Sabtu, 01 Januari 2022

Refleksi 2021 - tentang diri

Courtesy of Sasa Azzahra 
Di masa ini, di mana saya masih bekerja dari rumah sejak Maret 2020, harus bersyukur karena perusahaan tempat saya bekerja dan pekerjaan saya, terbilang masih bisa produktif menjalankan perannya. Tentu efektifitasnya tidak sama dengan tahun sebelum New Normal ini. Namun secara pribadi, besar peluang mendapatkan pekerjaan sampingan yang dapat dilakukan secara online dan untuk belajar hal baru secara online. Ini adalah peluang dan pilihan. Jika ada peluang, maka pilihannya adalah menyita waktu seluruh waktu akhir pekan  untuk pekerjaan atau ingin menggunakannya untuk bersantai. Untungnya, saya suka menjadi sibuk dan produktif. Mengerjakan pekerjaan baru artinya akan dapat tambah pengalaman dan tentunya tambahan tabungan pendidikan. Saya tak ingin melepaskan kesempatan ini, jadi ya saya ambil setiap pekerjaan yang ditawarkan kepada saya. Overwhelming? tentu saja.. tapi untungnya semua bisa dilakukan online dan masih bisa diatur dengan baik. 

Dengan sedu sedan, resah, frustasi dan terkadang bahagia yang bercampur risau semua orang menjalani tahun 2021. Detik tetap berjalan, apapun yang terjadi. Hari berganti dan laju hidup tak dapat mengulang apa yang sudah terlewat. Tak semua orang memiliki keberuntungan. Sayangnya, tak semua orang yang beruntung mampu meresap nikmat.

Pekerjaan yang saya miliki saat ini sangatlah nyaman, aman dan mungkin didambakan banyak orang. Tahun ini, saya sibukkan dengan juga mengerjakan pekerjaan sampingan. Namun, untuk keseimbangan jiwa, saya merasa ada yang kurang dengan rutinitas pekerjaan dan umur yang sudah kepala 4. Lalu, saya mengalihkan motivasi untuk mendapatkan beasiswa. Motivasi paling dasar adalah saya ingin sekolah dan belajar lagi. Tahun 2021 adalah batas umur terakhir saya bisa mengajukan beasiswa LPDP.  Saya berupaya keras untuk lolos beasiswa. Termasuk latihan soal dan mengikuti tes Toefl sebanyak 2 kali agar bisa dapat nilai yang masuk untuk batas syarat administrasi minimal 530, yang dilakukan diantara pekerjaan inti dan sampingan. Sekalian saya mengasah kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan ini. Namun rupanya upaya saya tak cukup kuat. Saya gagal pada seleksi kedua. Menyesal tidak lolos? 

Tentu saja sangat menyesal dan bersedih. Hal ini saya akui karena kurang serius untuk latihan soal lebih banyak, mungkin menyepelekan karena terlalu percaya diri dengan persiapan administrasi yang sudah lolos dan persiapan wawancara nanti. Beberapa hari saya menangis karena merasa kurang giat berusaha dan artinya saya harus meminta bantuan suami untuk kepastian biaya pendidikan saya selanjutnya. 

Saya mampu membiaya sekolah hanya untuk beberapa semester, tapi tidak hingga selesai. Karena sekolah lagi berarti komitmen penuh. Komitmen utama adalah sekolah, pekerjaan tidak bisa lagi full time dan bukan lagi prioritas utama. Ini berarti, biaya yang dikeluarkan menjadi tidak sedikit karena saya harus fokus menyelesaikan pendidikan. Saya tidak suka hal ini yang berarti saya mungkin tidak mandiri secara finansial jika tidak dapat beasiswa. Oleh sebab itu maka dukungan moral dan material dari suami adalah yang paling saya butuhkan. 

