada pada tingkat pengetahuan (knowlegde), tetapi telah beralih ke tingkat ilmu pengetahuan (sains). Metodologi ilmu sejarah semakin menuntut fakta objektif, seperti layaknya juga ditemui pada cabang ilmu pengetahuan lain yang juga menuntut bukti-bukti empiris.
Sejarah memiliki informasi penting sebagai sumber pengetahuan dan pembelajaran berkat tingkat objektifitas dan faktualitas yang tinggi. Dari sejarah kita dapat mengetahui secara objektif bagimana mekanisme kebudayaan suatu peradaban berkembang dan bisa mengetahui faktor keberhasilan dan kegagalan suatu peradaban.
Bagaimana posisi ‘kisah’ pada struktur pengetahuan masyarakat modern? Nilai moral dan kebijaksanaan yang terkandung di dalam suatu kisah dapat menjadi sumber pengetahuan dan pembelajaran. Mengenai faktualitas, alias terjadi atau tidaknya suatu kisah bukan menjadi nilai penting untuk dikonfirmasi kebenarannya. Kalaupun ada unsur fakta dalam suatu kisah, hal ini merupakan suatu kewajaran untuk memudahkan pemahaman pembaca terhadap nilai moral yang berusaha disampaikan.
Pada masa awal peradaban Islam, metodologi sejarah belum berkembang. Kisah mengenai tokoh politik dan keagamaan sering kali digambarkan secara metaforis dan hiperbolis. Belakangan, Ibnu Khaldun (1332-1406) asal Tunisia merupakan salah satu ilmuwan sejarah Islam yang menegaskan perbedaan antara sejarah dan kisah.
Menurut Ibnu Khaldun, para pemikir sebelum masanya cenderung tidak sistematis dalam mengemukakan analisis sejarah. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak menggunakan analisis, melainkan deskripsi semata. Pendekatan semacam itu sangat berbahaya karena akan mereduksi realitas sebenarnya menjadi hanya yang tampak di permukaan.
Para peneliti sebelum Ibn Khaldun bahkan tidak mampu membedakan antara asumsi dan fakta sejarah. Hal itu bisa terlihat dalam fakta-fakta sejarah yang dikemukakan acapkali tidak masuk di akal. Logis tidaknya sebuah peristiwa yang diceritakan menjadi salah satu parameter kunci untuk memastikan apakah peristiwa itu memang benar terjadi atau kisah turun temurun.
Adalah sebuah kerepotan kalau kita menyamakan antara sejarah dan kisah. Sebuah sejarah cenderung realistis dan manusiawi, sedangkan kisah sering kali memasukkan unsur metafora dan melebih-lebihkan (hiperbola). Kalau detil-detil sebuah kisah dianggap sebagai fakta, kita jadi cenderung ‘ahistoris', tidak realistis, dan tidak manusiawi. Bisa jadi kita malah terpaku meyakini imajinasi dalam kisah sebagai hal yang faktual dan gagal menangkap pesan moral dalam kisah itu.
***
Isra’ Mir’aj
Kalau kita masuk ke dalam kebudayaan Islam klasik, kisah dan sejarah di masa lalu masih belum dapat dibedakan. Penulis sejarah (kisah) pertama nabi Muhammad adalah seorang tabiin bernama Ibnu Ishaq sekitar abad pertama Hijriah (d. 767M). Hasil tulisannya mempengaruhi beberapa penulis lain, antara lain Ibnu Hisyam (d. 833M) dan At-Tabari (d. 923M).
Kerepotan ‘sejarah vs kisah’ misalnya terjadi pada Isra’ Mir’raj. Versi yang kita tahu selama ini terutama berasal dari kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam. Lebih lengkap mengenai Sirah ini dapat dilihat di tautan ini. Berikut ini saya ambilkan cuplikan kisah yang kita ketahui secara umum dari pautan wikipedia versi Indonesia ini :
“Peristiwa Isra Mi'raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad SAW diberangkatkan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi'raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan shalat lima waktu.”
Kisah yang diambil dari kitab Ibnu Hisyam ini adalah sumber utama cerita Isra' Mi'raj. Di belakang hari, beberapa ulama menafsirkan beberapa ayat-ayat Al-Quran sebagai referensi kisah Isra' Mi'raj ala Ibnu Hisyam. Tentang Isra' diambilkan ayat 17:1, yaitu surat Al Isra' atau bani Israel, yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sbb:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (17:1)”
Sedangkan ayat Mi'raj diambilkan dari surat An Najm, yaitu surat ke-53 (dalam Mushaf Utsmani). Secara literal, kata ‘Mi’raj’ tidak ditemukan pada Al-Quran. Ayat ini diambil sebagai referensi karena terdapat kata ‘Sidratil Muntaha’ yang merupakan tempat yang dikunjungi Nabi Muhammad ketika Mi’raj. Berikut ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia ayat ini :
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (53:13)
(yaitu) di Sidratil Muntaha. (53:14)
Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (53:15)
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (53:16)”

