Kamis, 21 September 2017

Liburan ke Chiang Mai

Wat Cedi
Sawadee Kaaaa... (sambil merapatkan kedua telapak tangan di depan dada, dan menundukkan kepala).. 

Begitu cara salam saat bertemu dan berpisah bagi orang Thailand. Yup.. liburan kali ini adalah ke Chiangmai, di Thailand utara.. Yeayyy.... liburan selama empat hari tiga malam bersama pasangan saya (09/17).. maaak.. aye seneng banget.


Di sini saya masukkan biaya ya.. siapa tau berguna buat yang ingin mengira-ngira biaya jadi turis di Chiang Mai. Ohiya.. untuk sinkronisasi bacaan ini, 1 bath kira-kira 400 rupiah ya. 


Tips singkat ala Yanu:

- Jangan kawatir soal transportasi, ada taksi (tuk tuk), becak, angkot, Uber, Grab.
- Wifi banyak, ada di setiap bandara, penginapan dan resto atau warung makan. Kalau takut nyasar bisa pakai Peta. Bagus mau pakai Dtec (lokal provider seluler).
- Buat yang punya problem perut (maag maksute) sama makanan asem dan bersantan seperti saya (tapi saya udah parah nih), saya bawa lemon dan alat perasnya dari rumah. haha.. niat bener. Biar ga rugi bo', makanan di sini enak-enak. 
- Kalau problem perutnya ga terlalu berat kaya saya, jangan kawatir.. air kelapa juga ampuh buat masalah perut kamu. Dan ini, bakal gampang kamu temuin di setiap hampir 300 meter deh. Harganya 25-50 Bath. 
- Udara di sini relatif panas, terik, meski begitu karena ini adalah kota religius, maka berpakaianlah yang sopan. Gapapa ding mau buka-bukaan, bakal tetep dipinjemin kain kok buat nutupin (di beberapa tempat).

Catatan: kata orang:"no picture is hoax". But well.. mohon maaf yak, hp rusak disaat saya belum sempat memindahkan foto-foto yang indah itu ke laptop dan tak ada satupun yang sempat diselamatkan, jadilah hilang begitu saja foto kenangan itu. Huhuhu.... hanya sedikit yang tersisa. Tapi cerita ini harus terus berjalan, nanti saya akan kerahkan tenaga untuk mengambil foto dan menambahkan lokasi untuk melengkapi cerita ini. Tapi kapan-kapan ya. Hehe..


Penginapan
1.Hern Lhin Natural Resort
Saat pesan tiket pesawat, sepaket dengan pemilihan hotel. Kami pilih Hern Lhin Natural Resort. Karena belum pernah ke Chiangmai, dan males pula browsing serta mencari tahu, maka jatuhlah pilihan pada tempat tersebut. Yang jaraknya 17 km dari Chiang Mai airport. Pakai taksi ke penginapan itu 500 Bath, sekitar setengah jam dari bandara. Kalau dari sini, bisa sih ke Night Safari, tapi hamba kurang berminat.

Tempatnya unik dan eksotis gitu dengan konsep clay house, rumah liliput tapi berukuran besar. Kalau lihat interiornya niat banget deh. Bangku dan Meja dari kayu solid, dilisting pakai besi paten gitu. Warnanya natural dengan gaya traditional contemporer, dengan tak lupa ornamen dan desain gambar gajah menghiasi ranjang dan sudut-sudut ruang. Per hari 500rb, sarapannya disajikan dengan menarik. Bagus untuk keluarga, karena ada dua kasur, one single bed dan double bed. 


Di sini dapat berenang dan dipinjamkan sepeda. Tempatnya kalau pagi cukup sejuk, sebab terbilang kawasan pegunungan. Udaranya bersih dan langit cerah bisa dinikmati sepanjang perjalanan. Bisa bersepeda ke Pagoda terdekat sambil menikmati udara pagi yang segar. Nikmaat banget rasanya. Aroma dupa selalu merebak di setiap pintu masuk rumah warga. Saya suka.. Tinggal pulangnya ngegenjot sepeda pararegel.. soalnya tanjakan. haha.. 


2. Sri Muang Pong Pagoda

Ini adalah tempat pusat meditasi nasional. Syahdu bener deh... sunyi.. sejuk.. dan diiringi gemericik air dari sungai yang mengalir di sebelahnya. Saya cuma berani menikmati pemadangan Pagoda dari luar. Sebab ini agak desa ya dan sepi, nampaknya ndak umum untuk dikunjungi turis dan karena beda budaya, hamba takut salah. Terus.. guguknya banyak. hihi..

Sri Muang Pong Pagoda

3. De Nara Guest House
Yup... sebelum makan siang, kami pindah penginapan. Meski harus merelakan jatah menginap yang sudah dibayar selama 3 malam di Hern Lhin. Ini demi.. demi kenyamanan. Hehe..

Dari Hern Lhin ke De Nara cukup naik Uber seharga 230 Bath. Orang Thailand ga biasa ngomong Errr.. jadi kalau mereka sebut namanya penginapan de nala... pakai L. 


Penginapan ini recommended banget deh. Interior hotelnya gaya kontemporer, bersih dan pasti ada wifi, dengan fasilitas air panas, breakfast dan kolam renang. Terus, dekat dengan resto, dan enak buat jalan kaki untuk menikmati suasana kota. Dekat sinipun tersedia penyewaan sewa sepeda, per hari 50 Bath. Untuk tiga hari dua malam, biayanya 3180 Bath.


4. Dash Teak House Resto

Letaknya serong kiri di depannya De Nara. Yang buat saya sebutkan nama restonya, karena masakannya emang enak banget. Sesuai sama lidah saya. Sajiannya tentu masakan khas Thailand dan menu internasional juga ada.