Mari kita move on, di mana selanjutnya adalah persiapan tes untuk dapat diterima di Universitas untuk program doktoral yang melalui serangkaian tes dari mulai seleksi administrasi, tes tertulis, presentasi dan wawancara. Dengan persiapan pra-proposal yang masih jauh dari matang, Alhamdulillah saya diterima. Penilaian terpenting dari hasil wawancara menurut saya adalah kesiapan diri secara mental dan finansial. Mental artinya mampu menyelesaikan dengan baik, finansial artinya sekolah lagi memerlukan dukungan keuangan anda yang stabil minimal buat saya 3 tahun ke depan. Jika kedua isu ini dapat dijawab dengan tepat, maka kemungkinan besar dapat diterima.

----

Selain hal yang semuanya serius di atas itu, kita juga pastinya butuh hiburan. Untuk mengisi hari libur, piknik ke luar kota hanya bisa dilakukan sepanjang kita mampu berkendara sendiri. Paling jauh adalah ke Jogja sekaligus mencoba rute tol baru, dan bersyukur masih bisa dilakukan bersama orangtua kami. Meski pada perjalanan ini, kami tetap isi waktunya sebagian besar dengan pekerjaan. Semuanya berusaha kami seimbangkan antara keluarga, liburan dan pekerjaan.

Bepergian dengan naik transportasi umum atau ke Bali misalnya, belum berani dilakukan. Tapi kalau sekedar makan di warung atau sekali nonton bioskop masih dapat dilakukan. Sebenarnya tempat umum sudah jauh lebih longgar aturannya di akhir tahun ini dibandingkan pertengahan tahun. Tapi tetap kami memprioritaskan untuk tetap di rumah saja.

Saat ini, hiburan yang paling mudah adalah bergantung dengan koneksi internet, antara lain: nonton film atau acara melalui youtube atau netflix, ngobrol dengan kawan secara online dan membaca buku yang dibeli secara online atau sesekali ke toko buku, serta mengintip cerita ga penting yang bisa menghibur dari media sosial. Saya sadar ini adalah kemewahan. Mohon maaf atas kesombongan ini. Situasi ini tentu tidak sama dengan teman-teman yang tidak memiliki koneksi internet (dengan baik), namun (saya harap) mereka pasti mampu mendapatkan pilihan hiburannya sendiri dengan keadaannya.

Media sosial menjadi yang utama di masa ini. Banyak orang yang menumpahkan isi pikiran dan pengalamannya karena alasan antara lain ingin berbagi kepada orang lain atau sekedar ingin menumpahkan emosi di medsos. Banyak yang ingin menunjukkan ekspresi, ingin terkenal, ingin komentar, ingin membela, ingin menonjol, dan buat kita jadi banyak baca yang ngalor-ngidul. Namun banyak juga yang tak (ingin) hadir di media sosial. Mereka tetap menyimpan kehidupannya sebagai privasi dengan alasan antara lain tak banyak bermain gadget atau media sosial atau tak ingin orang asing mengenal pribadinya. 

Mengenai hal ini, saya pikir karena umumnya kita tak peduli dengan kesedihan atau kesenangan orang yang share kehidupannya di media sosial. Begitu pula dengan foto atau cerita yang saya bagi di medsos, termasuk blog ini. Saya merangkum catatan pada selembar halaman ini. Intinya ya pamer juga, wong isinya tentang kehidupan pribadi. Tapi paling yang baca ya saya sendiri. Jarang orang yang mau baca blog kalau ceritanya tidak menarik sekali atau pas dengan topik yang mereka cari. Ada kemungkinan mereka sengaja membaca blog orang hanya untuk menguntit, tapi siapa yang peduli. Memang blog dibuat untuk dapat dibaca kan. Jadi bisa dibilang orang cenderung menikmati cerita dan mengintip dinding halaman orang lain di dunia maya dengan sengaja melalui Instagram, facebook, twitter dan youtube.