***
Ada beberapa permasalahan kalau ayat-ayat ini dijadikan referensi kisah Isra’ Mi’raj’. Pada kisah Isra’, kata ‘Masjidil Aqsa’ pada ayat 17:1 ditafsirkan sebagai Masjid Al-Aqsa di Jerusalem. Padahal  bangunan Masjidil Aqsa itu sendiri baru didirikan setelah kematian nabi Muhammad. Ada yang berpendapat pembangunan pertama pada kekhalifahan Umar. Belakangan ada versi lain yang menyebut pembangunan pertama dilakukan pada awal masa dinasti Ummayah.
Selanjutnya, pada masa Abdul Al-Malik dari Dinasti Abasyiah (690M), di sebelah Masjidil Aqsa dibangun masjid yang lebih besar lagi bernama Masjid Qubbat As-Sakhrah (Dome of Rock) yang kadang juga disamakan dengan Masjidil Aqsa (sebenarnya berbeda). Jadi pada waktu nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra’ kedua bangunan ini belum ada.
Beberapa tafsir modern, seperti misalnya tafsir Yusuf Ali, menerjemahkan ‘Masjidil Aqsa’ pada ayat 17:1 sebagai ‘tempat sujud terjauh’. Tempat sujud terjauh pada zaman nabi hidup ditafsirkan sebagai Baitul Maqdis di Jerusalem yang saat itu masih dalam kekuasaan kerajaan Persia dan merupakan kiblat shalat umat Muslim ketika itu.  Baru pada masa kekhalifahan Umar-lah kekuasan Islam mencapai Jerusalem sehingga Masjidil Aqsa dapat direalisasikan sebagai bangunan masjid.
Sebuah alternatif tafsir yang juga berbeda, ayat 17:1 ini kalau kita lihat dalam konteks urutan ayatnya lebih cocok direferensikan pada kisah Bani Israel yang memiliki kebiasaan berjalan (hijrah) pada malam hari. Berikut ini kita lihat urutan ayat Al-Isra :
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-hambaNya (Bani Israil) pada suatu malam dari tempat sujud yang suci (Masjidil Haram) ke tempat sujud yang terjauh (Masjidil Aqsa) yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (17:1)
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku, (17:2)
(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (17:3)”
Ketidaksinkronan ini juga terjadi pada kisah Mir’raj’. Kita mengetahui bahwa Al-Quran yang diwahyukan ayat per ayat secara berangsur, Surat An-Najm yang dipandang sebagai ayat legitimasi Mi'raj itu secara urutan turun lebih dulu dibandingkan dengan Al-Isra’ ayat 1, paling tidak lima tahun sebelumnya.
Dari mengacu dari segi waktu turunnya ayat, berarti Isra dan Miraj tidak terjadi secara bersamaan. Apakah mungkin peristiwa Mi’raj’ tidak terjadi dalam satu malam dengan peristiwa Isra’, melainkan terjadi lima tahun lebih cepat dari Isra’ ?
***
Argumen kedua ayat ini sebagai referensi faktual Isra’ dan Mi’raj’ sulit untuk dipertahankan. Sejauh ini, kisah Isra’ Mir’aj baru dapat direferensikan oleh kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam. Kitab biografi Muhammad klasik yang lain tidak pernah menyebutkan kisah ini, seperti misalnya pada kitab Tarikh al-Tabari.
Memahami pesan moral yang dibangun pada kisah Isra’ Mi’raj’ ini memiliki hikmah tersendiri. Meskipun begitu, mempercayai kisah Isra’ Mi’raj versi Ibnu Hisyam secara detail sebagai hal yang benar-benar terjadi (faktual) memiliki resiko bagi kita menjadi seorang yang ahistoris dan tidak realistis.
Belum ada kesepakatan di antara ulama kapan Isra’ Mi’raj ini terjadi, bisa dilihat pada tautan ini. Di Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim bermazhab Syafi’i, peringatan Isra’ Mi’raj ini dirayakan setiap tanggal 27 Rajab turun-temurun secara besar-besaran dan merupakan hari libur resmi keagamaan.
Sebenarnya masih banyak lagi fenomena ‘sejarah vs kisah’ lain. Tapi kok jadi serius dan terlalu panjang ya? Pusing-pusing, buat orang Indonesia yang penting kan jadi hari libur.. Ya nggak? :)

( Tulisan ini sepenuhnya saya kopi dari tulisan Cokhy  )

Minggu, 26 Mei 2013

Kebun di Atas Genting

Tik.. tik.. tik bunyi hujan di atas genting. 
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua...