Anyway.. semua makanan Thailand itu uenaaak-uenak (ga harus di resto ini sih), cocok banget deh sama saya. Kalau sebulan saja saya di negeri ini, mungkin berat badan saya bisa naik 5 kilo. Benar-benar deh, bikin nambah napsu makan.


Berikut ini ya, saya deskripsikan aneka masakan yang kami nikmati di Dash Resto ini. Untuk tahu menu lengkap dan harganya, bisa kamu intip di sini (klik). Ohiya, saya tidak makan daging babi, jadi yang saya pesan sekitar daging ikan (seafood), ayam dan sapi.



  • Tom Yam Gung: Ini makanan yang saya ingin banget cobain kalau ke negeri gajah ini. Kuah sup yang asam suuuegar dari aneka bumbu rempah dan gurih ini (saya mintanya tidak pedas banget), ya ampunuuunn.. Uenaak banget, di makan sampai tak bersisa kuahnya. 
  • Phat Tua Kak Grathian: Ini sih bukan sok tahu tahuan dari nama makanannya, kami pesan karena ada gambarnya. hehe.. sayur oseng buncis dengan bumbu asin dan gurih serta bawang putih yang nikmat. Rasanya, sedaaap banget. Entah lapar atau apa, tapi emang sedap banget. 
  • A Sweet Potato Nest Chicken: Ini mangkoknya terbuat dari potongan kentang goreng yang dibentuk seperti sarang burung, dengan di dalamnya disajikan oseng ayam yang diberi paprika, kacang mede, nanas, dan bumbu lainnya.. rasanya ampuuun dah, enak banget. Mangkok yang berbentuk sarangnya itu bisa dimakan juga, tapi piringnya ya jangan ikut dimakan ya. Hehe..
  • Minuman andalan yang kami pilih adalah Thai milk dan Kelapa muda. hihi.. saya minum kelapa muda terus lho.. segerrrr. Jadi kelapanya dingin bukan air kelapanya dikasih es, tapi sabutnya ditipisin, lalu kelapa utuh itu dimasukkan kulkas atau direndam es batu, jadinya dingin air kelapa di dalamnya.
Resto ini merupakan fine dining, makan cantik gitu. Untuk menu yang kami pesan di atas, plus 2 piring nasi, kami menghabiskan 490 Bath. Criiing.. puassss..

5. Warowo Market

Ini pasar tradisional yang menjual beragam kebutuhan rumah tangga, sembako, dan bunga potong, serta buah-buahan. Saya beli duren montong dan rambutan. Surganya buah deh, seperti di Jakarta. Ndak mahal juga, segar-segar. Di seberang pasar ada sungai yang bersih meski tidak jernih. 

Saya makan buah-buahan di pinggir sungai, sambil menikmati suasana sore di mana orang-orang mulai menutup tokonya dan bergegas pulang. Meski begitu, sampah terkumpul cukup rapih hanya dengan kantong plastik besar yang disediakan di setiap 2-5 meter jalur pedestrian. 


6. Night Market

Di sini pusat belanja dan lihat-lihatnya oleh-oleh buat turis lokal maupun mancanegara. Seperti Malioboronya Jogja. Makanan khas Thailand pun tersedia beragam dan uenak uenak. Segala macam oleh-oleh dan karya seni ada. Rame, riuh, dan harum, serta tetap bersih. Penjualnya ramah-ramah banget. 

Yang menarik adalah food courtnya itu mewajibkan pengunjung untuk membersihkan mejanya sendiri. Jadi sampah harus dibuang di tempat sampah dan alat makan harus diletakkan di tempat khusus piring/gelas kotor. Smoking is prohibited. Yesss... Asek lagi, suguhan panggungnya itu adalah tarian lokal. Sedhaaaapp.. Ohiya.. ada banyak pilihan koridor food court sih, temanya macam-macam. Ada kebarat-baratan (panggungnya ya lagu top 40 lah), Italiano, atau ingin yang nuansa lokal, tergantung spot yang kamu pilih. 


Di atas jam 9.30 malam, ada Cabaret Show. Peragaan busana yang dilakukan oleh transgender. Tinggi-tinggi (tambah tinggi karena hak sepatunya amboiii), kekar, dan tebal make up dengan pakaian yang mencolok, tentu agar terlihat unik dan cantik. 


Pemandangan yang membuat kaya pengalaman, sebab disuguhkan kenyataan bahwa hidup sejatinya adalah menerima adanya perbedaan. Oh life..


Pulangnya kami naik tuk tuk (taxi yang bentuknya seperti bajaj tanpa pintu). Sopirnya itu punya nomor identitas. Ramah sekali dan ndak matre atau maksa-maksa. Harganya sedang-sedang saja. Bisa ditawar kok. Dari Pasar Malam ke hotel dia minta 100 bath, kami menawar 80 bath dan oke. Dan tentu di dalam kendaraan ada pajangan dan wewangian sebagai lambang kepercayaannya. Damai sekali melihatnya.



7. Market
Di sini dijual jajanan, kue-kue dan masakan lokal, tentu saja buah juga ada. Seneng banget deh lihatnya. Saya ke sininya malam, terlihat pedagang kaki limanya ramai dan tetap tertib, rapih. Di sini, saya nyobain Mango Rice, ketan warna warni agak gurih, yang diberi kuah santan, serta potongan mangga di atasnya. Unik rasanya. Harganya 50 bath. 

Makan Mango Rice sambil menikmati pemandangan aktivitas malam yang berisi orang lokal dan turis yang lalu lalang, sedap sekali meski udara agak sedikit lembab (agak panas). Dari hotel ke sini, kami berjalan kaki. Keluar dari hotel selepas magrib. Sengaja ingin menikmati suasana malam kota. 