Buat saya, sulit melihat mana yang benar dan asli dari media sosial personal. Kebanyakan seperti palsu, terlalu bagus, kadang menjijikkan dan seringkali menghibur. Tidak ada yang salah. Saya cuma ingin tidak terlalu lama mengintipnya. Kalau untuk lucu-lucuan, misal nonton Lulu kucing, nonton jalan-jalan makan, jalan-jalan ke NewYork di Youtube, model begini yang saya ikuti. Oh, saya suka ikuti saluran Endgamenya pak Gita, apalagi pas ceritanya Bu Sri Mulyani. Mencerahkan sekali. Ingin sekali bisa cerdas dan tenang seperti Ibu SM.. LOVE.

-- 

Mari bersiap menghadapi tahun ini dengan menjalankan pekerjaan, pendidikan, keluarga dan kesadaran dengan santun. 

Tak perlu tergesa.  

Pilihan sudah ditentukan. 

Konsekuensi niscaya dikenyam. 

Kalau kata suami yang ngambil dari film-film begini: hypothetical situation does not count. 

Well, I agree. C'est la vie. 

Let us continue with what we have chosen with all the consequences. What we need is to be persistent, hard work, and be sincere.

-Y-


Senin, 19 Juli 2021

Anti-thesis: The Words!

Not everything happens for a reason. 

Sometimes life just sucks.

Alexa Chung


I wrote Marylin Monroe's quote in 2016 that "everything happens for a reason". At that time, I tried to believe that people should be wise in seeing every moment of their life to pursue happiness. 

Recently, we have seen so much grieve and unpleasant news as our daily consumption. This causes us pain and loss. Some people who still have the privilege of having a job, nice family and neighbors and money, may not feel the same way with people who don't have those privileges. People with the privilege still have a choice to be grateful for what they have, even tho they also lose someone.

Those people who don't have one of those privileges, they are just unlucky. Life sucks for them. Stop right here. 

--

The story might be different if we change our perspective, such as hope. 

--

-Y-

Senin, 10 Mei 2021

Life


to yourself:

Love yourself cos it is the only one you need in life.

Do not ever expect something in return, unless it is a business thing.

Create your own sweet solitude to embrace your wild mind and fantasy.

----------------------------------

in bad-tempered:

You just need time to dilute your anger. Hold your breath and release it slowly through your mouth, to control your finger and mouth.

When you feel blue, just go get a shower. It heals your sorrow. A hot shower will be nicer :)

---------------------------------

manage perception:

"Integrity.. 

It is lost for a few people. 

For some, they don't know the meaning of it. 

For a very little piece.. they are struggling to keep what best they can do for life."


Some people are cruel and they don't know they're cruel.

---------------------------------

Yanu

Senin, 22 Maret 2021

Satu Tahun Work From Home

Masa pandemik masih saja terjadi hingga kini. Setahun sudah lamanya kegiatan bekerja dari rumah dilakukan. Kebiasaan baru pun sudah terbentuk, dari mulai rapat, training dan acara seminar online, hingga hiburan mencuci mata dan latihan menari pun dilakukan melalui online. Tubuh ini rasanya pun sudah beradaptasi dengan new normal ini. Kegiatan fisik yang tidak banyak dilakukan sehari-hari, menjadi beda jika kita berkegiatan sehari penuh di luar rumah dengan merasa badan mudah lelah. Meskipun olahraga tetap dijaga, tetap saja aktivitas fisik tidak sebanyak sebelum pandemik ini terjadi. 

Kata orang, baiknya kita bicara hikmahnya saja. Karena kalau mau mengeluh pasti banyak daftar yang ingin disampaikan yang malah tidak menciptakan suasana produktif. Seperti menulis ini adalah bentuk sekedar menuangkan apa yang ada dipikiran ini. Mungkin tidak akan ada yang baru yang akan disampaikan, karena berita kini kerap dengan mudah kita konsumsi melalui gadget.

Selain gadget, layar televisi menjadi hiburan yang paling utama bagi keluarga saya. Dari Tv melalui Youtube saya bisa jalan-jalan ke Jepang melihat monyet salju berendam di air hangat, lalu ke New York lihat salju turun di Time Square yang sepi, dan ke Glodok sampai Semarang lihat kota lebih dekat. Dan tentu masih banyak lagi tempat-tempat yang dikunjungi. 