Itu tadi lagu ciptaan Ibu Soed. Menyanyikan lagu tersebut membayangkan saya berada di tengah taman umum atau penginapan di puncak. Saya tidak bisa membayangkan ada kebun di rumah saya, karena sejak saya lahir, di rumah saya tidak pernah ada sisa tanah untuk berkebun. Semua bagian lahan rumah sudah habis digarap untuk menambah kamar dan berubin sebagai pemanis teras rumah yang cuma seukuran beberapa meter persegi. Maklum, karena saya anak bungsu jadi kebutuhan rumah tumbuh kian meningkat dan menghabiskan sisa lahan rumah demi keleluasan gerak penghuninya. Kalau sebelumnya, kakak saya yang pertama dan kedua sempat mengalami menanam dan panen rambutan di halaman, itu karena kebutuhan ruang bagi penghuni belum sebesar ketika muncul keberadaan kakak saya yang ketiga dan ditambah lagi saya. Jadi kalau pun membayangkan ada kebun, yang terlintas adalah desa, seperti di rumah nenek saya yang setiap tahun selalu dikunjungi.
Dari Bawah Ki-Ka: Alpukat dan Jeruk Santang; Baris ke-2: Melon dan  Srikaya, Baris ke-3&4: Cabai
Meski tahun berganti tahun, keadaan tidak juga berubah. Saat ini saya tinggal di sebuah rumah yang memang tidak ada sejengkal tempat untuk tanah alami untuk berpijak. Rumah di tengah kota dengan luas yang terbatas, umumnya akan memplester habis dengan ubin untuk teras atau parkir. Seperti di tempat saya tinggal saat ini. Namun hasrat berkebun tidak boleh pupus. Saya membeli tanah (yang sudah dicampur dengan pupuk) di Toko Trubus dan mengambil tanah dari Bogor tempat kakak saya tinggal. Tanah-tanah tersebut ditempatkan di polibag atau pot. Karena posisi rumah yang sudah tidak bisa diubah lagi untuk mendapatkan asupan sinar matahari, maka demi kesehatan tanaman-tanaman, maka saya pindahkan mereka di genting. kebetulan di depan balkon terdapat genting penutup teras di bawahnya dan cukup kokoh untuk diberi beban beberapa tanaman kecil. 
--- ---
Bibit alpukat, melon dan srikaya kira-kira umurnya kurang dari empat bulan, sedangkan jeruk sudah lebih dari lima bulan. Semuanya berasal dari biji dari buah yang dikonsumsi di rumah sehari-hari. Bijinya diletakkan di pinggir pot yang sudah ada tanaman inti yaitu lidah mertua, disiram seperti biasa. Niatnya coba-coba, kalau jadi ya berarti rejeki saya dan ternyata tumbuh. Baru kemudian dipindahkan ke polibag. Perkara kapan berbuah, hehe.. itu hal nanti. Sudah bisa punya bibit dan menanam dengan cantik di halaman rumah rasanya sudah luar biasa.
Itu juga saya belum pelajari tentang karakter si tanaman buah, apakah mereka tanaman berhawa dingin atau semitropis atau apakah bisa berhasil dengan keadaan yang kurang alami. Coba-coba saja dulu. Kalau memang sudah cukup besar, mungkin nanti saya hibahkan ke saudara yang mau mengadopsinya dihalaman yang lebih luas :) 

Bibit Melon

Di rumah ada lima pot bibit melon. Saya letakkan di beberapa keadaan, dua di tempat yang kaya sinar matahari, satu pot di tempat yang cukup kena sinar dan dua pot lagi yang sinar mataharinya kurang. Bukan alasan ilmiah sih, tapi karena biar gampang menjalarnya. Duh.. saya sudah menghayal panennya saja. Hehe..
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TIPS membuat bibit tanaman buah sendiri :
  • Pilih buah yang kualitasnya bagus.
  • Jangan buang bijinya, pastikan bijinya sudah bersih dari daging buah.
  • Siapkan tanah yang subur di dalam pot atau polibag.
  • Sebar biji di atas tanah dan tambahkan lapisan tipis tanah.
  • Siram setiap sore atau pagi hari.
  • Letakkan benih (biji tanaman) pada tempat yang kaya akan sinar matahari.  
  • Tunggu hingga benih sudah tumbuh dan menjadi bibit.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