8. Doi Su Thep Temple

Doi Su Thep Temple

Doi Su Thep itu nama sebuah daerah dataran tinggi (pegunungan). Di sini ada kebun binatang, pusat turis dan banyak tempat ibadah umat Budha. Tempat ibadah paling terkenal dan megah di daerah ini. Untuk ke Doi Suthep, kami naik angkot dari tempat mangkalnya di South Gate. Jalan aja sedikit, supaya bisa langsung jalan. Sebab, angkot ini akan berangkat kalau sudah penuh berisi 10 orang. 


Pada saat kami naik, kebetulan sekitar setengah jam kami menunggu 5 bule lain yang ingin ke temple juga. Ga begitu lamalah. Satu angkot harus narik 500 bath (dengan estimasi 50 bath per orang, kapasitas 10 orang). Karena hanya bertujuh, jadi 500 bath dibagi tujuh untuk sekali jalan, harusnya each 70 bath, tapi akhirnya dikasih 60 bath per orang. 

Sesampainya di atas akan diberi waktu 1.5 jam untuk lihat-lihat temple. Sopirnya menunggu kami kembali, sehingga turun dengan angkot sama. Jadi jangan lupa ingat plat nomornya, sebab angkotnya sama semua. Bolak-balik perorang ongkosnya jadi 120 bath. Murah tho.


Di sana saya nyobain manisan mangga dan es kopi buat melek. Sedap banget mangganya, kagak asem blas. Hihi.. namanya manisan yak. Yang beda, garamnya itu pakai gula dan cabe. jadi asinnya dikit, berasa gula dan kurang pedes. Harga mangga 20 bath, kopi 50 bath.


Udaranya harusnya sejuk sebab di dataran tinggi ya, tapi karena lagi panas terik ya ga kerasa sejuk. Di dalam templenya, tentu adem.


Masuk ke sini, wisatawan bayar 30 bath perorang. Hihi, karena muka kami mirip orang lokal, petugasnya sampai nanya: are you foreigner? well, kita ditegor karena kita masuk lewat pintu turis yang harus bayar. Duh .. tau gitu nyelonong aja kan ga usah bayar. Haha..becanda lho.


Lalu bersiap naik tangga yang .. hehe.. tinggi. Saya ngaso tiga kali. Tapi emang gatel banget ingin foto-foto. Sampai di atas kebayar deh capenya. 


Melihat kemegahan tempat ibadah ini dan kekhusukan para jamaah yang berdoa dan beribadah, rasanya merinding deh, ingin ikutan ibadah juga karena energinya positif. Ada yang terlihat mengelilingi kubah, seperti orang Islam kalau tawaf gitu. Yah, semua kepercayaan rasanya mirip-mirip dalam menjalankan ritual ibadahnya, tak lain untuk dekat dan raih kedamaian. 


Kemudian naik lagi, kami disuguhkan pemandangan kota Ciang Mai di bawahnya. Langit terlihat biru cerah dan tanpa polusi. Udara  bersih dan segar. Kece banget buat background foto. Hehe..


Warung Seafood


Di sini tentu yang istimewa adalah seafood. Kami pesan ikan tim, sayur kangkung dan saya tetep minum kelapa muda. Masakannya, alamaaakk enak banget. Padahal saya ga laper banget. Perut rasanya penuh, tapi mulut ga mau berhenti menikmati sedapnya masakan. Kudu coba deh. Uenak bangets. Ramah pula pemiliknya. Tempatnya di pinggir jalan gitu, terbuka dan memakai sedikit jalur pedestrian. Kamu bisa numpang ngecharge kok. Makan di sini total habis ya 480 bath. Ada toilet umum yang bayar 2 bath per orang, hihi.. masih seribu rupiah. Kita di jakarta kalau pipis udah dua rebu per orang. Hehe..


--


Segitu itu tuh cerita ChiangMai, meski sebenarnya masih banyak lagi yang mau diceritain karena banyak banget temple di dalam kota ini yang asik dinikmati dengan berjalan kaki keliling kota. Seru... seneng banget .. dan pengen kalo ada yang ajak lagi ke situ. Coba deh ke sana, asik dan menyenangkan banget.. tempat yang damai dan tenang. 


Ahhhh... saya tutup cerita dengan mengucap terima kasih, kapon Kaaaa... (sambil merapatkan kedua telapak tangan di depan dada, dan menundukkan kepala).. 

-Y-

Selasa, 29 Agustus 2017

Pain and Gain


There is an idiom says that no pain no gain. It seems so optimistic. The words telling us to keep going on something, until you realize that you already get what you want. There is a prize that you pay from your sacrifice, and you are not a victim of your own goal, you are what you do, and for sure that you will get what you want.

Despite all of those aspirations, have you ever though about other version of pain and gain meaning? Like example, a thought to answer these questions: do we know how much we will get after all the effort, how high we try, how hard we work, how big the result that we will get. Then can we get satiscation, or do we know what do we really need.

We all born unique, i mean we bring all the stuff differently from others. But we have to thankfull of what we are, no matter what. Right? 
Then we try our best to be a better person or to be a person who we expected or the worst is that we try the best to be a person that someone else expected. Yeah.. sounds silly.

We all not born in a good situation, good looking, nice place and a great wealth. Everybody knows it. 

I just want to say that not all pain is gain. It is just a pain without any gain. Just a pain, and we don't need to expect about gain. Just a pain. I know that a hope is an oxygen of life, but hoping too much will kill you. I mean not like a kill that make you die, but kill your logic and raise your misery. 

We only have to cope with the pain. That's it. How about gain? it is a bonus. Yeah, BUT you have to know, that there is no certainty in a bonus. 