Segini dulu ya. Nanti disambung lagi :) 

Y


 

 


Rabu, 27 Mei 2020

Good People

Good people are not always treated well
they often get hurt
maybe that's why they have a big heart
they leave little room for pain
they become stronger because of the broken heart

They grow up and more mature
always put a big smile on their face
don't want to let people know what is inside
they will not stop being kind

and sometimes, they have to be cruel to be kind

-Y-

Selasa, 26 Mei 2020

Opini: Masa Pandemik Covid-19

Pandemik ini tidak terjadi sendiri di sini. Kejadian ini menerpa masyarakat di seluruh penjuru dunia. Semua mengalami kesulitan ini. Banyak yang kehilangan pekerjaan, tempat tinggal dan kelaparan. Mengapa hal ini bisa terjadi? 

Karena virus Covid (corona virus disease) ini begitu mudah menular. Sementara, belum ada vaksin atau obat untuk virus tsb. Masyarakat dihimbau untuk mencegah penularannya dengan cara mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Karena tidak bisa dilihat siapa orang yang benar-benar positif teridap virus covid ini. Bisa saja kita bertemu di jalan, di kendaraan umum, di warung atau di mana saja dengan keadaan yang terlihat sehat. Terkait hal ini, maka Pemerintah menghentikan operasional transportasi publik seperti Mass Rapid Transportation (MRT), pengurangan operasional bus trans dan Kereta Rel Listrik (KRL). Bandara dan kereta antar kota ditutup. Ojek online tidak boleh membawa penumpang, mobil online dan taksi diberikan aturan ketat untuk tetap beroperasi.

Dalam skala nasional, sejak penandatanganan Pembatasan Sosial Berskala Besar-PSBB (31/3/2020), pemerintah daerah mulai memberlakukan kepada dunia usaha dan sekolah untuk dapat bekerja, bersekolah dan beraktivitas dari rumah. Tentu tak semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah. Hanya layanan esensial yang masih bisa beroperasi dari tempat usahanya. Dengan keadaan begini, maka banyak usaha yang mengurangi jam operasionalnya atau bahkan berhenti sejenak. Restoran hanya boleh melayani pembelian yang dibawa pulang, tidak boleh makan di tempat. Bangunan publik ditutup, MUI mengeluarkan fatwa agar tidak solat di masjid atau berziarah, bahkan pemerintah melarang aktivitas mudik. Banyak hotel, semua mall dan tempat wisata ditutup. Akibatnya, pemasukan usaha menjadi berkurang, sementara karyawan harus tetap digaji, sehingga pengurangan pendapatan karyawan dilakukan atau bahkan merumahkan dan memberhentikan sementara.

Situasi ini membuat warga yang hidupnya sudah sulit kian menjadi sulit. Tidak hanya sektor formal yang berdampak negatif, sektor informal pun semakin terpuruk. Di Indonesia tahun 2019 itu ada sekitar 57% orang yang bekerja di sektor informal, sektor yang masih dominan. Contoh saja, jualan es cendol keliling dengan gerobak. Kalau semua orang menahan diri untuk ke luar rumah dan anak-anak tidak jajan dari luar rumah, maka dari mana tukang es ini dapat menjual dagangannya. Potret semacam ini tersebar melalui media sosial dan menimbulkan empati bagi sebagian besar masyarakat kita. Kisah sedih antar sesama manusia ini, meningkatkan kepedulian sosial. Tak sedikit yang berusaha bahu membahu membantu sesama untuk meringankan beban mereka yang membutuhkan dan saluran bantuan untuk mendukung alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan yang menjadi garda depan dalam berjuang untuk menangani pasien-pasien yang terinfeksi covid. Namun, prinsip oksigen harus tetap ditegakkan, yaitu menggunakan masker oksigen untuk diri sendiri agar tetap dapat menolong orang lain. Artinya, kita tetap harus tetap waspada terhadap virus ini.