-Y-

Selasa, 30 April 2013

Tweets of Jilbab

http://www.teachthought.com/twitter-hashtags-for-teacher/
What do you expect to share your thought in only 140 characters? Some smart guys give a kultwit by making numbers for every tweet. Their tweets are enlightening peoples by their smart chosen words, so amazing. Twitter is a place to share your opinion or everything to speak your mind on your own private wall. But, we are not alone there, maybe few peoples who care or take a little attentions will read your tweets and give many reactions depend on their interest. People who can share many interesting issues must have read a lot, a lot of books. Well here, because i don't read a lot, so .. i just can share uninteresting issues with only few words. Hehe...  

Yesterday, i tweeted about my thought of hijab or jilbab. Here are my tweets:
  • Waktu gw kuliah, bokap gw bilang: "ga usah pake jilbab ndok, hatinya aja yg dijilbabin". Bokap gw cool bgt. Itu 14an tahun yg lalu.
  • Kalau bokap gw masih hidup di jaman skrg,mgkn beliau akan setuju sama gw,kl jilbab ya sama aja dg orang pake bando atau konde. Hy aksesoris.
  • Ga bisa menilai kesalehan dari jilbab,begitu juga jangan menilai berjilbab buruk karena orang tsb memakai celana n baju ketat. Biasa ajalah.
  • Buat gw sih yg penting bagaimana perilakunya,ga rugiin orang atau bermanfaat itu lebih bagus. Perkara religiusitas, monggo disimpan sendiri. 

Those words came from my reaction after i saw the front page of daily newspaper (Kompas, Monday April 29th 2013). I saw Angel Elga wears hijab for legislative prospective candidate (red-calon legislatif-caleg). But the previous day or in Sunday, I read Kompas comic that show about the trend of hijab. First, a girl was passing three boys, she was wearing a sexy dress. Then that girl back again but with the different costume, which is look like a muslim clothing plus a hijab. And then the boys asked her where she was going to go. The girl answered that she wanted to be a caleg.

After many thoughts in my mind, then i wrote those tweets via twitter.Then few reactions were coming, i got some attentions and a critic, i loved it. Thank you twitter.  

-Y-

Minggu, 28 April 2013

Liburan ke Lembang



Ingin berlibur tidak jauh dan santai serta bebas macet, memang perlu dipikirkan. Kalau ke puncak yang terpikir adalah macet. Kemudian, di hari cuti yang telah ditentukan, pasangan saya kedapatan harus ke Bandung. Ya sudah saya ikut, meski terbayang macet namun rencana biarlah dipikirkan selanjutnya. 

Bandung memang memanjakan bagi mereka yang suka fashion, selain itu aneka kuliner juga menjadi daya tarik tersendiri. Namun, saya kurang berasa berlibur kalau hanya itu yang didapat karena urusan gaya-gayaan mah, di Jakarta juga ada. Lalu akhirnya kami bergegas untuk menikmati udara Lembang. 

Sesampainya di Lembang hari sudah gelap, kami (saya dan pasangan) menginap di hotel Bumi Makmur Indah, hotel melati dengan harga Rp.350.000/malam. Hotel ini umumnya untuk rombongan atau kelurga karena setiap kamar tersedia kasur untuk empat orang. Ada juga yang harganya Rp.250.000/malam yang juga berisi empat kasur. Uniknya, sarapan diantarkan ke kamar sebuah bungkus kertas yang berisi empat roti dan empat susu. hehe.. lumayan kan. Di Lembang cukup banyak hotel yang bagus, tapi karena bagi kami cukuplah kamar yang layak (menurut kami) dan air panas untuk mandi jadilah hotel melati menjadi pilihan. 