Rabu, 10 Mei 2017

Menanggapi Lini Masa

Media sosial (medsos) memberi ruang kepada masyarakat untuk menuangkan apapun yang mereka inginkan menjadi konsumsi publik tanpa ada lagi sekat dan etika yang mampu meredam hasrat itu. Semua ditentukan oleh jemari yang lincah menuangkan kata-kata, menyebar gambar dan video untuk kepentingan masing-masing. 

Saat ini sedang ramai pembicaraan mengenai serentetan peristiwa yang terjadi di Ibukota. Respon yang datang tidak hanya tentunya dari warga Jakarta saja, tetapi siapapun dari berbagai daerah turut serta berpendapat dan menyuarakan pikirannya baik pro dan kontra. Riuh sekali. 

Saya sendiri punya pendapat tentang peristiwa itu yang ingin sekali saya suarakan secara lantang dan terus menerus. Rasanya, hanya sekali saya lakukan. Tetapi sesungguhya, manakala ingin mengetik status meski hanya untuk berekspresi atau mengomentari situasi yang terjadi, lalu saya berpikir begini: Pertama, jika saya mengetik, orang lain akan menilai saya cenderung ke-satu hal. Lalu orang lain jadi berubah melihat pribadi saya, meski mungkin hanya terjadi di dunia virtual. Namun, saya khawatir akan terjadi di dunia nyata. Kedua, kalau saya mengetik, saya nampaknya akan sama seperti yang lain. Tidak membuat suasana lebih baik, karena yang akan saya ketik hanya sekedar tumpukan opini yang tidak ada gunanya untuk mengubah apa yang ada. Sedangkan yang saya lakukan hanya memuaskan keinginan saya dan tujuan saya supaya dunia tahu apa yang ada dipikiran saya. Kemudian saya merasa menjadi tidak produktif. 

Alih-alih tak menulis status, saya lalu membaca status dan twit orang yang tanpa sadar saya telah mengikutinya terus hingga emosi ini naik dan turun selama bisa lebih dari sejam. Lho.. kok ndak produktif juga. Wah-wah.. lalu saya merasa suntuk.

Saya yakin, saya pasti tidak sendirian yang teler dengan linimasa di fb atau media sosial lainnya. Memang ini pasti akan berlalu, entah sampai kapan. Tapi sebaiknya saya tak peduli saja, dan harus move on dengan real life. Biar berbobot otak ini. Terus harus pintar nih memilih info mana yang baik untuk dibaca dan dicerna. 

Mengutip acara Panglima di Rossi, media massa menjadi rujukan premium buat saya. Jika mendapat broadcast medsos yang tidak jelas sumbernya, saya akan memberikan tautan media massa untuk mengklarifikasi kebenarannya. Karena medsos itu umumnya bersifat opini, dan bukan fakta seperti yang dapat disampaikan media massa. Yang saya ketahui, media massa memiliki kaidah jurnalistik untuk dapat menyampaikan suatu fakta. Begitulah secara sederhananya. 

-Y-

Sabtu, 01 April 2017

Perkawinan Tanpa Anak (Bagian III)

Saya pernah menulis tentang perkawinan tanpa anak dua tahun yang lalu (lihat blog sebelumnya). Saat ini, sudah hampir 10 tahun usia perkawinan, di rumah tangga kami tanpa anak.
Buahnya Tempelan . hihi..
Kali ini, saya menjadi tergelitik untuk menambahkan tulisan tentang perkawinan ini, karena belum lama ini saya mengalami sendiri sesuatu yang membuat saya tersenyum.

Begini Ceritanya

Di sebuah lift, saya masuk dan berdiri di pojok. Kemudian ada tiga orang wanita yang salah satunya membawa anak ikut juga masuk. Terakhir seorang wanita juga nimbrung untuk masuk ke dalam lift. Kemudian lift beranjak naik.

Percakapan pun berlangsung:
Salah satu dari tiga wanita itu menyapa wanita yang terakhir masuk: "Hai.. lagi isi ya?"
Wanita terakhir menjawab: "Ah.. enggak"
Salah satu dari tiga wanita itu mencoba menganulir:"Oh, kelihatan lagi isi. Udah berapa lama nikahnya?"
Wanita terakhir menjawab (dengan malas): "Enggak kok, ga isi. Dua tahun"
Salah satu dari tiga wanita itu meneruskan: "belum kali ya.. nanti juga isi"
Wanita terakhir menjawab: "Iya, belum aja"
Lift pun berhenti, wanita terakhir keluar dan berkata: "duluan ya"
Ketiga wanita itu menjawab: "iya"

Saya masih berada di pojok lift dan terdiam mendengar percakapan mereka, karena nampaknya lantai saya paling atas tujuannya dari mereka semua. 

Percakapan pun dilanjutkan:
Wanita A: "Kasihan ya.. belum punya anak." 
Wanita B: "Iya .. udah dua tahun ya."
Wanita C menimpali: "Iya . sama tuh sama si G dia udah tujuh tahun nikah belum punya anak. kasihan ya."
Wanita A: "Enggak kayak kita ya.. nikah langsung tokcer. hehe.." (sambil tertawa)
Wanita B: "Iya.. kita mah tokcer banget ya.. langsung jadi, haha.." (tertawa lepas)
Wanita C ikut tertawa mengamini.