--

Perubahan adalah niscaya. Semua orang berusaha mengikuti perkembangan agar tetap bertahan dan selalu sehat. Informasi tentang definisi dan tips pencegahan dari covid pun dapat berubah dalam hitungan jam. Begitu banyaknya jumlah korban dan kematian bergulir setiap hari dalam 2 bulan terakhir. Perhari ini (26 Mei 2020), di dunia ada kasus terinfeksi sudah hampir 5,6 juta orang, angka sembuh 2,4 juta orang, meninggal 347.950 jiwa. di Indonesia sendiri ada lebih dari 22.000 kasus terinfeksi, dengan angka kematian 1.391 jiwa. Tapi angka tes kita hanya 940 orang/1 juta penduduk, angka ini rendah sekali jika dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, Philipina dan Thailand. Padahal jumlah penduduk kita jauh lebih besar dibandingkan negara-negara itu. Di sisi lain, laporan Pemprov DKI mengatakan angka pemakaman di DKI Jakarta meningkat tajam pada bulan Maret dan April 2020 yaitu bertambah lebih dari 1000 pemakaman. Oleh karena itu, melihat angka laporan kematian akibat covid di negara kita seperti melihat ironi.

--

Sejak 13 Maret 2020, kantor saya memberlakukan aturan bekerja dari rumah. Beberapa kantor lain juga menerapkan aturan yang sama. Keadaan seperti ini menuntut masyarakat untuk melek teknologi. Semua pertemuan dan diskusi terjadi dalam bentuk tatap muka melalui dunia maya. Sekolah pun demikian. Anak sekolah dan mahasiswa (mau tidak mau harus) menjadi sigap untuk tetap terus mendapat pelajaran, melalui pembelajaran online, ataupun televisi nasional. Tentu Pemerintah sudah memikirkan untuk daerah yang tak terjangkau teknologi internet, maka televisi atau whatsapp adalah sarana untuk memudahkan transfer informasi dari sekolah kepada muridnya. Para pengajar pun menjadi ekstra berlatih untuk menyampaikan pelajarannya kepada murid melalui media komunikasi dan platform online. Tak sedikit pengajar honorer yang berkurang gajinya karena pemotongan anggaran pengeluaran di lapangan. Namun, mereka hanya dapat mengeluh, karena solusi nampaknya tak kunjung di depan mata. Dan lagi harus bersyukur karena masih mendapatkan rejeki dengan masih bekerja. Karena sangat banyak yang menjadi tidak beruntung dari keadaan ini.

Di sisi rumah tangga, alokasi anggaran ongkos sekolah beralih untuk anggaran makan, listrik dan kuota internet yang membengkak. Para orangtua memutar otak untuk membuat anak-anak tetap dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan betah di rumah. Padahal biaya sekolah tetap saja ada. Para orangtua harus pandai membagi waktu dengan mengurus anak dan bekerja. Para asisten rumah tangga pun tak lagi dapat leluasa bekerja. Sebagian dari mereka diberhentikan karena para orangtua kini sudah dapat bekerja di rumah dan mampu menangani pekerjaan rumah tangga, mungkin juga karena pemasukan para orangtua inipun berkurang dan untuk mengurangi risiko kontak langsung dengan orang lain.

Memasak sendiri adalah tren baru, karena dapat menghemat uang makan dan dapat mengatur porsi serta dirasa lebih higienis. Para orangtua pun harus berkreasi dengan makanan untuk membuat keluarga tetap hangat dan bersemangat. Kreatifitas bermunculan melalui media sosial dan situs-situs pendukung. Beragam bentuk aktivitas kreatif di dalam rumah bermunculan. Hal ini karena setiap orang harus pandai menghibur diri dari dalam rumah untuk menggantikan kebiasaan aktifitasnya di luar rumah. Melalui media sosial dan situs pendukung maka masyarakat global bisa saling menghibur dengan konten dan kreasinya. Banyak sisi baik dari keadaan ini yang dapat dirasakan, seperti: jalanan menjadi sangat lengang, kicau burung begitu nyaring terdengar karena riuh rendah bunyi nada di stasiun kereta api jauh berkurang, asap kendaraan tidak mengepul, langit menjadi cerah dan biru.