Oiya, kami lanjutkan dulu ceritanya. Setelah mendapat hotel, kemudian kami makan di warung "ayam brebes" berdua + 50ribu. kemudian kami menikmati udara lembang dengan berjalan kaki melintasi jalan Raya Lembang, jalan Panorama dan jalan Grand Hotel. Setelah selesai itu, kami mencicipi jagung bakar (Rp.7000) dan ronde (Rp.10.000), santapan penutup ini dapat menghangatkan tubuh dari udara Lembang yang sejuk di malam hari. Selain kami juga terlihat pelancong dari beberapa daerah terlihat dari plat mobil yang mampir seperti Bogor dan Jakarta. 
--
Pagi harinya, kami bergerilya lagi. Kami laju kendaraan dan parkir di depan gerbang masuk. Saya lupa namanya, tempat ini merupakan salah satu akses menuju wisata Tangkuban Perahu dengan berjalan kaki. Tiket masuk seharga Rp.5000/orang. Jalan setapak yang berkelok dan menanjak, kiri kanan terdapat pohon yang menjulang tinggi juga tebing. Jalannya masih dari tanah, tidak berapa jauh terdengar gemericik mata air yang menjadi salah satu sumber air bersih penduduk sekitar. Udaranya begitu segar, sampai kemudian terpolusi karena diketahui di belakang kami ada empat remaja yang juga melintas dan merokok. Kami persilahkan mereka mendahului kami, supaya saya bisa melanjutkan menikmati udara yang bersih.
Panorama Lembang
Mata Air

Kicau burung yang riuh membuat kami betah menikmati suasananya, namun berhubung tidak ada persiapan untuk mendaki bebukitan, maka kami hentikan perjalanan setelah baru satu jam berjalan. Kami berbalik kembali menuju jalan raya dan mencoba masjid di alun-alun kota. Di depan masjid terdapat lapangan dan taman bemain. Seru melihat anak-anak bermain sepulang sekolah.

Masjid di Lembang


Kami lanjutkan dengan membeli oleh-oleh di sekitar jalan Raya Lembang. Jalur pejalan kaki tidak tertata rapi, banyak sampah dan kotor. Saluran buangan air juga terlihat kotor dan berlemak, karena di sekitar jalanan banyak terdapat warung makan. Bau udara dari kotoran kuda terkadang melintas, karena masih banyak delman yang bekerja di sela-sela angkot yang menderu. Di sini kami juga menikmati ketan bakar dan teh tawar hangat seharga Rp.7.000. Setelah selesai dengan urusan peroleh-olehan, kami melanjutkan perjalanan berkendara menuju Tangkuban Perahu. Dengan harga tiket masuk Rp.13.000/orang. 
Tangkuban Perahu
Nah, selesai sudah jalan-jalan di Lembang. Karena sudah masuk akhir pekan, maka perjalanan pulang ke Jakarta kami putuskan via Subang supaya tidak terjebak macet di Bandung. Jadilah sebelumnya memasuki tol Jakarta, kami makan siang di sate maranggi yang terkenal uwenak itu. lalu .. kembali ke Jakarta disambut oleh kemacetan di tol dalam kota, ah itu sudah biasa :) -(26,27 April 2013)

-Y-

Minggu, 21 April 2013

Hello _ First Posting

This is the first time i write my thoughts in English language. It is not because i have no time to do it, but it is because I have no confidence to do it. Everybody can says that you just need practices by keep talking and/or writing to improve your English. It sounds easy, but honestly it was not that easy for me. If i had had enough knowledge (grammar and vocabularies), then i could have spoken or written English fluently, but i didn't have enough knowledge. And now, i would not need more practices if i mastered the English language. Knowledge helps me build my confidence. I am not a person that have a confidence, naturally. That is why i have been taking an English course for eight mounts, seriously to know learn about grammar in deep.

Just like a quote: "it is never too late to learn". I keep that words, to step ahead until i reach my aim. So this is the actualization's place, to practices and there will be so many mistakes in grammar and wording that you'll find. Beside that maybe the sentences are more Indonesian English (if you know what i mean).

My teacher said that you had to think in English about everything on your mind. She warned me not to think in Indonesian language then you translate it, but do it in verse. All of that would be the easiest way to learn quick. 

Well, yes, maybe it is too late for my age. But, It is not easy to confess your lack. At least, learning to keep learning is a bliss.

-Y-

Jumat, 22 Februari 2013

Yuukk.. Berkebun #5

Halo.. berkebun kali ini masih bicara seputar tanaman cabai saya. Sekarang, masa tanamnya sudah memasuki usia sekitar enam bulan. Lihat penampakan terbarunya yuuukk.. di bawah ini:

Panen Cabai di Usia + 6 Bulan
Hasil panen cabai yang sudah dipetik di bawah ini:
Sekali-kali pasang foto yang besar ndak apa-apa ya.. hehe.. sebab saya lagi senang menjadi petani kecil-kecilan :)

-Y-

gentle and tender

..tulang makin terasa lemah, pelan-pelan merawatku.. dengan sabar kau ucapkan huruf demi huruf dan menuntunku memahami kata-katamu  semangat...