Lalu mereka tiba pada lantai tujuan dan keluar lift. Di pojok, saat percakapan-percakapan itu terjadi, saya tidak sedang memainkan hp atau mencoba mencari-cari sesuatu di dalam tas saya hanya untuk sekedar terlihat sibuk. Tetapi secara tak sengaja, saya khidmat mendengarkan percakapan itu dengan tatapan sesekali ke papan digital lift sambil tersenyum dan tersenyum serta tersenyum. Dan ketika tinggal saya seorang diri yang berdiri dipojokkan sambil menanti tiba saatnya pintu lift membuka pada lantai tujuan saya, saya tetap mengulum senyum ... C'est la vie :)

-Y-

Senin, 27 Februari 2017

Sapa Hati


Malam ini, tonggeret tak terdengar
seolah tak mau mengerti
dan enggan menyapa
untung masih ada alunan musik yang mau menemani

Gundah ini tak kunjung padam, bahkan terlalu dalam 
mengetuk masalah jadi kian pilu
segala rasa seperti remuk
hancur tak berbentuk

Entah untuk apa semua ini terjadi
tanda tanya selalu menjadi akhir di setiap teori
kelihatannya dunia ini tak menyediakan titik
sebab manusia silih berganti menempati kefanaan

Memaknai waktu yang bergerak
senang, sedih, bahagia, kecewa, cinta, dan patah hati
berputar silih berganti menyelimuti ruang
sementara, bunga bersiap mekar menyambut lebah

Kalau kau sedih, ambillah buku itu
yang bisa buat kau tersenyum, atau malah ngantuk
atau kau makin bergeming
karena otakmu terus bergejolak, berkutat di liang hitam
berkerak, tapi mungkin bisa juga ketemu kilat cahaya yang menyejukkan

Saat kau bahagia, tak perlulah diurai kau harus apa
orang senantiasa lupa untuk merenung arti bahagia
inginnya terus hanyut dan tak dibangunkan
agar terus diarak mimpi, mereka takut oleh kesengsaraan
siapa juga yang senang berada di dalamnya?

-Y-

Kamis, 22 Desember 2016

Ibu

Ibu...
hatimu seputih salju
ringan bagai kapas yang lembut dan bersih
entah bagaimana bisa kau miliki jiwa yang suci
tak ada pernah kau coba buat kami susah
kau ringankan kami dengan ketulusan

kasih sayang tentu nomor satu
tak ada keraguan akan hal itu
sesuatu yang belum dapat aku tiru
menjura ku mengagumimu
seperti ku kagumi ayah

tabikku kepada Ibu dan Ayah

-Y-

Selasa, 06 Desember 2016

Liburan ke Arab - Wisata Religi Arab Saudi

Liburan kali ini, kami menyebutnya paket perjalanan umroh, di mana isinya adalah ibadah umroh (berkunjung) beserta rangkaian wisata religi untuk menapaktilasi perjuangan Rasulullah Nabi Muhammad SAW dalam memperjuangkan berdirinya ajaran Islam dan menyebarkannya di Mekah (Mecca) dan Madinah (Medina) di wilayah Kingdom of Saudi Arabia (KSA).

Untuk perjalanan kali ini, tentunya perempuan diwajibkan memakai jilbab. Karena Mekah dan Madinah adalah kota paling kosmopolitan bagi dunia muslim dan perlu diketahui bahwa warga non muslim dilarang memasuki kedua kota tersebut (tapi untuk Madinah hanya sebagian kota saja yang wajib Muslim). 

--


Perjalanan diawali dari mendaratnya pesawat kami di Jeddah (King Abdulaziz International Airport). Lalu kami ke Mekah selama 4 hari dan dilanjutkan ke Madinah selama 3 hari. Kami pulang melalui bandara Madinah (Prince Mohammad bin Abdulaziz Airport). Lama perjalanan dari Arab ke Jakarta sekitar 9 jam, dengan beda waktu antara Arab dan jakarta adalah 4 jam lebih cepat di Jakarta. 

City tour yang kami lakukan pada perjalanan wisata religi ini, sebagian besar hanya mendengarkan penjelasan dari pemandu wisatanya saja, sambil menunjukkan tempat-tempat yang monumental tanpa kami benar-benar turun menjelajahinya. Jadi sekedar parkir dan foto-foto sejenak saja. Namun, untuk beberapa tempat yang memungkinkan untuk dijelajahi ya.. tentu bisa dilakukan, meski sekedar untuk berfoto saja atau beribadah dan berdoa. Hal ini dikarenakan terbatasnya waktu (di mana lebih diprioritaskan untuk menikmati ritual beribadah dari pada jalan-jalan) dan tentu karena kondisi destinasi wisata religi yang tidak memungkin dapat dilakukan dalam waktu cepat dan oleh segala umur (karena kebanyak terdiri atas bukit dan gunung yang cukup menantang). 

Berikut ini pengalamannya:

1. Mekah
Mekah (Mecca atau Makkah) adalah kota di wilayah Hejaz, Arab Saudi. Kota ini terletak 70 km pedalaman dari Jeddah di sebuah lembah yang sempit. Di kota ini Nabi Muhammad lahir pada tahun 570 Masehi dan tempat diturunkannya wahyu pertama Quran pertama kali. Mekah dianggap sebagai kota paling suci di agama Islam dan tempat beribadah Haji dalam rangka kewajiban memenuhi Rukun Islam kelima.

Pada saat bulan Haji, jumlah pengunjung kota ini bisa tiga kali lipat dari populasi penduduknya. Total visitor yang ke Mekah setiap tahun mencapai 15 juta Muslim. Dengan demikian, banyak dibangun gedung-gedung untuk mendukung kebutuhan tersebut. Dan di kota ini, non muslim dilarang memasuki kota.