Jakarta, Senin, Lebaran, 25 Mei 2020, Langit Cerah dan Biru

Model belanja kebutuhan sehari-hari pun berubah. Tak sembarang orang bisa lalulalang ke pasar tradisional. Saat pandemik ini, diatur jam untuk beroperasional dan lebih pendek, ada jam untuk dibersihkan dan disemprot disinfektan. Dan pengunjung diwajibkan memakai masker. Jaga jarak sulit mengaturnya, tetapi sebagian terlihat ada yang menggunakan sarung tangan saat berbelanja. Bagi yang memiliki rejeki lebih, mereka memilih berbelanja melalui online untuk mengurangi risiko dan efisiensi serta berbagi rejeki kepada jasa pengantar belanja. Belanja online menjadi sangat marak aktivitasnya. Jasa pengiriman barang menjadi sibuk. 

Mengenai kebiasaan-kebiasaan baru yang terbentuk. Cuci tangan adalah kebiasaaan baru yang digemakan. Baru tahu dari link ini, bahwa di dunia ini lebih banyak orang yang punya hp (5 milyar orang) dibandingkan orang yang memiliki kemampuan mencuci tangan di rumahnya (4,8 milyar orang). Artinya, memang perlu dipaksakan untuk menciptakan kondisi ideal seantero dunia. Di beberapa komplek perumahan terlihat meletakkan fasilitas di halaman rumahnya berupa bak, keran dan sabun untuk memfasilitasi orang sebelum masuk rumahnya atau sekedar ingin mencuci tangan. Kreasipun macam-macam deh.


Bersiap untuk New Normal Juni-Juli 2020

Masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan baru yang tercipta di masyarakat dari upaya pencegahan covid di masyarakat sejak sekitar pertengahan Maret hingga akhir Mei ini.
Kalau kata sebuah sumber, buat seseorang perlu rerata 66 hari untuk mengubah kebiasaan. Jadi, kalau ada survey mungkin sebagian dari kita sudah terbiasa dengan model ini. Tanpa ngopi di mall, tanpa nongkrong, tanpa cuci mata di pusat perbelanjaan, tanpa beribadah di fasilitas umum peribadatan.

Adapun upaya untuk memulihkan perekonomian dan kegiatan sosial di masyarakat adalah Pemerintah mengeluarkan skema-skema new normal yang diprediksikan berlaku di bulan Juni, tentu dengan syarat dan kondisi tertentu untuk dapat mengaktifkan kegiatan sosial dan usaha di masyarakat dengan skema new normal ini. Hal ini akan berlangsung sampai dapat ditemukan vaksin atau obat untuk virus ini. 

Per hari ini, sudah 75 hari saya lakukan kebiasaan baru yaitu beraktivitas di rumah saja. Nampaknya saya sudah terbiasa dengan model ini. Kalau untuk ke kantor lagi, berarti perlu 66 hari ini untuk terbiasa dengan aktivitas baru. Hehe.. jadi, apakah berarti ini, saya jadi keenakan bekerja dari rumah? atau saya yang memang biasa bermalas-malasan? :)


26 Mei 2020
-Y-

(saya tahu banyak sekali tulisan tentang keadaan pandemik ini yang bagus-bagus. Saya menulis ini hanya untuk pengingat diri saya sendiri tentang keadaan luar biasa ini. Betapa manusia berubah secara global dan adaptasi yang luar biasa dari makluk planet bumi ini)  

gentle and tender

..tulang makin terasa lemah, pelan-pelan merawatku.. dengan sabar kau ucapkan huruf demi huruf dan menuntunku memahami kata-katamu  semangat...