Pembangunan Gedung Baru dekat Majidil Haram, pakai LEED lho
Sepanjang perjalanan tur kota, saya merasa so excited dengan suguhan panorama kota yang sungguh berbeda dengan kota Jakarta (ya tentu saja karena Arab adalah negara subtropis, sedangkan Jakarta adalah negara tropis). Bentuk gedung dan rumah dan sebagian besar tidak tertata rapi, pemandangan gurun dan bukit yang terlihat gersang, pohon palem dan korma yang mendominasi jalan, serta cukup banyak pohon peneduh yaitu pohon Neem. Yang menarik dari pohon ini, konon katanya pohon Neem ini asal mulanya adalah pemberian presiden Soekarno pada saat beliau haji sekitar tahun 45-65an. Ditanam di padang Arafah karena beliau prihatin dengan gersangnya tempat itu. Kalo di kita pohon Neem disebut dengan Pohon Mimba. Tapi saya belum menemukan referensi resmi, sebab kebanyakan konfirmasi datangnya dari negara Indonesia. Di ulasan akademisi Arab sendiri (berbahasa Inggris) baru satu yang saya temui, hanya menyebutkan pohon itu diberikan oleh filantropis Arab. Mungkin di literatur berbahasa Arab bisa saya temui sejarahnya. Cumankan, saya ga bisa bahasa Arab, cuma tahu huruf Arab doang. Itu juga bukan Arab gundul ya.. Arab yang Quran. hehe... 


Mobil-mobil mewah mendominasi jalan, namun dari yang saya lihat, pada mobil mewah itu banyak sekali penyok-penyok.. hehe.. terkesan bahwa pengendara di kota ini begitu ceroboh. Tapi mereka akan hormat dan mendahulukan, mana kala pejalan kaki menyeberangi jalan. Dan tidak akan anda dapati mobil disopiri perempuan di wilayah ini, sebab wanita dilarang menyetir di Arab. Meski sedang diperjuangkan haknya saat ini, namun perjalanan perjuangan mendapatkan hak nyetir masih panjang. Sebab raja Arab tetap kekeuh perempuan dilarang nyetir di Arab!. Alasannya mah begitu deh.. budayanya belum mendukung. Hehe.. Untung hamba lahir dan tinggal di Jakarta. 


Mobilnya Bocel-bocel
Yang menarik itu lihat anak-anak sekolah Arab bubaran, yang perempuan itu ga pakai jilbab lho. Mereka akan pakai jilbab setelah akil balik.


Sekolah di Mekah


Selain itu, tentunya yang berkesan adalah saat mencoba kuliner di Arab. Kalau kari mah sudah pasti banyak tersedia. Porsinya jumbo semua. Kelihatannya budaya di sana kalau makan dilakukan bareng-bareng. Jadi kalau makan sendiri itu, buat saya ndak akan habis. Rasanya sih hampir mirip dengan kita ya. Cuma spagehiti aja yang diluar dugaan, hehe.. rasa topingnya waduh.. ga karuan karena pakai kacang apalah yang rasanya khas sana. hihi.. 

dari kiri atas ke kanan: Spageheti (di Madinah 25 riyal): kopi Turki (Madinah, 5), Martabak (Mekah, 5), kebab-isinya kentang,sayur plus seperti daging (Mekah, 5-10), Ayam bakar (Mekah, 35).
2. Kabah, Masjidil Haram


Masjidil Haram


Pilar Masjid Haram

Kabah adalah bangunan yang terletak di tengah masjid yang paling suci bagi umat Islam yaitu Masjidil Haram, di kota Mekah. Masjidl Haram sebagai tempat perlindungan Kabah. kabah dianggap ebagai Rumah Allah. Kabah disebut juga dengan kiblat, di mana seluruh umat Muslim akan menghadap ke arah Kabah pada saat sholat. 


Salah satu ritual Haji dan Umrah adalah tawaf, yaitu memutari Kabah sebanyak tujuh kali dengan arah melawan jarum jam. 

Kabah
Saya yakin, kebanyakan umat Muslim akan setuju dengan saya jika dikatakan bahwa saat menghadap dan memandang Kabah, kita akan merasakan haru, bahagia, penuh rahmat, penuh kasih sayang dan merasakan damai. Betapa tidak? selama ini saya sebagai umat Islam yang berada jauh dari pusat sejarah berdirinya Islam, hanya sering mendengar, membaca dan melihat dari media dan gambar sajadah tentang bagaimana dan apa itu Kabah sebagai Kiblat. Selama 35 tahun menjadi Muslim, saat akhirnya menginjakkan kaki di tempat asal usul agama yang saya anut dan yakini selama ini, kemudian dapat sujud di teras Masjidil Haram yang dingin dan mencium Hajar Aswat.. serasa lengkap sudah hidup saya saat itu.

Pertama kali melihat Kabah secara langsung, saya sangat terkesima, dan perasaan senang bercampur aduk. Takjub dengan pengalaman yang dirasakan. Dan perasaan ini terus menerus dirasakan selama berada di Mekah. Ingin selalu kembali memandangnya, menghadapnya. Ditambah dengan energi dari para Jamaah lain yang beraneka rupa. Saya merasa begitu kayanya batin ini karena bisa menyaksikan dan mengalami perjalanan rohani yang begitu menentramkan.



Fasilitas Pendukung (tempat wudhu, air zam-zam dan drinking water)
Perasaan itu bisa saja terjadi karena selama Umroh, saya sudah melepaskan segala pikiran pekerjaan dan tetek bengeknya di Jakarta saja, dan kebetulan internet berjalan mengandalkan wi-fi hotel saja, supaya tetap fokus. Sehingga yang tersisa adalah keikhlasan menjalan ritual ibadah dengan tenang dan tanpa obsesi. Semua berjalan begitu nikmat dan syahdu. Namun tetap, foto untuk mengabadikan moment yang menyenangkan tetap dilakukan, untuk sekedar membangkitkan memori yang manis saat tua nanti. hehe..

3. Jabal Nur (Jabaal an-Nour) - Gua Hira
Gunung ini terletak sekitar 12 km sebelah utara kota Mekah dengan tinggi 640 m. Tempat ini adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi karena mengandung sentimental terhadap kejadian yang telah menimpa Rasul. Pada tahun 610 M adalah saat Rasul mendapatkan Wahyu Pertama, ketika sedang melakukan tahannuth (beribadat dan menjauhi dosa; mendekatkan diri kepada Tuhan). 


Jabal Nur
Pada masa itu sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab bahwa golongan berpikir selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan bertapa dan berdoa, mengharapkan rezeki dan pengetahuan. Pengasingan untuk beribadat ini mereka namakan tahannuf dan tahannuth.

Gua Hira adalah tempat yang baik sekali buat tempat menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadhan tiap tahun Rasul pergi ke sana dan berdiam di tempat itu, cukup hanya dengan bekal sedikit yang dibawanya. Rasul bertekun dalam renungan dan ibadat, jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Rasul mencari Kebenaran, dan hanya kebernaran semata.



Tatkala Rasul sedang dalam keadaan tidur dalam gua itu, ketika itulah datang Malaikat Jibril membawa sehelai lembaran seraya berkata kepada Rasul "Bacalah!". Dengan terkejut Rasul menjawab: "Saya tidak dapat membaca." Kemudian Malaikat berkata lagi "Bacalah!". Masih dalam ketakutan, Rasul menjawab "Apa yang akan saya baca?". Seterusnya Malaikat itu berkata: 


"Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya..." (Quran, 96:1-5). 


Lalu Rasul mengucapkan bacaan itu. Malaikat pun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya.

--
Sebab itulah gunung ini disebut juga dengan Mountain of Light, di mana Nur artinya terang, cahaya. Hal ini karena di tempat ini adalah Rasul menerima pencerahan atau tersingkap terang bagi pikiran untuk pertama kalinya menerima wahyu. 

4. Jabal Tsur (Jabal Thawr) - Gua Tsur

Gunung ini terletak sekitar 6 km di sebelah selatan Masjidil Haram (Mekah). Tinggi gunung sekitar 1.405 m, di mana pada puncak gunung terdapat Gua Tsur, tempat persembunyian Nabi dan Abu Bakar selama tiga hari dari kejaran pihak Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan khalifah kedua (622 M), saat Nabi hendak berhijrah dari Mekah ke Madinah untuk mencari tempat penyebaran Islam yang lebih kondusif.


Jabal Tsur
Rasul dan Abu Bakar tinggal dalam gua selama tiga hari. Sementara itu, pihak Quraisy berusaha sungguh-sungguh mencari mereka tanpa mengenal lelah. Mereka melihat bahaya sangat mengancam mereka kalau mereka tidak berhasil menyusul Nabi dan mencegahnya berhubungan dengan pihak Yathrib (Madinah). Namun, orang Quraisy tidak dapat menemukan Nabi dan Abu Bakar di dalam gua karena mereka berpikir tidak mungkin ada jalan masuk orang untuk masuk ke dalam gua. Sebab mereka melihat sarang laba-laba dan dua ekor burung dara hutan di lubang gua, serta ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua. Inilah mukjizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah Nabi mengenai masalah persembunyian dalam gua Tsur itu. 

Ini adalah kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya. Sayangnya saya hanya bisa melihat gunung dari dalam bis. Menurut bacaan, perlu waktu sekitar 1.5 jam jalan kaki menuju Gua Tsur dengan medan yang menanjak. Jika ada waktu dan tenaga, sila mencoba lho.


5. Madinah, Masjid Nabawi
Masjid Nabawi


Masjid Nabawi adalah masjid yang didirikan secara langsung oleh Nabi pada tahun 622 M, yang terletak di pusat kota Madinah, Arab Saudi. Di masjid ini terdapat tempat peristirahatan terakhir Nabi Muhammad beserta Khalifah Rasyidin Abu Bakar dan umar bin Khattab. Salah satu fitur terkenal Masjid Nabawi adalah Kubah Hijau yang berada di tenggara masjid, yang dulunya merupakan rumah Aisyah (salah satu istri Nabi), di mana kuburan Nabi Muhammad berada. Masjid ini mengalami renovasi dan perluas berkali-kali sehingga menjadi bentuk sekarang ini yang begitu megah dan kokoh. 

6. Jabal Uhud
Jabal Uhud
Jabal Uhud terletak sekitar 5 km dari Masjid Nabawi, Madinah. Pada tahun 625 M, 3000 prajurit Mekah (kaum Quraisy) di bawah pimpinan Abu Sufyan bergerak ke Madinah, dan memutuskan berperang di dekat Uhud melawan 700 tentara Muslim yang dipimpin langsung oleh Rasulullah di kota Madinah. 


Pada mulanya, pihak Quraisy terdesak dalam pertempuran. Tetapi, pasukan pemanah Muslim yang ditempatkan di atas bukit untuk melindungi balatentara Muslim lainnya, meninggalkan posisi strategis mereka dan terjun ke kancah pertempuran karena kawatir tidak akan diperhitungkan dalam pembagian rampasan perang. Akhirnya, keadaan berbalik secara drastis, pasukan Muslim diporakporandakan bala tentara Quraisy. Pos di atas bukit direbut oleh kaum Quraisy dan pasukan muslim yang tersisa di sana dibunuh, termasuk Hamzah paman Rasulullah. 


7. Arafah dan Mina
Gunung Arafah
Tempat ini adalah bagian dari ritual Haji. Arafah terletak 20 km dari tenggara kota Mekah. Pada saat 9 Dzulhijah, para jamaah akan pergi ke Arafat dari Mina untuk melakukan wukuf (menghabiskan waktu sepanjang hari untuk memohon kepada Allah memaafkan dosanya dan berdoa untuk kekuatan pribadinya di masa mendatang). Pada saat Umroh, tidak melakukan wukuf.


Tenda untuk bermalam di Mina
8. Jabal Rahmah (Jabbal ar-Rahmah)
Jabal artinya gunung atau bukit, sedangkan rahmah artinya kasih sayang. Tempat ini adalah simbol romantisme dari pertemuan Adam dan Hawa untuk pertama kalinya di bumi. Makanya di tempat ini, para pengunjung akan berlomba-lomba menuliskan pakai pulpen atau spidol di batu-batu dan ditugu berisi namanya dan nama (calon) pasangannya agar terkabul menjadi pasangan dan menjadi jodoh yang penuh rahmah. Hehe.. saya melihatnya seperti vandalisme.. tapi ya sutralala.. begitulah kebiasaan (buruk) nya. Banyak juga yang berdoa dan sholat di puncak bukit serta sudah pasti mengucap syukur.


Tugu Jabal Rahmah
Tinggi gunung ini 70 meter berupa bukit batu yang cukup pegal buat lansia, di mana letaknya dekat dengan Arafah (tenggara kota Mekah). Menurut tradisi Islam, bukit ini adalah tempat Nabi Muhammad berdiri dan menyampaikan khotbah perpisahan kepada umat Muslim yang telah menemaninya haji pada saat menjelang akhir hidupnya (10 Hijriah/631-632 Masehi). Membuat kita terharu bukan... 
Jabal Rahmah dan Es Krim
Setelah berpanas ria, dan selesai menghayati bagian dari sejarah Islam, enaknya makan es krim. Harganya 5 riyal per cup (1 riyal sekitar Rp.3.800), dan sungguh menyegarkaaaann...
9. Mata Air Zubaidah
Saluran Zubaidah
Zubaidah binti Ja'Far ibn Mansur paling dikenal dari para ratu Abasiyah, meninggal pada tahun 831 M. Pencapaian tertingginya adalah perencanaan dan eksekusi proyek jalan dari Baghdad ke Mekah. Sebelumnya sudah terdapat saluram, tapi beliau melihat banyak peziarah atau jamaah yang sekarat karena kehausan dan kehilangan arah karena padang pasir dan badai pasir. Untuk mengatasi masalah tersebut, beliau merencanakan dan membangun rute yang baik dengan dinding yang dibangun dan naungan untuk melindungi traveler dari kondisi cuaca yang buruk. Struktur bangunan sangat kuat dan dapat bertahan kuat dan utuh selama beberapa abad.

Pada saat ziarah ke Mekah yang kelima, beliau melihat bahwa kekeringan telah menghancurkan dan mengurangi sumur Zamzam. Beliau memerintahkan agar sumur diperdalam dan menghabiskan 2 juta dinar (setara dengan 5.950 kg emas murni atau miliaran dolar) untuk dapat meningkatkan pasokan air dari Mekah dan provinsi sekitarnya. Dengan demikian dikenal dengan Mata Air Zubaidah. 


Letak saluran ini berada di bukit-bukit dekat Mina dan Arafah. Saya tidak jelas melihat salurannya karena hanya ditunjukan oleh pemandu wisata dari dalam bis. Jadi gambarnya saya ambil dari sini

10. Masjid Terapung (Floating Mosque)
Terletak di garis pantai laut merah Jeddah. Sebenarnya tidak dibangun terapung, tetapi bangunan ini dibangun di pinggir pantai dan pemancang beton ditanam menembus dataran pada pantai untuk menopangnya, jadi terlihat seperti terapung.


Masjid Terapung
Dahulu kala, masjid ini namanya adalah Masjid Fatimah. Namun tidak ada kaitannya dengan Fatimah putri bungsu Rasul dengan Siti Khadijah, sehingga untuk menghindari persepsi dan perilaku jamaah yang mengkultuskan masjid ini seperti sama halnya dengan Kabah, maka diganti namanya menjadi Masjid Terapung. Jadi masjid ini tidak ada istimewanya, sama halnya dengan masjid-masjid lain sebagai tempat ibadah. 
Pemandangan dari Masjid Terapung
Cuma tetap saja istimewa buat saya, sebab di tempat ini disuguhkan pemandangan dan aroma laut yang menenangkan. Anginnya menghembus cukup kencang... gamis dan selendang terhempas ria dengan gembira. Masjidnya pun indah. Cukup sepi karena jauh dari pusat keramaian. Pendatang yang singgah ya biasanya para jamaah umroh.

Di sana ada pedagang menjajakan buah delima dan angggur, salah dua yang jualan berasal dari Madura. Hehe.. lancarlah perniagaan. Enak bisa berbagi cerita.



11. Pasar Kurma (Medina Date Market)
Di sini beragam macam kurma ada. Di jual kiloan. Yang nyerbu belanja ya banyak orang Indonesia.. yang jual juga. hehe.. Boleh nyobain sepuasnya (asal ga malu). Mau sampai kenyang nyicipin doang tapi enggak beli juga bisa. hehe.. katanya sih murah. Tapi yang jelas, memang jenis kurma yang ditawarkan ada banyak. Saya sih sukanya kurma yang sudah pasti manis, enggak terlalu basah (agak kering) supaya enggak lengket, dan ergonomis untuk masuk ke dalam tas koper biar ndak ribet. Harganya perkilo bervariasi, saya dapat kurma madu dengan 80.000 rupiah/kilo (bayar tetap pakai riyal). 

----

Demikian di atas cerita yang saya kulik dari berbagai referensi untuk tempat-tempat yang saya kunjungi dan atau sekedar saya lihat dari jauh. Salam..

-Y-


* M. Husain Haekal. 1992. Sejarah Hidup Muhammad. Litera Antar Nusa. 

Menjadi Dewasa

Buat saya,  dewasa itu berarti mampu menahan perkataan yang tidak perlu ada argumen dari isu yang tak penting, ini satu hal isu tak penting ...